Cinta Setelah Pernikahan

Cinta Setelah Pernikahan
tidak lucu


__ADS_3

.


.


.


Adi melirik Istrinya yang tampak tidak menoleh sedikitpun padanya sementara Anna tau bahwa Adi tengah memperhatikannya.


"sayang?". panggil Adi memelas.


"fokus!! ". titah Anna tanpa melihat ke Adi.


hati Adi kembali sakit, Ia tidak menyangka masalahnya akan sebesar ini, karna rasa cintanya pada Putri-Putrinya membuatnya hilang akal sampai melupakan fakta yang sangat penting yaitu Anna adalah seorang Dokter, saat anaknya terluka seharusnya Adi memberikannya ke Anna bukan ke Rumah Sakit.


Leonard dibelakang memangku Fitri pun melihat gelagat mereka pun diam, "mereka bertengkar? karna apa lagi?". batin Leonard menggeleng kepalanya.


sebenarnya pertengkaran Anna dan Adi tidak asing lagi diketahui oleh Leonard, bagi pasangan suami-Istri pertengkaran adalah hal biasa tapi menurut Leonard Adi adalah Pria yang sangat sabar menghadapi Istrinya tanpa main tangan atau membentak Cucunya.


laki-laki yang biasanya memakai otak dan logika tapi saat menggunakan hati atau jatuh Cinta semuanya akan melemah, laki-laki akan tunduk pada Ratu yang menguasai hati si laki-laki walau tau dia tidak bersalah akan selalu mematuhi sang Ratu yang selalu benar.


"Mom? kenapa malah cama Papa?". tanya Fauzi penasaran.


Anna mendelik kesal ke Adi yang membuat anaknya tau kalau mereka sedang marahan, Adi semakin takut saja karna lagi-lagi menambah kekesalan sang Istri.


"tidak son..! haha.. Mommymu tidak marah sama Papa hanya kesal sedikit saja". jawab Adi dengan tawa lebarnya.


"oh.. hanya kesel aja ya?". gumam Fauzan mengangguk-ngangguk.


"apa mom malah kalna papa bawa adek pelgi tadi ciang mom?". tanya Fiona dengan polos.


"maksudnya bagaimana sayang?". tanya Leonard sementara Fauzan dan Fauzi menoleh ke Fiona sebab mereka memang tidak tau masalah adik mereka yang terluka dibawa ke Rumah Sakit, mereka menebak Anna lah yang mengobati kelingking Fitri.


"tangan adek telluka lalu papa bawa adek ke lumah cakit". jawab Fiona dengan polos.


"lumah cakit?". beo Fauzan dan Fauzi.

__ADS_1


"Rumah Sakit?". beo Leonard.


"tapi aku lihat tangannya baik-baik saja? jadi aku ganti dengan handiplast kecil, aku kira Anna yang membungkus jari kelingking kecil Cicitku sampai aku berfikir Cicitku kehilangan jari kelingkingnya". batin Leonard memasang raut wajah berubah-ubah.


"kenapa ke lumah cakit? bukankah selama ini kalau kita cakit atau demam mommy yang cembuhkan? itu cebabnya kita tidak punya doktel plibadi". tanya Fauzan yang memang sangat cerdas.


"iya, bahkan teman-teman dicekolah bilang mommyku cangat hebat mengopelasi tkak calca dengan baik". Fauzi.


mereka mengoceh dibelakang tanpa memikirkan nasib Adi yang sudah diujung jurang rasa bersalah, Anna menatap tajam Adi.


"bahkan anakku saja tau kalau aku seorang DOKTER". gumam Anna dengan kesal tapi Adi mendengarnya hingga Pria itu semakin tidak tenang saja duduknya.


.


di aula besar,


Anna memberikan kartu undangannya lalu menunjuk semua orang yang akan Ia bawa masuk, walau kesal dengan suami harus membawanya masuk juga ke acara itu, pemeriksaan dilakukan pengawal Pria tapi kalau Anna diperiksa oleh pengawal perempuan.


setelah merasa aman tidak ada senjata apapun, semua keluarga Anna bisa masuk ke aula itu tanpa dicurigai lagi.


"waaahh?". anak-anak Anna ternganga melihat pemandangan yang sangat indah itu juga tempatnya sangat ramai, ada tempat duduk disemua tempat.


Anna membawa anak-anaknya ke tempat duduk yang nomor 3 dari jajaran depan, Adi menghela nafas berat mengikuti Anna yang mengabaikannya seperti tembok lagi, Leonard membawa Adi sambil merangkulnya.


