CINTA SMA

CINTA SMA
bab 42


__ADS_3

“Aku tak akan memberi ayah selamat, jadi ayah jangan minta. Tapi aku masih ingin melihat ayah bahagia.”


sendi menyelinap mengambil baju malaikat mei di kamar mei, dia harus menyembunyikan baju itu agar mei tidak bisa kembali. Tiba-tiba mei datang dan sendi langsung menyembunyikan baju yang sudah di ambilnya tadi di belakang punggung. mei bertanya apa sendi ingin ambil selimut? sendi kan tahu dia bisa mengambilkannya.


"aku tidak ingin melihatmu lelah,sekarang lebih baik kau istirahat saja di kamar,"ucap sendi dengan mendorong tubuh mei pelan agar ia beristirahat di kamar.


lalu sendi pun bergegas pergi ke kamarnya.


"aku merasa aneh dengan dia,apa dia sudah tau tentangku? tentang identitas ku? apa aku harus jujur saja kepada sendi tentang jati diriku?"gumam mei.


sendi pun menyembunyikan baju malaikat mei ke dalam lemari yang ada di kamarnya. Dia yakin tanpa baju ini mei tidak akan bisa pergi. “Aku hanya memilikimu, jadi jangan pergi”gumam sendi sendu.


yah,sendi benar-benar takut kehilangan mei, karena sendi hanya memiliki mei saja.


*****


Hari ini suasana hati seno sedang buruk, karena ini adalah hari dimana ayahnya menikah lagi. Bu susi masuk ke kamar putranya dan mengajak putranya untuk mengucapkan selamat pada ayah seno. tapi Seno sangat kesal kepada Bu susi.


"kalau ibu ingin mengucapkan selamat kepada ayah, lebih baik ibu pergilah dengan suami ibu dan jangan mengajakku,"ucap Seno ketus.


"senoo,apa seperti ini caramu berbicara kepada ibumu nak?,"ucap Bu susi pelan tapi penuh dengan penekanan.


"maafkan aku Bu, kalau ibu ingin memberi selamat pada ayah pergilah,jangan mengajakku karena ini tidak mudah buatku,"ucap Seno menunduk menahan sedihnya.


"pasti ini hal yang mudah buat ibu kan karena ibu juga melakukan hal yang sama,"lanjut Seno menatap kedua mata Bu susi yang sendu.


"apa yang kau bicarakan nak?,"ucap Bu susi.


“Aku tak akan hidup seperti ibu atau seperti ayah.”ucap Seno lalu keluar dari kamarnya.


"aku tau kau terluka karena ke egoisan orang tuamu nak,"batin Bu susi.


Seno pun berjalan,entah kemana.ia benar-benar tak memiliki tujuan.


di jalan Seno bertemu dengan mei dan sendi yang juga tengah mampir di toko baju.mei yang melihat Seno itu pun mengajak sendi untuk menghampiri Seno.


"Seno,"ucap mei girang dan melambaikan tangannya ke arah Seno.


Seno pun membalas sapaan mei dengan tersenyum tipis.


"apa kau sakit Sen? apa kau sedang ada masalah?,"tanya mei ketika melihat wajah Seno yang pucat.


"tidak,"ucap Seno singkat.


"kenapa kita sering bertemu? apa karena kau merindukanku?,"ucap sendi tiba-tiba.


Seno yang mendengar perkataan sendi itu pun langsung menjitak jidat sendi.


"hei,kau mau baku hantam denganku? beraninya menjitak jidat ku? apa kau ingin mati?," ucap sendi melototkan kedua matanya ke arah Seno.

__ADS_1


"dasar kecebong,"ucap Seno tertawa kecil.


"hei sudahlah,kalian ini benar-benar selalu membuatku pusing,"ucap mei mengerutkan bibirnya.


"dasar,"ucap sendi langsung mendorong jidat mei dengan telunjuknya.


"kalian mau kemana?,"tanya Seno.


"mau ke barber shop,"jawab mei tersenyum.


"kau mau ikut? aku ingin mengantarkan sendi untuk memotong rambutnya.lihatlah rambutnya sudah panjang dan sudah waktunya untuk memotong rambutnya,"lanjut mei.


"kenapa kau mengajak munyuk ini?,"tanya sendi kesal dengan mei.


