
.
.
.
ke esokan harinya,
"mau kemana sayang? ". tanya Adi melihat Anna berpakaian serba hitam.
"aku mau melihat Om Roben dan Tante Besta, hari ini mereka di makamkan, hmmm? aku boleh kesana kan?". tanya Anna dengan hati-hati ke Adi.
"apa kamu tidak punya pasien sayang?". tanya Adi.
"ada..! aku sudah tukar shift dengan 2 dokter bedah lain ditempat kerjaku, mereka juga dokter hebat dan bisa diandalkan". jawab Anna perlahan mendekati Adi dan memegang kedua tangan Adi.
"sayaaang? kenapa kamu baik pada orang seperti mereka?". tanya Adi dengan lembut mengelus pipi Anna.
"aku bukan orang baik Adi tapi aku sedikit lebih baik dari mereka". jawab Anna tersenyum hangat.
Adi menghela nafas panjang lalu menuruti permintaan Anna, Ia terpaksa menunda rapat di Perusahaan Asia Group dan menemani Anna ke Rumah sederhana tempat tinggal Roben dan Besta.
tidak banyak orang yang hadir disana sebab semasa hidup Roben dan Besta tidak pernah bertetangga, sombong, angkuh, saat ini hanya orang-orang baik saja yang masih membantu pemakaman Roben dan Besta.
Anna di kawal oleh 4 Pria berbadan besar saat turun dari mobil, Adi turun dari mobilnya lalu berlari kecil ke Anna langsung merangkul bahu Anna dengan wajah datarnya, kedatangan Anna menjadi pusat perhatian.
setibanya di dalam ruangan tempat Roben dan Besta di tutup kain putih.
"Nona mau lihat?". tanya salah satu tetangga Roben dan Besta dengan hati-hati pada Anna.
Adi melihat ke arah Anna saat Istrinya itu malah mengangguk setuju padahal semasa hidup Besta dan Roben tidak pernah baik sedikitpun pada Anna kalaupun ada hanya berpura-pura saja.
Anna berjalan mendekati jasad Roben dan Besta, Ia membekap mulutnya dengan mata melotot kaget melihat keadaan tubuh sepasang suami-istri itu.
"O.. Om.. T.. Tante? ". cicit Anna merasa miris melihat keadaan keluarga nya itu walau jahat tapi Anna tidak punya dendam apapun pada mereka berdua.
orang yang ada disekitar jasad Roben dan Besta yang mengenaskan malah membuang muka, tubuh pasangan itu mengeluarkan aroma busuk.
"Mamaaa....? Papaaaaa?? ". jerit seorang wanita yang kedua tangannya di borgol berlari memasuki Rumah Roben dan Besta.
wanita itu adalah Nian dikawal oleh 6 Polisi yang memberi waktu pada Nian mengantarkan jasad kedua orangtuanya sampai ke peristirahatan terakhir.
__ADS_1
Adi menarik pinggang Anna dan menjauhkan Anna dari jasad kedua orang jahat itu, tidak ada raut wajah kasihan di paras wajah tampan Adi kini.
"kalian sendiri yang meminta ini". batin Adi dengan datar.
Anna memeluk Adi dan menangis dipelukan Adi, Adi mengelus-ngelus lembut kepala Anna.
"walaupun Om dan Tante jahat dan kebaikan mereka hanya topeng saja tapi aku senang mereka menyayangiku Adi, iya walaupun aku tau semua itu hanya bohong.. hiks.. hiks". isak Anna dipelukan Adi.
"kita tidak bersalah sayang..! mereka yang mengalami kecelakaan itu, entah apa yang mereka lakukan dengan mengikuti kita malam itu". bisik Adi berusaha menenangkan Anna dengan mencium lembut puncak kepala Anna.
Anna melihat ke arah Nian yang menangis dan menjerit memanggil kedua orangtuanya,
.
.
di Pemakaman,
Nian menangis terisak-isak lalu memutar kepalanya melihat Anna yang dipeluk mesra oleh Adi, matanya yang bengkak dan memerah semakin geram dengan pemandangan itu.
tidak ada lagi orang ditempat itu selain Nian, Adi, Anna, Polisi dan pengawal Anna.
"ini semua karnamuuu.??". teriak Nian tiba-tiba berlari ke arah Anna dengan langkah terseok-seok.
"aaah...??". jerit Nian histeris terlihat menyedihkan.
