
Kemudian Puput di rangkul oleh Sinta ke luar gedung. Sementara Mira di tahan oleh Rendi dan Wahyuningsih.
" Sudahlah, Put. " kata Sinta mencoba menenangkan.
" Aku kesal Sin, sudah ketahuan salah tapi gak mau minta maaf" kata Puput yang masih emosi.
" Memang sifat dia seperti itu kan Put?" sahut Sinta.
Lalu mereka sampai di kafe Dito, Sinta memilih tempat duduk dekat jendela.
" Tunggu Rendi dan Wahyuningsih datang, baru aku pesan" kata Sinta.
" Aku ingin pesan jus alpukat, Sin " kata Puput.
" Iya, akan aku pesankan " kata Sinta yang langsung berdiri dan menuju meja pemesanan.
" Sin " panggil Wahyuningsih dari arah pintu masuk.
" Hey, Ning " sahut Sinta.
" Puput mana?" tanya Wahyuningsih.
" Tuh dekat jendela " kata Sinta sambil menunjukkan jari telunjuk nya ke arah jendela.
Mata Wahyuningsih mengikuti arah gerakan tangan Sinta.
" Ayo, Ren. Tuh dia Puput " kata Wahyuningsih yang langsung menuntun tangan Rendi.
Kemudian Wahyuningsih dan Rendi pun berjalan ke arah Puput.
Sementara Sinta sedang sibuk dengan makanan yang akan di pesannya.
Sinta sudah sampai ke meja kasir, dan memesan menu yang sedang promo hari ini.
Selesai membayar dia langsung menuju meja tempat teman-temannya berkumpul.
__ADS_1
" Sudahlah, Put. Mira emang gitukan sifatnya " kata Wahyuningsih.
" Aku uda gak apa-apa, Ning !" kata Puput sambil melihat ke arah jendela.
" Apa jangan-jangan kamu lagi kangen sama Malik ya?" kata Wahyuningsih yang meledek Puput.
" Ih apaan sih !" sahut Puput dengan wajah yang malu-malu.
" Hari ini yang promo ayam bakar " kata Sinta yang sudah duduk di bangkunya.
Seperti biasanya, pesanan mereka adalah makanan yang lagi promo pada hari itu.
" Sin, bagaimana sikap CEO itu kepada mu?" tanya Puput.
" Dia masih ngejar Teh Sinta " jawab Rendi.
" Ih, Rendi sekarang jadi biang gosip " kata Puput meledek.
Hubungan mereka menjadi akrab, sejak Rendi menyatakan ingin menjadi sahabat Sinta saja.
" Ih, seriusan Ren?" tanya Wahyuningsih.
" Iya, tadi pagi saya menegurnya. Dan dia bersih keras tetap berusaha ingin mengambil hati Teh Sinta. " kata Rendi menjelaskan.
" Bagaimana dengan mu, Sin? " tanya Wahyuningsih sambil menatap mata Sinta.
" Tadi pagi, dia menjemput ku. " kata Sinta.
" Lalu?" tanya Puput dengan memasang wajah yang serius.
" Aku tolak, dan langsung pergi bersama ayahku " kata Sinta.
" Wah, aku harus lihat ekspresi wajahnya saat ditolak tadi. " kata Puput mengejek.
" Eh, makanan nya sudah sampai." kata Wahyuningsih.
__ADS_1
Datang waiters yang mengantarkan pesanan mereka. Lalu mereka langsung memakan pesanan nya.
Setengah jam sudah berlalu, selesai makan mereka langsung menuju kantor.
Saat ingin memasuki area perkantoran, terlihat Rio sedang berjalan menuju ke arah lift.
Langkah kaki Sinta pun terhenti melihat Rio yang berada di depan pintu lift.
" Kamu kenapa Sin?" tanya Puput yang berada di sampingnya.
Puput melihat mata Sinta tertuju pada lift, yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
" Oh, ada CEO tengil itu " kata Puput yang paham dengan pandangan mata Sinta.
Mereka bertiga pun menghentikan langkahnya, agar tidak ikut naik lift bersama Rio.
Sekilas Rio melihat Sinta dan teman-temannya, dan dia menekan tombol buka.
" Sinta, kau tidak ingin naik?" tanya Rio sambil membuka kacamata hitamnya.
Sinta tidak menjawab dan hanya terdiam.
Lalu tiba-tiba, Rio keluar dari lift dan langsung menghampiri Sinta.
Di pegang tangan Sinta dan langsung menariknya ke dalam lift.
" Tuan, lepaskan " kata Sinta yang di tarik tangan nya oleh Rio.
Saat teman-temannya ingin mengejar Sinta yang dipaksa masuk lift oleh Rio, tiba-tiba pintu lift tertutup.
Mereka bertiga panik dan segera menunggu lift yang berada di sebelah nya terbuka.
-
-
__ADS_1
Dukung terus karya author dengan cara like, vote dan berikan komentar mu