"sudahlah ayo,"ucap mei lalu menggandeng tangan sendi dan Seno menuju ke barber shop yang tidak jauh dari sana.


"duduk sini mas," ucap barber itu ke arah sendi,dan sendi pun duduk di kursi mengikuti perintah barber itu.


sedangkan mei dan Seno duduk di kursi tunggu.


"mau style yang seperti apa mas?," tanya barber itu kepada sendi.


"entahlah,tanyakan saja pada dia,"ucap sendi


memberi isyarat kepada barber itu dengan dagunya yang mengarah ke arah mei melalui pantulan cermin di depannya.


"ada apa?,"tanya mei.


"katakan, kau mau model rambutku yang seperti apa?,"tanya sendi menatap mei lewat pantulan cermin.


"lah,kenapa aku?,kau kan yang punya rambut,"ucap mei mengernyitkan keningnya.


"meii,"ucap sendi penuh penekanan.


"terserah apa kata tuan saja,"ucap mei kepada barber tersebut.


"kata terserah bukanlah sebuah jawaban yang aku inginkan,"ucap sendi dengan kesal seraya menatap mei melalui pantulan cermin yang ada di hadapannya ini.


"ya sudah tuan,kau pangkas saja semua rambut kecebong ini,kalau dia botak pasti akan tambah tampan,"ucap Seno menyahut dari belakang dengan tertawa kecil.


"kau meledekku munyuk?,ku cakar nanti wajahmu itu,"ucap sendi menatap tajam seno.


"hahaha,mangkanya jangan ribet karena masalah cuma model rambut,"ucap Seno meledek.


"tertawalah kalian,tertawa saja sepuasmu,"ucap sendi kesal kepada mei dan Seno yang tertawa keras.


lalu mei pun memberi tau kepada tukang cukur model yang sekiranya pantas untuk wajah sendi itu.


setelah selesai sendi pun menatap ke arah cermin menatap tampilan rambut barunya yang baru saja di pangkas rapi.setidaknya tampilannya berubah jadi lebih baik dan semakin membuat sendi terlihat tampan.

__ADS_1


"okok, ayo,"ucap sendi mengajak mei dan Seno keluar.


"sendi,"panggil Seno yang membuat sendi meliriknya sekilas.


"Hem,"jawab sendi menghentikan langkahnya dan mulai menatap Seno.


"kita duduk di sini saja,"ucap Seno berjalan ke arah bangku di depan barber shop itu.mei dan sendi pun mengiyakannya dan mengikuti seno duduk.


"apa kau sudah tau kalau pak Johan itu adalah ayah kandungmu?,"tanya Seno melirik sendi.


"Hem,"jawab sendi singkat.


"lalu? apa kau tidak ingin kembali berkumpul dengan ayahmu?,"tanya Seno lagi.


"dia kan sekarang ayahmu,biarlah dia bersamamu dan bersama ibumu,"ucap sendi.


"bukankah selama ini kau mencari ayahmu?,"tanya mei yang sedari tadi diam.


"aku tidak membutuhkan sosok ayah lagi,karena memang sedari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah,"ucap sendi.


"aku tau kau berbohong.karena aku yakin kau membutuhkan ayah di kehidupanmu,"ucap mei menatap kedua mata sendi dalam.


"untuk apa aku berbohong?,aku tak membutuhkan nya lagi.karena sekarang ini yang aku butuhkan adalah kamu mei,"ucap sendi lirih.


"berarti kalian berdua adalah saudara,"ucap mei.


"tiri,"ucap sendi dan Seno bersamaan.


"sama saja kan kalian berdua adalah saudara,"ucap mei.


"terserah apa katamu,"ucap sendi pasrah.lalu ia mengajak mereka berdua untuk ke rumah.


sampai di kafe,Seno pun duduk di kursi.


"malam ini aku tidur di sini,"ucap Seno tiba-tiba.


"kau tau kan ini bukan tempat penampungan?,"sindir sendi.


"yah,aku tau.aku hanya sekedar mengingatkan kalau kau dan mei itu bukanlah sepupu,"ucap Seno.


"kau kira aku akan melakukan hal yang tidak senonoh pada mei hah?,"tanya sendi kesal.


"yah seperti itu.aku cuma tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak-tidak,"ucap Seno meledek.


"sialan,"ucap sendi menjitak kepala Seno keras.


love


maulani safitri

__ADS_1


__ADS_2