
" Apa kau marah kepada ku?" tanya Rio sambil melirik ke arah Sinta.
" Tidak " kata Sinta.
" Lantas kenapa kau diam saja, tidak seperti biasanya" kata Rio.
" Aku sedang tidak ingin berbicara" kata Sinta dengan nada ketus.
Suasana menjadi hening, Sinta hanya fokus melihat ke arah jalanan. Sedangkan Rio bingung mencari bahan pembicaraan.
" Berhenti di depan " kata Sinta yang menunjukkan tangannya ke arah depan.
Rio memberikan sen kiri, agar pengguna jalan di belakang tahu kalau dia mau berhenti.
" Apakah ini arah menuju rumah mu?" tanya Rio.
" Iya, Tuan. Aku turun disini." kata Sinta yang sudah membuka seat belt nya.
" Apakah masih jauh dari gang itu " kata Rio sambil memajukan kepalanya.
" Masih harus berjalan lagi ke dalam" kata Sinta yang sudah membuka pintu mobil.
" Tuan, saya duluan ya " kata Sinta yang pamit.
Rio pun tersenyum dan melambaikan tangan nya.
Seketika Fadli pun masuk ke arah gang rumah Sinta.
Dan Rio memperhatikan Sinta yang bertegur sapa dengan anak laki-laki yang baru saja turun dari angkot, dan masuk ke dalam gang. Mereka sangat begitu akrab sekali.
" Sin, apakah itu bos yang di ceritakan oleh Ning?" tanya Fadli sambil mencolek Sinta mencoba memanasi Rio dari arah belakangnya.
" Iya " jawab Sinta.
__ADS_1
" Jalannya pelan-pelan Sin, dia masih memperhatikan kita " kata Fadli memberi tahu Sinta agar mengikuti idenya.
Kemudian Fadli mengitari Sinta dan coba menggodanya.
Sinta hanya memutar kedua bola matanya melihat sikap Fadli.
Dari jauh Rio terlihat begitu jengkel melihat sikap Fadli.
Kemudian Rio meninggalkan gang rumah Sinta dan langsung menuju ke arah apartemen nya.
" Kenapa hatiku begitu cemburu melihat ke akraban Sinta dan pemuda tadi " kesal Rio dalam hatinya.
RUMAH SINTA
" Assalamua'laikum " ucap Sinta memberikan salam.
" Wa'alaikum salam" jawab ayah Sinta dari arah dalam rumah.
Sinta pun masuk ke dalam rumah, kemudian dia langsung membuka sepatu nya.
" Ayah baru saja pulang dan mau mandi " jawab ayah Sinta. " Habis makan, ayah akan jemput mama" lanjutnya.
" Oh " sahut Sinta.
Sinta langsung ke kamarnya untuk mengganti bajunya dan meletakkan tas sekolah nya.
Kemudian Sinta langsung menuju ruang makan, karena perutnya sudah sangat lapar sekali.
" Kring, kring, kring..."
Suara telepon milik Sinta berbunyi.
Sinta langsung ke kamar nya untuk mengambil ponselnya. Jarak antara ruang makan dan kamarnya hanya beberapa langkah.
__ADS_1
Di lihatnya nomor Dito sedang memanggil. Diusapnya layar ponsel dan Sinta langsung menerima panggilan dari Dito.
" Halo, Sin "
" Assalamu'alaikum " kata Sinta yang mengingatkan Dito untuk mengucap salam terlebih dahulu.
" Oh, iya. Assalamu'alaikum" ucap Dito.
" Wa'alaikum salam" jawab Sinta," Ada apa?" tanyanya.
" Aku hanya ingin menanyakan kabarmu, apakah hari ini ada kabar baik?" tanya Dito yang tidak pernah lupa setiap harinya menanyakan kabar Sinta.
Sinta pun diam dan belum menjawab pertanyaan Dito. Karena hari ini dia mengalami hal yang baik dan hal yang akan membuat Dito cemburu. Hal baiknya karena rahasia Mira sudah terbongkar. Hal yang membuat cemburu adalah Rio yang telah menyatakan perasaannya kepada Sinta.
" Sin, kenapa kamu diam " tanya Dito.
" Aku hanya sedikit lelah hari ini " kata Sinta.
" Memangnya kamu dikasih banyak pekerjaan?" tanya Dito.
" Enggak juga sih, hanya aku sedang kurang enak badan hari ini " kata Sinta yang sedikit berbohong.
" Ya sudah, sebaiknya kau beristirahat. " kata Dito.
" Iya " jawab Sinta.
" Assalamu'alaikum" ucap Dito mengakhiri pembicaraan via telepon seluler.
" Wa'alaikum salam " jawab Sinta.
Lalu Sinta meletakkan ponselnya di dalam lacinya. Dan dia meneruskan makan yang belum selesai.
-
__ADS_1
-
Dukung terus karya author dengan cara like, vote dan berikan komentarmu!.