"dia pembawa siaalll...! kenapa anda baik padanya Tuannn?? dia pembawa sial.. dia yang membuat kedua orangtuanya meninggal dunia sekarang dia membuat kedua orangtuaku meninggal..! dia pembawa siallll". Nian memekik sampai wajahnya merah dengan marah serta penuh dendam ke Anna.
Anna menangis dipelukan Adi,
"Annaku bukan pembawa sial..! kau seharusnya sadar apa saja kesalahan kedua orangtuamu itu, berani sekali kau menyalahkan Istriku karna keserakahan kalian sendiri". marah Adi menggelegar.
"Pak..! bawa wanita busuk dan tidak tau diri ini ke penjara". titah Adi.
"baik Tuan". jawab para polisi lalu membawa paksa Nian.
Nian menjerit dan memaki Anna yang pembawa sial juga mengatakan bahwa Adi juga akan terkena sial jika bersama dengan Anna.
Adi menggeram marah, "seharusnya wanita itu mati saja didalam penjara". batin Adi dengan mata merah begitu nyalang.
tubuh Anna bergetar-getar di pelukan Adi, Ia menangis karna hatinya seperti dicambuk dikatakan pembawa sial terlebih lagi Nian mengungkit kedua orangtuanya.
__ADS_1
"sayang.?". Adi melepaskan pelukannya dengan Anna lalu menangkup kedua pipi Anna.
"A.. adi..? hiks.. hiks.. a.. aku pembawa sial? apa aku yang membuat Om dan Tante meninggal? ". Anna berkaca-kaca dan tatapan Anna membuat hati Adi teremas kuat.
Adi memeluk Anna dengan erat, "tidak sayang..! kamu tidak seperti itu".
"hiks.. hiks.. apa yang Nian katakan memang benar, aku tidak marah kalau kamu meninggalkanku Adi, kalau kamu ingin tetap hidup dan tidak terkena kesialanku pergilah sejauh mungkin.. hiks.. hiks". Anna menangis sambil menundukkan wajahnya.
Adi mengangkat dagu lancip Anna untuk menatapnya lalu jari telunjuknya menutup bibir Anna dan menggeleng kepalanya, "aku sudah bilang kan kalau aku tidak akan melepaskanmu walau kamu bosan dan membenciku, aku tidak akan pergi selangkahpun darimu".
Adi terlihat khawatir melihat wajah Anna yang semakin pucat, dengan cepat Adi menggendong Anna membawa Anna pergi dari pemakaman itu dan benar saja setelah itu Anna pingsan dipelukan Adi.
pengawal bayangan Anna terlihat khawatir tapi hanya bisa berlari mengikuti Adi yang lebih pucat dari wajah Anna yang sedang tak sadarkan diri.
.
"Adii?? Anna kenapaaa? ". Caca berlari mengejar Adi yang tiba di Rumah Sakit Caca yang paling dekat dengan tempat pemakaman Roben dan Besta.
"wanita jal*ng itu memaki Anna di pemakaman". jawab Adi meletakkan tubuh Anna di atas brankar.
"wanita jal*ng siapa? ". tanya Caca sambil mengambil beberapa alat dengan terburu-buru untuk memeriksa keadaan Anna.
"siapa lagi? anak orang serakah itu, dia bebas sehari dari penjara untuk melihat pemakaman orangtuanya tapi malah beraninya dia marah-marah bilang Anna lah penyebab kematian orangtua tidak tau dirinya itu, aku ingin mencekiknya sampai mati". geram Adi dengan marah.
Caca yang mendengarnya pun menyumpah serapahi Nian yang seharusnya juga mati didalam penjara, manusia tidak tau diri seperti mereka memang pantas mati.
"orang seperti mereka tidak akan sadar diri walau sampai mati sekalipun masih bisa menyalahkan orang lain". Caca marah-marah dalam hati saat ia bolak-balik memeriksa keadaan Anna.
di luar Ruangan pemeriksaan Anna.
Adi memerintahkan pengawal bayangan Anna untuk pulang dan berganti shif dengan yang lain, mereka menuruti Adi dengan patuh.
"tunggu...! ". Adi
"iya Tuan". sahut semua pengawal Anna.
"kalian jangan beritau Kakek Leonard, biar aku yang menyampaikan semuanya pada nya". pinta Adi serius.
"baik Tuan". jawab mereka serentak.
.
__ADS_1
.
.