
Seketika Seno membelokkan motornya ke kiri jalan saat dirinya berada di perempatan jalan. sejenak Mei bingung karena Seno yang tiba-tiba belok ke kiri, padahal kafe Sendi harusnya belok ke kanan saat mereka ada di perempatan jalan tadi.
Namun dirinya pun mengerti saat Seno berkata bahwa dirinya akan mengajaknya berjalan-jalan.
'Aku tau jika aku sedang membuang kesempatan emas. jika aku mau, seharusnya aku sudah menerimamu untuk mengisi separuh hati yang sebelumnya sempat kau tempati. namun aku tak ingin egois lagi, biar aku saja yang terluka. Dengan aku yang kembali menginginkanmu, malah akan membuat kita bertiga kembali saling mematahkan hati.' Seno.
'Apa masa laluku terlalu indah untuk di lupakan? kenapa aku harus mengingatnya lagi? bukankah pria di hadapanku ini adalah cinta pertamaku? bahkan pria ini mampu membuat hatiku berdesir. sebenarnya dia sudah cukup membuatku bahagia. jika aku harus memilih, aku akan lebih mencintainya sebagai masa depanku, daripada aku harus mencintai pria di masa laluku.' Mei.
'Apakah melupakan adalah hal yang terbaik yang harus ku lakukan untuk saat ini? apa aku masih harus menunggunya lagi? padahal dapat ku lihat dengan jelas sorot mata teduh yang sebelumnya membuatku rindu itu sekarang sudah berpindah ke lain hati.' Sendi.
'Kenapa hati ini dapat dengan mudah ku berikan pada laki-laki yang jelas-jelas mencintai wanita lain. dari awal aku pun tau bahwa cintanya hanya untuk wanita itu, dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu. namun hati ini yang selalu menggerakkan untuk tetap bersikap egois. bahkan satu hal yang baru ku sadari, aku seperti sedang membuang-buang waktuku untuk jatuh hati.' Tara.
*****
Warna jingga sudah melapisi langit kota. membuat Seno segera melajukan motornya menuju pulang ke rumah setelah mereka berdua sudah puas berkeliling. kedua tangan Mei masih setia melekat melingkar di perut Seno.
Tanpa malu Mei meletakkan dagunya di pundak pria itu. "Sen," panggilnya yang membuat Seno kembali menatap spion untuk menatap wajah gadis itu.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Kenapa kau begitu mudah untuk menyerah. padahal aku sudah membuka hatiku untukmu," keluhnya dengan semakin mengeratkan pelukannya. menurutnya ini adalah kesempatan yang sangat langka, bahkan mungkin ini adalah momen pertama dan terakhirnya untuk memeluk pujaan hatinya ini.
__ADS_1
Sejenak Seno tertegun, kemudian dirinya tampak menghela nafas panjang, lalu ia kembali menatap spion yang menampakkan wajah gadis cantik itu. "Jangan membuatku berharap lagi. aku tau jika saat ini kau menyukaiku. namun jika nanti ingatanmu kembali, aku yakin kau pasti akan meninggalkanku dan akan kembali ke tempatmu semula. jangan libatkan aku lagi, biarkan aku memilih untuk bahagia dengan gadis lain," ucapnya.
Tanpa sadar, sudut mata Mei kembali berair hingga membasahi kaos yang melekat di tubuh Seno. Seno menyadari jika gadis itu tengah menangis. namun dirinya cukup tau diri bahwa gadis pujaannya itu adalah kekasih saudara tirinya sendiri.
Ia tak mau lagi egois. sudah cukup dirinya membuat Mei dan Sendi berpisah. biarkan kali ini dirinya menyembuhkan luka hatinya sendiri.
Motor itu seketika berhenti saat mereka sudah berada di area perbukitan. Mei segera mengangkat kepala yang sebelumnya ia sandarkan pada bahu pria itu. sebelah tangannya tampak mengusap-usap pipinya yang basah karena air mata agar pria itu tidak mengetahui bahwa tadi dirinya tengah menangis.
