
.
.
.
Adi mengerutkan keningnya melihat Anna keluar dari Kantin sekolah anak-anak dengan wajah di tekuk masam, Ia pun mendekati Anna.
"ada apa sayang?". tanya Adi sambil menimang Fitri yang begitu betah di bahu kokoh Papa nya.
"makanannya semua cepat saji, nasi gorengnya juga dibuat di kuali yang tidak bersih, semua salad sehat itu awalnya dari buah yang ada ulatnya, aku tidak mau anak-anakku makan itu". sungut Anna.
"jadi kamu mau bagaimana sayang? apa perlu aku menyewa Koki untuk membuatkan sarapan anak-anak kita?". tanya Adi.
Anna menggeleng kepalanya pelan, "aku mau membuatnya sendiri, aku akan beli buah-buahan dipasar".
"pasar?". beo Adi.
"hmm". jawab Anna merangkul lengan Adi dan menuntun suaminya ke mobil.
"ayo kita ke pasar!". ajak Anna.
Adi tercengang, "bagaimana dengan anak kita?".
"kata nya mereka pulang jam 10 nanti, aku akan jemput sendiri kalau kamu tidak bisa Hubby". jawab Anna.
"aku bisa menemanimu sayang, apa kita tidak menunggu mereka saja hmm? nanti kita kepasar bersama-sama". saran Adi membuat Anna terdiam sesaat.
"ya udah deh". jawab Anna dan dibalas senyuman oleh Adi.
Anna pun mau menunggu triple kembar pulang, hanya 1 jam menunggu mereka berdua menyambut ketiga anak-anak mereka yang terlihat memancarkan sinar wajah kebahagiaan.
"sayang?". Anna memeluk ketiga anak-anaknya dengan bahagia.
"terimakasih Mom, kami senang belajar disini banyak teman". ucap Fiona dengan ceria.
"iya mom". sambung Fauzan dan Fauzi juga terlihat gembira.
Anna melihat raut wajah anak-anaknya yang bahagia pun ikut senang, memang kebahagiaan seorang Ibu terletak dari kesenangan anak-anaknya.
Adi tersenyum melihat keluarga kecilnya, "ayo sayang..! katanya mau ke Pasar buah". ajak Adi dengan lembut.
"iya By". jawab Anna pun bangkit.
__ADS_1
mereka jalan bersama-sama menuju mobil, menghabiskan waktu bersama di Pasar, tak lama setelah itu Anna mendengar cerita ibu-ibu pedagang yang mengatakan tentang kasus anak-anak yang diculik.
Anna merasa takut terlebih lagi mendengar kedua orangtua anak yang hilang itu langsung histeris saat melihat jasad anaknya dibuang di jalanan dengan perut yang sudah kosong, organ dalam diambil, kehilangan anak membuat kedua orang tua itu gila langsung memilih mengakhiri diri karna merasa bersalah dan merasa tidak pantas hidup.
"sayang? jangan jauh-jauh dari Mommy ya?". pinta Anna pada ketiga anak-anaknya yang mengangguk.
"sini sayang, lebih dekat nak! ". pinta Anna.
Sikembar pun mendekat dengan Mommynya, mereka tau kalau Mommy mereka tengah takut karna mendengar cerita ibu-ibu pedagang.
Anna merangkul ketiga anak-anaknya dengan posesif, Ia tidak tau saja bagaimana cara penjahat menculik anak bukan saat bersama orangtua melainkan saat anak sendirian, tapi Anna terlalu takut hingga berpikir anak-anaknya sedang tidak aman.
Adi sedang di parkiran menimang Fitri, sementara Anna sendiri membawa ketiga anak kembar 3 mereka.
"ayo sayang! kalian masuk duluan ya? Mommy bisa letak belanjaan Mommy dibelakang ya?". pinta Anna tak mau lengah menjaga anak-anaknya.
"baik mommy". jawab ketiga anak-anaknya serentak segera memasuki mobil, Anna memperhatikan itu dengan serius lalu pintu di tutup, Anna pun melanjutkan aktivitasnya memasukkan belanjaannya di belakang mobil.
Anna masuk ke mobil sang suami pun lega, Adi melihat ke arah Anna pun menaikkan sebelah alisnya.
