
Mei...," gumam Sendi hingga ucapannya menghentikan langkah wanita itu. seketika Sendi berdiri dan di ikuti oleh Seno hingga tatapan mereka saling bertemu. dari sorot mata Sendi yang teduh, terbaca dengan jelas ada sebongkah rasa rindu yang menyelimuti hatinya. sungguh ia tak pernah menyangka, bahwa dirinya akan bertemu kembali.
sedangkan Seno hanya diam membisu, ia sangat terkejut karena pertemuan ini. apa ini mimpi? pikirnya.
wanita itu terus memperhatikan kedua pria yang terus menatapnya tanpa berkedip, hingga membuat wanita itu berdecih kesal. apalagi ketika wanita itu menatap lekat Sendi, sepertinya ia mengenali pria itu. lalu ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sendi, dan ia menghentikan langkahnya ketika ia sudah berdiri tepat di hadapannya.
plak
tamparan itu cukup keras terasa hingga membekas di pipi Sendi. Seno yang melihat itu pun terkejut dengan apa yang wanita itu lakukan. Sendi tercengang ketika wanita yang selama ini ia tunggu ternyata memberi kesan pertamanya dengan menamparnya. bukan hanya pipinya yang sakit, namun ulu hati nya terasa perih.
"kau adalah laki-laki ke seratus yang berani menyentuh bahkan berani memelukku," wanita itu menegaskan dengan menggunakan telunjuknya kepada pria di hadapannya itu dengan geram.
Sendi mengernyit heran, apa maksudnya? kenapa dia berbicara seperti itu? apa sebelumnya mereka pernah bertemu? pikiran Sendi terus berputar menerka-nerka.
"apa kau tidak mengingatku Mei?," tanya Sendi akhirnya ketika sedari tadi ia hanya diam.
dan sekarang, berganti Mei yang mengernyit Bingung. "kau mengenalku?," tanyanya dengan telunjuknya yang menunjuk dirinya sendiri.
"apa ingatanmu menghilang sayang? aku... aku adalah orang yang selalu menunggu hadirmu. ketika semua orang melupakan dirimu, akulah salah satu orang yang akan selalu mengingatmu,"
tatapan Sendi berubah sendu. hatinya seperti mencelos ketika wanita itu tak mengingat dirinya.
Mei yang melihat perubahan raut wajah Sendi, dengan refleks tangannya meraih pipi Sendi yang ia tampar tadi. "apa aku terlalu keras memukulmu hingga membuat kau bersedih? maafkan aku, aku tadi terbawa emosi hingga tadi aku memukulmu," ucapnya merasa bersalah. lalu Mei melepaskan tangannya dari pipi Sendi dan menatapnya lekat.
Mei menatap Sendi dan Seno bergantian, namun tatapannya sejenak berhenti ke arah Seno yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
"siapa namamu?," tanya Mei pada Seno yang terkesiap akan penuturan Mei.
"kau tak mengingatku?," Seno malah balik bertanya pada Mei.
Mei mengernyit heran, lalu ia mendengus kecil, "aku baru melihat kau di sini, bagaimana bisa aku mengingatmu," ucapnya merasa jengah, "kau sama seperti pria di sampingmu ini, sepertinya kalian mengenalku, tapi aku tak mengenal kalian berdua," sambungnya dengan mengendikkan bahu.
seketika pandangan mereka bertiga teralihkan ketika melihat Tara yang baru keluar dari dalam kamar. sedangkan Tara, ia hanya berdiri di ambang pintu dengan menatap mereka syok. namun Tara berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya dan mencoba untuk bersikap tenang di hadapan mereka bertiga. setelah Tara sudah bisa menguasai dirinya, ia pun berjalan mendekat ke arah mereka berdua dan berdiri tepat di samping Mei. Tara melihat Mei dari atas ke bawah, melihat dia yang tampak rapi dengan baju dress hitam selutut dan rambut panjangnya yang di biarkan tergerai menutupi pundaknya yang polos.