Setelah itu, perlahan mereka berdua turun dari motor dan duduk berdampingan di rerumputan. mereka berdua hanyut dalam diam, membiarkan angin menjamah wajah mereka hingga membuat rambut mereka tampak menari-nari mengikuti alur angin.
Setelah puas hanyut dalam pikiran masing-masing, Mei menoleh ke arah pria di sampingnya yang tengah berbaring dengan kedua tangannya yang terlipat ke belakang untuk dijadikan bantalan kepala, tengah memejamkan kedua matanya. ia sedang menikmati angin semilir yang tengah menerpa seluruh wajahnya.
Dan tanpa Mei sadari, dirinya menikmati wajah tampan pemuda itu. perlahan dirinya ikut berbaring dengan sebelah tangan yang ia jadikan tumpuan kepala. sedangkan jemari tangannya sebelah, meraih wajah pemuda itu dan mengusap-usap pipinya perlahan, namun tak membuat pria itu membuka mata.
"Jangan memaksaku untuk mencintai pria masa laluku. untuk saat ini dan dapat ku pastikan juga kedepannya, aku akan tetap mencintaimu, Sen," ucapnya pelan bahkan nyaris tak terdengar, namun indra pendengaran Seno masih dapat mendengarkan dengan jelas.
Seketika Seno tiba-tiba membuka kedua matanya saat dadanya merasakan ada sesuatu yang tak ringan sedang menindihnya.
dan kedua mata Seno membulat sempurna ketika dirinya tau jika ternyata gadis itu yang menindih sebagian tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Jangan lakukan hal gila! cepat turun, atau kau-"
Ucapannya seketika terhenti, bukan karena dirinya yang kehabisan kata-kata. namun karena Mei yang tiba-tiba mencium bibirnya.
Terkejut? pasti. bahkan tubuh pemuda itu seketika membeku di tempat. tubuhnya mendadak kaku seperti tidak bisa di gerakkan. bibir lembut yang bertaut di bibirnya memberikan sensasi aneh yang sialnya membuat dirinya terbuai.
Seindah inikah ciuman pertamanya dengan orang yang notabene nya adalah cinta pertamanya?. jarak mereka terkikis habis membuat dirinya menjadi kehilangan akal.
Namun bukannya marah, justru Seno malah membalas ciuman itu dan saling bertukar Saliva dengan gadis itu. ia memberi gigitan kecil pada bibir bawah Mei hingga membuat dirinya menemukan celah untuk lidahnya agar lebih mudah masuk ke dalamnya.
Cukup lama ciuman panas mereka berlangsung, hingga akhirnya mereka memilih untuk menghentikannya dan saling beradu pandang hingga tatapan mereka yang tampak saling mengunci.
Mei terkejut saat Seno mendorong keningnya dengan telunjuk. "Gak ada akhlak," gerutunya, namun bukannya merasa bersalah, justru Mei malah terkekeh.
"Kan kamu juga suka, kan?" godanya dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Sedangkan Seno, ia hanya menanggapinya dengan wajahnya yang khas, datar. meskipun wajahnya terlihat datar, namun jauh dari lubuk hatinya, ia sedang merutuki dirinya yang telah menikmati ciuman pertamanya tadi.
"Jangan berani-berani lagi mencium orang sembarangan, kau mengerti kan!" Titahnya yang membuat Mei mengangguk pelan, namun senyumnya masih melebar.
Sekilas Seno melihat jam tangan yang melingkar tepat di pergelangan tangannya. hari sudah memasuki malam, namun dirinya masih tak ingin mengajak gadis itu untuk pulang. jujur, jika dirinya masih menginginkan untuk tetapi aku tinggal.
__ADS_1
Seno beranjak dari duduknya dan berdiri, di susul oleh Mei yang berdiri tepat di sampingnya. "Kau ingin pulang?" Tanya Seno dengan menoleh gadis itu sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya kembali ke depan.