
.
.
.
"apa yang kau lakukan? ". tanya Caca menarik Rose dan berdiri didepan Rose melindungi bocah menggemaskan itu dari Radit.
"heii..? aku hanya berkenalan dengan gadis itu, apa kamu Ibunya? ". tanya Radit dengan raut wajah menyebalkannya mendekati Caca lalu memindahkan Caca sehingga gadis kecil yang disembunyikan oleh Caca tadi terlihat.
Rose mengerjabkan matanya dengan polos, Radit menoel-noel pipi Rose yang terlihat gembul dan lucu.
Caca tertawa tak percaya dirinya akan diperlakukan seperti itu, Ia menatap tajam Radit.
"kau sedang menepisku? ". tanya Caca dengan datar.
"maaf Nona Caca, saya hanya meminggirkan halangan yang menutupi bunga seindah ini". jawab Radit lalu mencium pipi Rose.
"kamu wangi sekali Rose". Radit menyukai aroma tubuh Rose.
Rose menyeringai lebar, "bunga mawar kan? ".
"kamu saja tau dirimu sangat wangi". Radit menggendong Rose dan Caca menahan lengan Radit.
"kau bawa kemana adikku? kau mau menculiknya ya? tidak akan aku biarkan". tatap tajam Caca.
Radit menepis tangan Caca sambil tersenyum, "menculiknya sama saja mencari mati, kau fikir aku tidak waras? ".
"ayo sayang, disana banyak makanan enak tadi Abang udah makan disana". Radit langsung jatuh hati pada gadis kecil yang ia gendong kini.
bukan jatuh cinta melainkan langsung sayang saja dengan Rose yang menggemaskan juga memanggilnya abang dan bertingkah lucu.
Caca melototkan matanya, Ia tidak terima menahan lengan Rose.
"sama kakak ya sayang? jangan sama orang asing". bujuk Caca dengan memelas ke Rose.
"tenang saja Kakak, Rose bisa jaga diri". jawaban Rose membuat Radit tertawa dan memuji Rose gadis yang pintar sementara Caca menjatuhkan rahangnya karna Rose memilih dengan Radit yang baru dekat dibanding Caca yang lama kenal.
Caca mengepalkan tangannya dengan geram, alhasil Ia mengekori kemana Radit membawa Rose, tangannya Caca menggenggam tangan kecil Rose sedangkan tangan Rose yang lain melingkar dileher Radit.
mereka bertiga seperti keluarga kecil yang sedang bahagia, Caca adalah Istri nya Radit sementara Rose adalah putri mereka.
.
Nana mengedarkan pandangannya mencari sang Putri kecil.
__ADS_1
"dimana anakku sayang? kamu harus cari". desak Nana.
"iya sayang.. aku lagi nyari, kita cari Ren dulu ya? ". Arka juga keliatan panik tidak melihat kedua anak kembarnya yang suka berjalan berdua,
terakhir tadi Arka melihat Rose dikawal oleh Elvin dan Ren tapi sekarang El malah menyuapi Mommynya makan dan Ren juga tidak terlihat olehnya ditengah ramainya acara pesta pernikahan Sekar dengan Reyhan.
Dewi datang menggandeng tangan Ren, "ini Ren sayang, tapi Mama tidak melihat Rose".
Arka lega melihat Ren lalu mengedarkan pandangannya memang tidak melihat Rose.
Nana menundukkan tubuhnya karna Ia tidak bisa berjongkok lagi perutnya sudah kian membesar yang mengandung anak kembar lagi.
"sayang..? dimana Rose sayang? kamu tau dimana Rose? ". tanya Nana dengan lembut ke Ren.
"tadi sama Kak Caca Mom". jawab Ren dengan gaulnya memanggil Nana juga Mommy.
"Kak Caca?". beo Nana dan Arka.
"dimana kak Caca nya son? ". tanya Arka mengelus kepala Ren.
"disana! ". tunjuk Ren yang sejak tadi memang santai dan tidak peduli tapi matanya selalu memperhatikan adik kembarnya.
Dewi, Arka dan Nana melihat ke arah tunjuk Ren, mereka kaget Rose digendong oleh Radit yaitu Asisten Adi yang juga di undang di acara bahagia Sekar karna bagian dari Anna dan Atasannya juga.