"kau mau kemana?," tanya Tara pada Mei dengan tatapan penuh tanya.
"aku mau keluar sebentar kak, karena aku mau bertemu seseorang," ucap Mei dengan menepiskan senyumnya, namun seketika raut wajahnya berubah kesal ketika ia melihat penampilan Tara. "kakak mau kemana? mau kerja paruh waktu?," tanyanya dengan mengernyit bingung.
Tara menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Mei, "kau boleh pergi, tapi pulangnya jangan malam-malam, karena kau harus menjaga rumah," tutur Tara yang membuat Mei seketika berdecak kesal.
"kita hidup berkecukupan kak, tapi kenapa kau ingin sekali bekerja paruh waktu? memangnya kakak bekerja di mana?," tanyanya masih dengan raut wajah yang kurang bersahabat.
tatapan Mei seketika tertuju pada Sendi di hadapannya itu. lalu Mei kembali memusatkan tatapannya pada Tara yang ada di sampingnya, "kenapa kakak mau bekerja di tempat si mesum ini?," tanyanya dengan telunjuk yang menunjuk ke arah Sendi.
"kenapa kau berkata seperti itu padanya?," tanya Tara dengan mengernyit bingung.
"dia memang lelaki mesum yang semalam memelukku di bar kak," sekilas Mei menatap Sendi dengan tatapan sinis, lalu ia kembali menatap Tara, "untung saja aku masih berbaik hati. jika tidak, pasti semalam aku sudah menendang senjata pamungkasnya itu," sambungnya yang seketika membuat Sendi dan Seno membelalakkan matanya, mereka begitu terkesiap dengan penuturan Mei barusan.
namun seketika Sendi ingat, jika semalam ia mabuk dan ia tak mengingat apapun.
"maaf jika aku sudah lancang memelukmu, semalam aku mabuk," tutur Sendi dengan menatap Mei sendu. terpancar dari sorot mata Sendi penuh arti. sungguh ia tidak sanggup jika Mei tak mengingat dirinya.
__ADS_1
namun Mei tak menggubris ucapan Sendi, ia lebih tertarik untuk melihat wajah tampan Seno yang sedang menatapnya tanpa ekspresi. "meskipun kau tak menampakkan senyummu, tapi kau tetaplah tampan," lalu Mei mengulurkan tangannya ke arah Seno. Seno yang mengernyit kebingungan pun masih membalas jabatan tangan Mei. "aku Mei," sambungnya memperkenalkan dirinya pada Seno dengan menepiskan senyum manisnya.
Seno yang mendengarnya pun langsung melepas jabatan tangannya, " tak perlu memperkenalkan dirimu, aku sudah tau," ucapnya dengan ketus.
Mei yang mendengarnya pun mengerucutkan bibirnya kesal, "tapi aku kan tidak mengenal dirimu, kalian itu sok kenal sekali," ucapnya yang kemudian langsung membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan mereka bertiga.
**note author.
sebenarnya aku mau crazy up. tapi karena aku liat like, coment, dan vote nya down, aku gak jadi crazy up dong😞😞. maaf ya masyarakat, beberapa hari ini aku gak up karena jujur mood ku lagi ancur ni. tolong semangatin akunya dong😭... biar aku gak down gini.kalo kalian crazy like, coment, and vote nya, aku janji dah bakal crazy up buat kalian semua...
Paijo:set dah, ngapa panjang bener dah kaya nulis cerpen thor.
markonah: alah modus tu, biar para netizen mau kencengin like, coment, dan votenya kan😏.
author: terserah lu pada.
Paijo: btw, beberapa hari ini gak up kemana aja lu Thor, kok tiba-tiba ngilang kaya jin?
author: sibuk gue
markonah: sibuk paan? ngitungin pasir?
Paijo: lagi Ng cet es batu palingan😂
author: gue sleding pala lu berdua mau?
__ADS_1
paijo: yaelah gitu aja ngambek sampe bibir monyong 5 meter lu Thor.
author: terserah lu pada dah**