"jika acara ini ada untuk memberi penghargaan pada Pria tersabar di dunia ini, maka aku yakin kau adalah pemenangnya". kata Leonard dengan senyuman tipis meledek Adi.


Adi diam saja, Ia tidak butuh penghargaan apapun tapi memang Ia hanya manusia biasa yang punya kesalahan tapi Istrinya tidak pernah memaki atau merendahkannya saat berbuat kesalahan hanya saja menganggapnya sebagai tembok kalau sedang marah, menurut Adi itu lebih menyakitkan dari pada di maki atau direndahkan.


Adi menatap semua laki-laki yang begitu memuja Istrinya, Ia yang geram segera melepas jasnya dan memasangnya ke tubuh Anna, tapi lucunya Anna malah melepaskan jas itu karna Ia masih marah dengan Suaminya itu dan tidak terima bantuan apapun dari sang suami.


"sayangg? mereka menatapmu". kata Adi dengan memelas mencoba menutupi bahu Anna lagi namun ditepis oleh Anna hingga Adi frustasi sendiri.


"apa kamu tidak bisa memaafkanku sayang? aku berbuat kesalahan, aku hanya terlalu khawatir pada anak kita". pinta Adi memelas namun Anna pura-pura tidak dengar.


"memangnya dia saja yang khawatir? aku juga khawatir bahkan aku yang mengandung mereka semua, sementara dia?? hanya pandai membuat saja". batin Anna dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Anna melihat Nana pun merubah ekpresinya langsung melambaikan tangannya dengan raut wajah bahagia, "Kaaak?". sapa Anna berdiri dari duduknya.


"sayang? kalian disini saja sama Eyang ya?". pinta Anna ke anak-anaknya yang mengangguk patuh.


Anna tersenyum lalu kembali menegakkan tubuhnya berjalan ke arah Nana yang juga tersenyum ke arahnya, penampilan Anna dan Nana saat ini benar-benar sangat memukau melebihi glamornya artis dan model internasional yang diundang di acara malam ini.


"Tuhan...! bantu aku". gumam Adi yang tidak terima tatapan para lelaki.


punggung mulus dan garis bahu indah Anna terlihat membuat para lelaki terpana memandangnya begitu juga Nana, Nana seperti Tuan Putri saat ini padahal sudah punya anak dan anaknya sudah berumur belasan tahun. Arka sedang di Luar Negri urusan pekerjaan, jadi tidak tau Istrinya berpakaian seperti itu.


mereka berpelukan didepan para tamu yang sedang duduk memandang takjub kedua wanita cantik itu, mereka bercengkrama dan duduk bersama, Ren mengalah bangkunya diambil Anna pun pergi ke tempat duduk Anna dan duduk disamping Fiona.


"tkakak?". sapa Fiona dengan senyuman ke Ren.


Ren menoleh dan tersenyum tipis mengelus pipi Fiona yang tersenyum ceria, Fiona bangkit dan duduk dipangkuan Ren memeluk Ren itu seperti papanya saja tapi Ren tidak marah membiarkan Fiona memeluknya, Leonard tak heran lagi melihat itu sebab Fiona memang manja pada Ren dan Rose walau sifat Ren itu masih Introvert.


Adi tidak mempermasalahkan Ren, mengusik Ren sama saja menggali lubang kematian sendiri bagi Adi, terlebih lagi Anna sangat menyayangi Ren maupun Rose seperti adik kesayangan saja.


"kak Lose dimana kak?". tanya Fiona di leher Ren.


"sedang bersama Oma, tidak ikut". jawab Ren singkat, padat dan jelas.


"tkakak haluuumm cekalii, Piona cukaaa". manja Fiona mengeratkan pelukannya ke Ren.


Ren mengelus saja kepala Fiona, Ren sayang pada Fiona sama seperti Ren menyayangi Maycelly.


"Fiona sayang? sudah nak, kenapa duduk dipangkuan Kak Ren? nanti celananya kusut bagaimana?". tanya Leonard membujuk Fiona.


"tidak mau". jawab Fiona melingkarkan tangannya dengan erat di leher Ren.


"tidak apa Kek". jawab Ren singkat dan Leonard tak lagi meminta Fiona lepas dari Ren jika Ren sendiri memang tidak keberatan.


"selisih umur mereka 8 tahun bahkan 9 tahun, tidak mungkin mereka akan menikah suatu saat nanti kan? itu tidak lucu". batin Leonard.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2