CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 18


__ADS_3

merasa tak ada jawaban dari Sendi, Tara pun mengikuti langkah Sendi dari belakang. di sepanjang ujung koridor, mata Tara hanya tertuju pada punggung Sendi.


"mungkin saat ini aku tertinggal satu langkah di belakangmu. namun percayalah, suatu hari nanti aku akan berjalan beriringan dengan langkah yang sama denganmu dalam satu arah, mengikuti langkah kaki dan kita akan saling mengikat janji,"


Tara mengembangkan senyumnya ketika membayangkan dirinya dan juga Sendi berjalan beriringan di karpet merah dengan jemari tangan yang saling mengunci dan saling mengikat janji di depan pendeta dan-


brukk


tanpa sadar Tara menubruk dada bidang Sendi hingga membuat hidung pesek Tara memerah. Tara tak menyadari waktu dia melamun tadi, Sendi berbalik menghadap ke arahnya.


masih mengusap-usap hidungnya yang nyeri, Tara melihat ke sekeliling dan baru menyadari kalau mereka berdua berada di kantin yang berada di sudut sekolah.


"kenapa melamun?," tanya Sendi dingin.


Tara yang mendapat sodoran pertanyaan itu pun membuatnya begitu gugup, namun akhirnya menjawab juga, "ma-maaf,"


lalu Sendi berjalan mendekati ibu kantin dan memesan beberapa botol minuman dan camilan secukupnya. setelah Sendi membayarnya, ia pun menenteng sebuah kresek berisikan makanan dan minuman yang tadi ia beli, lalu mengajak Tara untuk mengikutinya menuju ke lapangan.


saat mereka berdua sampai di lapangan, tampak teman-teman nya saling duduk melingkar di sana dan sebagian yang lain tidur selonjoran dengan nafas yang memburu.


"sudah selesai mainnya?," Sendi berucap sembari mendudukkan tubuhnya di sebelah Miko yang tengah duduk. sedangkan Tara, ia duduk di sebelah Sendi.

__ADS_1


Danu yang melihat Sendi membawa satu kresek berisi makanan pun langsung menyerobot kresek itu lalu mengambil satu botol minuman dan mulai meminumnya. teman-teman yang lainnya pun juga mulai mengambil botol minuman dan camilan lalu memakannya bersama.


Tara mengulas senyumnya tanda menolak secara halus ketika Sinta yang ada di sampingnya menawari camilan yang berada di tangannya.


Sendi yang melihat itu pun langsung membuka satu Snack dan menyodorkan pada gadis di samping nya itu. "makanlah," ucapnya datar. dengan sungkan Tara pun mengambilnya dan menepiskan senyumnya ke arah Sendi, namun Sendi tak membalas senyumnya karena setelah ia menyodorkan Snack nya itu, ia langsung mengambil ponselnya dari saku dan mengusap-usap layarnya.


setelah hari menjelang senja, Miko pun menyuruh teman-teman yang lain untuk pulang.


Dika mendekati Sendi dan Seno, "kita pulang dulu ya," setelah mengatakan itu, Dika melambaikan tangannya dan di ikuti oleh Miko, Dona dan sinta.


sedangkan Pungky, ia hanya tersenyum sekilas dan setelah itu ia mengikuti rombongan Miko dan di ikuti oleh Danu.


Sendi yang melihat Danu tak mengikuti dirinya pun menegur "kau tak ikut dengan kami?," tanya Sendi pada Danu.


"sialan kau, kau kan tadi berada di timku," Sendi mengumpat Danu dengan menahan tawanya. yang lain pun juga tertawa hingga membuat Danu melangkah pergi duluan.


di pinggir jalan, Sendi, Seno, dan Tara berjalan beriringan dengan Tara yang berada di tengah-tengah mereka. saat mereka bertiga sama-sama menatap ke atas langit, mereka menghentikan langkahnya dan melihat senja yang semakin lama semakin hilang, dan perlahan langit mulai gelap pertanda malam tiba.


