
.
.
.
Anna dan Nana terlihat sangat serius melihat rekaman CCTV hingga tidak sadar ponsel Anna bergetar,
"angkat saja sayang, kakak rasa suamimu sudah pulang". pinta Nana.
Anna melihat jam tangannya pun terperangah, "udah jam 11 aja".
Nana menganggukkan kepala, Anna segera mengangkat panggilan Adi dan melangkah menjauhi Nana supaya tidak mengganggu pekerjaan sang kakak, Nana kembali fokus melihat rekaman CCTV.
"iya By?". sapa Anna setelah meletakkan ponselnya di telinganya.
"sayaangg? kamu dimana? aku sejak tadi menghubungimu kenapa tidak diangkat?". tanya Adi dengan khawatir.
"aku sedang di Mansion Kak Nana By, kamu mau kesini?". tanya Anna.
"baiklah, jangan kemana-mana ya?". pinta Adi serius.
"iya By". sahut Anna patuh.
Anna mematikan ponselnya lalu kembali ke Nana untuk melihat lagi cctv yang sedang dicari tau.
"yessss...!". pekik Nana seketika.
"kenapa kak? udah dapat?". tanya Anna berbinar penuh harap.
Nana mengangguk lalu memperlihatkan cctv yang Ia dapatkan saat ada anak yang tertangkap berhasil menarik masker dan topi si penjahat, Nana bisa menzoom foto orang itu tanpa di blur.
"lancarkan aksi kak". pekik Anna gembira.
Nana mengangguk, "tenang ya? ini masih salah satu buronan saja, nanti pasti polisi bertindak mencari markas besarnya". kata Nana dengan senyuman.
"iya kak". jawab Anna dengan ceria.
Nana meregangkan jemari tangannya lalu seperti biasa Ia menghack semua ponsel setiap warga +628 yang ada di Indonesia, Ia membuat Foto itu sebagai buronan orang jahat penculikan anak.
"enter". tawa bahagia Nana.
perjuangan mereka berjam-jam melihat cctv tidak sia-sia, Nana dan Anna saling berpelukan heboh.
"akhirnya kita bisa membuka jalan penangkapan mereka kak". pekik Anna gembira.
"iya sayang, setelah ini mereka pasti tidak akan berani bertindak karna kakak sudah mengunci pergerakan mereka". jawab Nana dengan senang juga.
__ADS_1
Anna melepaskan pelukannya dari Nana, mereka tertawa senang saling berpegangan satu sama lain.
"kakak sangat menakjubkan". puji Anna dengan bahagia.
"kamu juga sayang". Nana juga memuji Anna dengan senyuman.
"aku sayang banget sama kakak". Anna memeluk Nana yang tertawa lepas dengan tingkah manja Anna padahal sudah punya anak.
.
di tempat lain,
Adi menepikan mobilnya dan melihat ponselnya berbunyi dan ada foto buronan penculik anak, "woow..! Kak Nana bergerak cepat". gumam Adi.
Adi tidak heran lagi dengan peringatan itu, Ia sudah tau kalau Nana seorang peretas hebat dan menurun ke anak-anaknya Nana dan Arka, awalnya Adi kaget dan tak percaya tapi seiring berjalannya waktu akhirnya percaya juga.
"oh.. ini penculiknya papa?". tanya Fauzi dengan polos.
"iya son, kalian harus berhati-hati dengan orang tidak dikenal ya?". peringatan Adi.
"iya papa". jawab Fauzan, Fauzi dan Fiona yang ternyata juga ikut dengan Adi ke Mansion Arkatama.
Triple kembar melihat dengan serius gambar itu, hanya durasi 10 menit tapi hal kecil dan terlihat spele itu adalah bantuan terbesar Nana untuk para penegak keadilan.
.
para ibu-ibu dan bapak-bapak +628 sudah menyiapkan senjata andalan masing-masing seperti sapu, cangkul, pisau ikan, pisau daging dan banyak lagi untuk menghabisi si pelaku penculikan anak-anak.
markas besar penjahat itu pasti sedang ketar-ketir saat ini, mereka bersembunyi menunggu waktu yang panjang sampai masalah reda, padahal saat ini semua pekerja agen swasta, polisi, jaksa perlindungan anak dibawah umur dan peretas hebat pun turun tangan sudah pasti masalah itu tidak akan berhenti sampai kasus berhasil ditangani. pelaku akan dikenai pasal berlapis, belum lagi terkena amukan massa.
