
Rio telah selesai membersihkan dirinya, tubuhnya begitu segar dan relax. Kemudian dia langsung keluar untuk menemui Sinta.
Rio pun membuka pintu kamar mandi, terlihat lampu sudah mati. Pikirnya mungkin ulah Sinta yang merasa takut.
Saat dia menyalakan lampu, tak terlihat keberadaan Sinta. Rio mengecek semua teralis di setiap sudut kamar. Pintu tak luput dari pandangan nya. Semua terkunci, lalu dengan perlahan dia memanggil Sinta.
" Sin, Sinta. Ayolah jangan sembunyi, aku tahu kamu masih berada di kamar ini." ucap Rio dengan santai nya.
Dengan senyuman licik, kepala Rio langsung menuju arah bawah tempat tidur.
" Dor... Sin, aku bisa kan menemukan mu." kata Rio dengan melihat Sinta yang berada di bawah tempat tidur.
Sinta pun takut, saat Rio ingin menggapai ke sebelah kanan Sinta langsung bergegas ke sebelah kiri.
" Ayolah Sin, jangan bercanda seperti anak kecil" kata Rio, " Aku sudah tak sabar, lihat dan cium aku sudah wangi dan bersih." ucap Rio yang tidak tahu malu.
Saat Sinta terdiam, lalu Rio menarik kaki Sinta dan mengeluarkan nya.
" Ah...." terdengar Sinta berteriak histeris.
" Lepaskan aku, " teriak Sinta yang langsung di gendong oleh Rio dan di lemparkan ke atas tempat tidur.
" Akh.." Sinta menjerit ketakutan, saat berusaha bangkit dan ingin bangun dari tempat tidur. Rio langsung menindih nya.
" Lepaskan, " teriak Sinta.
__ADS_1
" Hey, kenapa kau hanya bicara lepaskan?" kata Rio yang menatap Sinta dengan mesum, " aku akan melepaskan mu saat aku sudah melepaskan hasrat ku yang terpendam." kata Rio tanpa tahu malu.
" Plak,"
Satu tamparan mendarat di pipi Rio, dengan sigap Rio langsung menahan tangan Sinta.
" Kau ingin bermain kasar denganku?" ucap Rio penuh penekanan.
Lalu Rio menarik jilbab Sinta, dan membuangnya.
" Akh..." kata Sinta yang meringis kesakitan karena lehernya hampir tercekik karena Rio membuka jilbabnya dengan paksa.
" Wah, kau cantik sekali. Rambut hitam yang panjang." ucap Rio yang terpesona oleh kecantikan Sinta.
" Lepaskan, kau hanya akan berbuat dos-" kata-katanya terhenti, karena Rio sudah mulai mencium bibir Sinta dengan paksa. Sinta mencoba memberontak, dan menggigit bibir Rio.
" Kenapa kau menggigit ku? Bukankah ciuman itu enak?" kata Rio yang terus memandangi wajah Sinta.
" Aku mohon, jangan kau lakukan hal yang menjijikkan. Itu dosa besar." ucap Sinta berteriak.
" Saat ini aku hanya ingin memiliki mu, dan tidak memikirkan hal itu." kata Rio yang kembali melakukan aksi nya mencium bibir Sinta.
Sinta teringat saat dia menonton film drama korea, saat wanita ingin di perkosa lalu dia menendang punya si pria.
Sinta melakukan hal itu kepada Rio, " Duk.." lutut Sinta menendang kepunyaan Rio.
__ADS_1
" Aw..." lalu Rio meringis kesakitan.
Langsung Sinta bangun dari tempat tidur mencoba menghindari Rio.
" Rupanya kau ingin bermain kasar." kata Rio yang menatap Sinta dengan tatapan membunuh.
***
" Dit, di hutan ini kok ada aja villa ya?" tanya Malik.
"Hey, mulutmu bisa diam gak sih?" ucap Fadli yang sudah mulai kesal dengan Malik.
" Sinyal GPS hilang." kata Fadli yang panik.
Dito tahu kalau mulut Malik seperti ibu-ibu komplek, sedangkan Fadli baru mengenalnya saat mereka jalan ke rumah Terry.
" Dit, itu ada rumah besar banget. Kayak rumah hantu, gelap." ungkap Malik yang melihat jelas ada rumah di depannya.
" Coba berhenti di sana." perintah Dito yang yakin kalau rumah itu adalah villa Rio.
" Kita kehilangan GPS vila Rio, tidak ada sinyal di hutan ini. " kata Fadli yang masih serius melihat ponsel nya.
-
-
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.