"kau sama seperti senja, indah namun cepat menghilang. dan kau juga tetap sama seperti senja, meskipun cepat hilang, namun dirimu tetap selalu dirindukan. pengagum senja akan selalu setia menunggu kedatangannya walaupun hanya sebentar. sama seperti diriku yang akan selalu setia menunggumu di sini walaupun mungkin sampai mati aku tak pernah lagi dapat bertemu dirimu. dimana pun kau berada, percayalah kalau aku tak pernah lupa untuk mengingat, mengingat semua kenangan kita. mendoakan adalah mencintai seseorang dengan rahasia, dan itulah yang saat ini selalu aku lakukan. mendoakan dirimu dalam hati, berdoa semoga dirimu baik-baik saja,"


tanpa sadar kedua sudut bibir Sendi terangkat dan menampakkan senyum manisnya beserta lesung Pipit di kedua pipinya. ketika Tara mengalihkan tatapannya menghadap ke arah Sendi, ia sungguh tak mengerti apa yang saat ini sedang Sendi rasakan. apa yang membuatnya tersenyum? pikirnya.

__ADS_1


"kenapa?," Seno yang sedari tadi melihat Sendi terus tersenyum pun merasa heran. "kau tidak apa-apa kan?," lanjutnya dengan tatapan penuh tanya.


Sendi yang sadar pun langsung menoleh ke arah Seno. "aku tidak papa," ucapnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Tara dan Seno. refleks Seno dan Tara kembali mensjajarkan langkahnya dengan Sendi.


setelah mereka bertiga berada di depan rumah Tara, Sendi dan Seno pun berpamitan untuk pulang, sebelumnya Seno menolak secara halus ketika Tara menawari mereka untuk masuk ke rumahnya terlebih dahulu karena hari semakin malam. dan setelah Tara mengiyakannya, Sendi dan Seno pun berjalan beriringan untuk pulang ke rumah.


ketika mereka berdua sampai di depan rumah, tiba-tiba Sendi menyuruh Seno untuk masuk ke rumah duluan, "kau mau kemana?," tanya Seno dengan tatapan menyelidik. "kemana saja itu bukan urusanmu, pulanglah dulu, nanti aku akan pulang," ucap Sendi lalu ia melangkah meninggalkan Seno.


Seno diam di tempatnya sembari menatap punggung Sendi yang semakin menjauh dari pandangannya. "ku harap kau tidak akan melakukan hal-hal aneh lagi," gumamnya, setelah itu Seno pun masuk ke dalam rumah.


*****


di tempat lain, Sendi tampak menelungkup kan kepalanya di atas meja dengan kedua tangan yang terlipat menutupi wajahnya. sekarang ini Sendi tengah berada di sebuah bar yang tak terlalu jauh dari rumahnya. tampak di sampingnya beberapa botol minuman alkohol yang isinya tinggal setengah dan ada juga yang sudah kosong. Sendi mendongakkan kepalanya dan mulai mengambil botol yang isinya tinggal setengah, lalu ia mulai meneguknya hingga tersisa sedikit. sebenarnya ini adalah hal yang pertama bagi Sendi, karena sebelumnya ia tak pernah minum bahkan ia mencium baunya saja sudah tak suka. tapi entahlah kenapa malam ini ia ingin sekali minumnya. dan saat ia akan menghabiskan minuman nya yang tersisa sedikit, tiba-tiba ia mengeluarkan dan memuntahkan semua isi di dalam perutnya di lantai hingga tubuh Sendi melemas seketika. lalu Sendi menoleh ke samping ketika ia merasakan ada yang menepuk-nepuk pundaknya pelan.


Sendi menyipitkan matanya berusaha untuk memperjelas penglihatannya karena buram.


"kau mabuk?," ucap wanita itu masih dengan tangannya yang menempel di pundak Sendi dengan tubuhnya yang ia sedikit condongkan agar pria itu dapat melihat dirinya.


-


-

__ADS_1


-


Note author: kencengin terus ya vote nya. btw thanks buat semuanya yang udah mau ngencengin comentnya walau hanya sekedar berkomentar next, aku dah seneng banget.hehehehe. thanks juga udah mau ngencengin likenya. gass lurrrr wkwkwkk....


__ADS_2