.
kini Fiona tengah bermain dengan Marcel dan Maycelly yang baru pulang dari SD, baru berumur 5 tahunan sudah masuk Sekolah Dasar sama seperti Ren dan Rose dulu.
"kak May cantik dan imut cekali sih". gemas Fiona yang menilai Maycelly sangat cantik dan imut.
sebenarnya mereka semua punya kecantikan diatas rata-rata standar anak-anak, bisa dikatakan mereka sudah kelewat cantik dan imut jika dinilai dengan standar kecantikan anak-anak.
Maycelly tersenyum lebar, "Fiona juga cantik dan imut". puji May yang tidak lagi terlalu cadel.
mereka terlalu asik bermain sampai Ren dan Rose pulang sekitar jam 1 siang.
"Kakaaakkk". Fiona berlari ke arah Rose dan memeluk Rose yang telah tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik dan super imut.
"Fiona? kamu disini ya? pantesan kakak lihat ada mobil papamu didepan". tawa Rose membalas pelukan sang adik yang masih kecil dimatanya.
Fiona menoleh ke Ren yang memasang wajah datarnya, Ren berjalan melewati Fiona tapi tangan kirinya mengelus kepala Fiona untuk menyapa gadis kecil menggemaskan itu.
__ADS_1
Fiona menyeringai senang dengan sapaan Ren, Itu sudah lebih baik dari pada diabaikan sebab mereka sudah tau Ren tidak banyak bicara dan tidak tau cara bersikap manis. Rose mendengus saja melihat tingkah sok angkuh kakak kembarnya itu padahal memang angkuh dan arogan.
.
.
malam hari, di Mansion Anna,
"kenapa sayang?". tanya Adi melihat Anna sibuk melihat berita di TV.
"oh.. tidak By, aku melihat berita penculikan anak lagi tidak ada, aku rasa mereka belum berani keluar dari markasnya". jawab Anna.
"sebaik-baiknya mereka menyimpan bangkai pasti akan tercium juga bau nya, percayalah mereka pasti akan keluar walau harus membeli minuman". kata Adi sambil duduk disamping Anna.
Anna mengangguk lalu bersandar di bahu Adi sambil menonton berita yang tidak ada lagi menampilkan tentang kasus penculikan anak melainkan laporan anak hilang saja, saat Nana (peretas) turun tangan semua pejabat yang melindungi pasal perlindungan anak pun bergerak cepat.
"apa anak-anak yang mereka culik sudah diperjual belikan By?". tanya Anna penasaran.
"aku yakin komplotan penjahat itu pasti mengurung mereka". jawab Adi.
"semoga mereka baik-baik saja, tapi dimana penjahat itu bersembunyi ya?". gumam Anna.
"mungkin di tempat yang aman di tempat terpencil". jawab Adi.
"apa polisi dan pekerja agen swasta sudah bergerak ke pemukiman terpencil?". tanya Anna serius.
"sudah sayang, tapi belum ada tanda-tanda penjahat itu ditemukan". jawab Adi menghela nafas.
"mereka sangat pandai bersembunyi". gerutu Anna.
"apa tidak ada cara menemukan mereka lebih cepat?". tanya Anna dengan kesal.
"tidak ada sayang, kecuali ada alat pelacak melekat pada anak-anak yang hilang". jawab Adi santai sambil fokus memainkan Ipednya melihat pemasukan Mal ANA yang omsetnya makin besar saja.
"hahh? iya juga". pekik Anna duduk seketika.
"apa sayang?". tanya Adi pun kaget tidak sadar ucapannya menjadi ide tersendiri bagi Anna.
"aku yakin salah satu dari anak-anak yang hilang pasti punya senjata keamanan dari orangtua masing-masing". Anna.
Adi mengerutkan keningnya, "maksudnya sayang?". tanya Adi tidak mengerti.
.
.
.
__ADS_1