"kalian kesanalah, biar Ren sama Mama". kata Dewi
Arka merangkul Nana membawa Istrinya dengan langkah hati-hati, Ia juga sopan meminta tamu undangan untuk memberi jalan pada Istrinya yang sedang hamil.
Nana tidak marah ataupun malu karna suaminya itu memang selalu memastikan Nana tidak terjebak di tengah ramainya manusia, apalagi Arka takut ada orang yang tidak sengaja menyenggol perut Nana atau mendorong Nana.
setibanya mereka didekat Radit yang menggendong Rose serta Caca yang menggandeng tangan Rose, mereka berdua hanya mengamati hal langka itu.
"kakak? Rose mau makan, bisakah dilepaskan tangan Rose? ". tanya Rose dengan polos ke Caca.
"tangan yang itu saja sayang". tunjuk Caca dengan santai karna Ia enggan melepaskan tangannya.
"heii ? kenapa kau mengajari anak kecil menggemaskan ini makan dengan tangan Kiri hah? kau memegang tangan kanannya". omel Radit.
"diam saja kau, lepaskan adikku". titah Caca dengan mata melotot.
Rose menatap Radit dan Caca bergantian yang sedang mengomeli satu sama lain sehingga tanpa sadar mereka sudah saling bertatapan muka dengan jarak 5 CM.
"lepasin adikku nggak? ". tatap tajam Caca.
"lepasin tangan kanannya, dia mau makan". balas Radit juga menantang.
__ADS_1
"apa yang kalian lakukan? siapa yang menyuruh kalian bertengkar didepan Putriku? ". Arka tiba-tiba datang merangkul Nana yang tersenyum manis.
"eeh.. Kakak? ". Caca nyengir.
Radit tersenyum kikuk ke Arka dan Nana.
"ayo sayang! ". Arka melebarkan tangannya dengan cepat Rose menyeringai lebar berpindah kepelukan Papanya.
walaupun Rose sudah besar tapi Ia masih dimanja dan dianggap bayi oleh Arka, berbeda dengan Ren yang malu di manja padahal Ia merasa sudah besar.
"kalian berdebatlah berdua..! lain kali jangan bertengkar didepan Rose ya? ". gemas Nana.
Arka membawa Rose yang menyeringai lebar melambaikan tangan ke Radit, Radit tersenyum tulus.
"huhh.. aku jadi pengen punya anak seperti nya". gumam Radit dengan iri pada Arka yang punya anak seperti Rose.
"nikah aja cepat". ledek Caca lalu Ia berbalik dan matanya melebar melihat kedua orangtuanya.
"Mama? ". Caca membelalak melihat orangtuanya.
"siapa ini sayang? apa kekasihmu? ". tanya Mama Caca.
"haha bukan.. bukan". jawab Caca kikuk dan tegang.
Radit berbalik dan itu membuat Mama nya Caca tersenyum, Radit pamit pada wanita itu lalu pergi dengan sopan sebagai hormatnya pada orangtua.
"waah.. dia ramah sekali". puji Mama Caca sambil tersenyum.
Caca merasa was-was kalau dirinya akan dijodohkan ternyata perkataan Anna sebelumnya benar-benar terjadi yaitu Ia melihat Papanya membawa laki-laki, Caca di kenali oleh laki-laki asing yang membuatnya takut, Caca segera melarikan diri dari sana membuat kedua orangtuanya panik mencari Caca.
.
Layla melihat Adi dari jauh yang sedang berbicara dengan rekan bisnis sambil merangkul pinggang Anna dengan posesif sementara Anna sibuk dengan kunyahannya membelakangi rekan Adi, Ia sudah berkenalan dengan rekan Adi cuma merasa lapar.
mereka tidak berpikir Anna tidak sopan malah Anna sangat sopan menawarkan mereka makanan, bisa dikatakan Adi yang sangat posesif tidak mau meninggalkan Anna selangkahpun.
"Hubby..! tanganmu benar-benar mengganggu aktifitasku? ". bisik Anna dengan memelas.
Adi berbisik ditelinga Anna, "tidak bisa sayang, disini banyak laki-laki nanti aku bisa mati cemburu".
Anna memutar bola matanya dengan malas, "jadi aku makan seperti ini? ".
"iya kamu tetap cantik makan seperti ini sayang". bisik Adi mengecup pelipis Anna.
.
__ADS_1
.
.