"ada apa sayang? apa ada yang mengejarmu?". tanya Adi dengan heran sambil melihat kebelakang.
"aku takut aja By! ayo kita pulang nanti aku cerita". pinta Anna memelas.
Fauzan, Fauzi dan Fiona saling pandang satu sama lain, mereka tau ketakutan Anna tapi memilih pura-pura tidak tau karna jika mereka mengatakan ke Anna pasti Mommy mereka menangis.
.
di Mansion Anna, kamar Triple kembar.
"kak? apa kakak tidak tau ketakutan mommy?". tanya Fiona dengan suara khas cadelnya.
"tau". jawab Fauzan dan Fauzi serentak.
"kenapa mommy takut kalau pelampok anak itu akan menculik kita ya? kan kita pintal tapi mommy takut". keluh Fiona lagi.
"itu kalna mommy cayang cama kita dek". jawab Fauzan.
"piona uga cayang mommy". jawab Fiona dengan polos.
"kita tidak tau yang dipikilkan mommy, kan papa udah bilang kalau mommy itu cayang banget cama kita". Fauzi.
"iya, kata papa macalah kecil pun bica membuat mommy tidak bica tidul, apalagi tentang kita". Fauzan.
__ADS_1
mereka bertiga bercerita layaknya manusia dewasa saja, tapi jika didengar orang dewasa pasti mereka akan ditertawai karna gemas ditambah suara cadel khas mereka itu.
.
di kamar Anna,
"sudah sayang..! aku akan tambahkan pengawal bayangan untuk anak kita ya?". bujuk Adi mengelus punggung Istrinya.
"kamu harus tangkap penculik itu By, aku tidak mau tau..! tangkap dan habisi dia". pinta Anna dengan serius tapi sambil terisak.
"iya sayang..! iya, aku akan minta bantuan Kak Nana untuk membantuku ya? atau bantuan dikembar Kak Nana untuk melacak penculik itu". Adi.
Anna mengangguk, "dasar manusia kejam..! kami para Ibu sudah mengandung selama 9 bulan penuh dan mereka dengan mudahnya menculik anak lalu menjual organ dal*mnya? mereka tidak pantas hidup, jika kamu menemukannya By, congkel organ dal*mnya lalu buang organ dal*mnya ke lautan lepas biar menjadi makanan binatang buas disana".
Adi mengangguk-nganggukkan kepalanya, "akan aku lakukan itu sayang".
"mereka terlalu hina, bahkan tidak pantas dikasihani". geram Anna penuh dendam.
Adi terus saja membujuk Anna, wajar saja Anna begitu ketakutan dan benci pada penculik itu karna Ia seorang Ibu jadi membayangkan perasaan Ibu yang anaknya menjadi korban sudah jelas Ia sangat sedih, Anna berjanji akan membalaskan dendam orangtua yang kehilangan anak itu dan dituntaskan sampai ke akar-akarnya.
"iya sayang". jawab Adi mengiya-iyakan saja ocehan marah istrinya itu.
"aku yakin pelakunya pasti lajangan jika seorang Ayah tidak akan sanggup melakukan hal seperti itu". kata Anna lagi masih dengan nada marah.
"besok aku akan menemui pegawai swasta terbaik di kota kita, aku juga akan masukkan anak-anakku ke perguruan pertapa putih". ujar Anna melepaskan pelukannya dari Adi.
"pertapa putih?". beo Adi.
"iya". jawab Anna.
"tapi anak-anak kita masih kecil sayang". jawab Adi.
"aku tidak mau anak-anakku diremehkan, setidaknya mereka bisa menggigit orang". kata Anna dengan serius.
Adi menghela nafas panjang mendengar perkataan Anna, Ia bisa apa jika hati seorang Ibu yang sudah bertindak bukan lagi akal seorang Ibu.
"aku akan tanyakan pada anak-anakku". Anna segera bangkit dan keluar dari kamarnya bersama Adi.
Adi menggeleng-geleng kepalanya, "aku melihat kekejaman Istriku lagi, jika sudah membahas anak seorang Ibu bisa menjadi seekor macan mengerikan". gumam Adi sangat pelan.
.
.
__ADS_1
.