CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 10


__ADS_3

setelah Sendi sudah selesai bersiap-siap, ia pun mulai turun ke bawah untuk sarapan. namun tiba-tiba sendi menghentikan langkahnya tatkala ia melihat Seno tengah berbicara dengan wanita itu.


"oh, jadi tadi malam itu kau baru saja dari kafe ini untuk melamar pekerjaan," itulah kata-kata yang Sendi dengar dari percakapan mereka berdua. sendi melihat Seno yang menganggukkan kepalanya dan di belakang Seno ada Danu yang tengah sibuk mengotak-atik ponselnya.


Sendi heran yang melihat Seno seperti tidak biasanya. ia terlihat sedikit luwes saat berbicara dengan wanita itu bahkan bisa dikatakan begitu akrab. padahal yang Sendi tau adalah Seno yang begitu acuh tak acuh kepada wanita manapun kecuali ibu dan Mei. dia tidak peduli ketika ada segerombolan wanita yang kagum akan ketampanannya di tampah kepandaiannya di sekolah. bahkan saat ada siswi cantik yang mengajaknya makan di kantin, secara mentah-mentah dia menolak dengan acuh bahkan tak peduli.


"semoga kau betah bekerja di sini," lanjut Seno berbicara pada wanita itu.


aku langsung berjalan menuju ke arah mereka dan berdiri di samping Seno.


"hey, kenapa kau masih di sini? apa kau tidak berangkat ke sekolah? lihatlah aku dan Danu sudah memakai seragam sekolah. cepat kau mandi, aku akan menunggumu, kau sudah basah kuyup seperti ini, jika kau tidak mandi dan mengganti bajumu, nanti kau akan sakit." ucap Sendi dengan mengerutkan keningnya kesal.


"hemm, baiklah. tunggulah di sini, jika kau berani meninggalkan ku, aku akan mengurungmu di kamar mandi," ancam Seno sambil berjalan menaiki tangga hendak masuk ke dalam kamar.


Sendi terus mengumpat dengan kata-kata yang sangat pedas, namun Seno terus berjalan masuk ke kamar tanpa peduli ocehan lambe turah Sendi. saat Seno hendak menutup pintu kamarnya, sebelumnya Seno melongok kan sedikit kepalanya dan memanggil sendi.

__ADS_1


"ingat, jangan tinggalkan aku," Seno berteriak ke arah Sendi.


"kau ini cerewet sekali sama seperti mak-mak komplek," racau Sendi dengan mengeraskan suaranya agar Seno dengar.


tapi dari arah kamar sudah tidak ada sautan lagi.


"kau ini sama saja dengan Seno," Danu yang dari tadi menahan tawanya dengan menutup mulutnya pun seketika tertawa begitu keras karena sudah tak bisa menahan lagi.


"ku amplas mulutmu itu nanti," Sendi jengkel karena di tertawakan.


"kenapa kau menatapku seperti itu?," tanya Sendi to the poin. Sendi risih jika ada wanita asing yang terus-terusan memandangnya seperti itu. sedangkan wanita itu pun gugup karena sendi memergokinya seperti itu,


"astaga, kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini," gumam wanita itu dalam hati.


"maaf tuan," ucap wanita itu dengan wajah yang menunduk.

__ADS_1


suasana di kafe masih sepi karena kafe memang masih belum buka. Sendi celingukan seperti mencari seseorang.


"dimana ayah dan ibu?," tanya Seno pada wanita itu.


"Bu Susi dan pak Johan sedang berbelanja di tempat perbelanjaan," ucap wanita itu yang masih menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Sendi.


"jangan menunduk, aku sedang bicara denganmu," Sendi menegaskan perkataannya karena Sendi tidak suka saat ia berbicara, orang lain tak mau menatapnya. padahal terkadang Sendi juga seperti itu. lalu wanita itu pun mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah tampan Sendi.


"siapa namamu," ucap Sendi datar.


-


-


-

__ADS_1


budayakan follow dulu sebelum membaca gaes. beri dukungan kalian lewat like, coment, poin and koin ya...


__ADS_2