
*akan lebih menyakitkan bila orang yang di percaya melakukan penghianatan*
di perjalanan pulang mei, Seno, dan sendi berjalan beriringan.
"lihatlah bibirmu terluka," ucap mei ketika menatap wajah sendi yang lebam dan bibirnya yang berdarah.
"laki-laki itu tumbuh dengan kekerasan," ucap sendi santai walau sebenarnya badannya remuk Sekarang.
"tapi aku di besarkan oleh orang tuaku dengan baik-baik saja tanpa kekerasan," ucap Seno yang masih menatap jalan yang ada di depannya.
"si sombong ini, lihatlah tanganmu saja terluka," ucap sendi sambil memegang tangan Seno yang terluka karena terjepit pintu toilet, Miko lah dalangnya.
"menjadi usil akan membuatmu dalam kesulitan," ucap Seno tanpa memandang lawan bicaranya.
sendi mengepalkan tangannya siap memberi Bogeman pada munyuk itu, tapi tidak jadi karena mei menahan lengan sendi.
melihat ketidak akuran sendi dan Seno, membuat kepala mei pening. lalu mei meraih tangan sendi dan seno, dan menyatukannya bersama seperti bersalaman.
"hei apa yang kau lakukan?," ucap sendi dan Seno bersamaan kaget melihat apa yang mei lakukan.
"kalian itu berteman, jadi jangan bertengkar lagi," ucap mei nyengir tak berdosa.
"aishhh si gila ini!, dia akan membuat kita jadi aneh juga. ayo pergi," ucap sendi meninggalkan mei yang berada di belakangnya.
Seno yang mendengarnya pun tertawa kemudian mengikuti langkah sendi yang ada di depannya.
"hey kalian jangan tinggalkan aku," ucap mei setengah berteriak dan langsung menyusul mereka berdua. setelah berada di tengah-tengah sendi dan Seno, mei pun merangkul lengan sendi dan Seno bersamaan dan tercipta keheningan.
"hey kau kenapa dari tadi nyengir he?," ucap sendi yang melihat mei sedari tadi nyengir mulu.
brukk...
mei jatuh tersungkur karena tersandung batu sialan itu yang ada di bawah mei. untung Seno menahan tubuh mungil mei, kalau tidak, bisa bencel lagi kaki mulus mei itu.
"hati-hati," ucap Seno lembut lalu membantu mei untuk berdiri.
mei pun hanya cengar-cengir gak jelas karena sangking malunya.
sendi yang sedari tadi melihat adegan tidak menyenangkan di depannya itu langsung melengos tanpa pamit. sebenarnya sendi sempat ingin membantu mei, tapi keburu di serobot Seno yang lebih gesit. apalah daya akhirnya sendi hanya menonton adegan tidak bermutu tadi.
"yieekkk," batin sendi dalam hati.
__ADS_1
"aishh kau meninggalkan ku lagi," ucap mei kesal karena sendi meninggalkan nya untuk yang kedua kali. seno pun mengikuti jalan mei yang sedang mengejar sendi di depan.
mei pun merangkul lengan sendi dan Seno untuk yang kedua kali.
"tadi malam aku mimpi apa ya bisa menggandeng lengan pria-pria tampan ini?," ucap mei masih nyengir memamerkan giginya yang rata tapi satu gigi yang ada di depan itu maju. orang lain sering menyebut itu adalah gigi gingsul. meskipun nyengir-nyengir tidak jelas, mei masih terlihat cantik kok.
"hey di mana lah penglihatan mu itu? aku lebih tampan dari munyuk itu," ucap sendi kepedean.
"terserah apa katamu, tapi aku lebih pandai darimu bloon," ucap Seno girang.
"apalah kalian ini, apa kalian harus bersalaman lagi?," ucap mei.
"apalah kau ini," ucap sendi.
"nah diamlah, jadi aku tidak akan bersusah payah untuk menyuruh kalian berbaikan lagi," ucap mei mengembangkan senyumnya.
*****
mei dan sendi pun sampai di rumah dan
waktu menunjukkan 14.00 waktu setempat, tapi kafe kak tyas hari ini tutup karena semalam suhu tubuh kak tyas panas. mei dan sendi sudah membujuk kak Tyas untuk pergi ke rumah sakit memeriksa keadaannya, tapi kak Tyas tetap tidak mau pergi ke rumah sakit dan mengatakan ingin beristirahat di kamar saja.
"duduklah disini, aku akan mengambilkan krim untuk mengobati lukamu," ucap mei menyuruh sendi untuk
lalu mei kembali menuju tempat sendi berada sambil membawa krim yang ada di tangannya.
"pelan-pelan," ucap sendi kesakitan dan sedikit berteriak ketika mei mengoles krim itu ke bibir sendi yang luka.
"hey diamlah, aku sudah pelan-pelan ini," ucap mei lirih penuh penekanan sambil nabokin pundak sendi agak keras.
"mangkanya lain kali kau jangan terlibat dalam perkelahian," ucap mei masih tetap mengoleskan krim itu.
sendi menatap mei gemas, lah wong dia kok yang nyari mati tadi.
"kalau kau tadi tidak mengejar pencuri itu, aku pasti tidak akan berkelahi dengan pencuri itu," ucap sendi kesal.
"seharusnya kau diamlah di tempat Seno tadi, biar aku saja yang mengejar pencuri itu," ucap mei.
sendi yang mendengar perkataan mei itu pun cuma melongo sebentar.
"orang kok bloonnya kebangetan toh," batin sendi.
__ADS_1
"lalu saat kau telah bertemu dengan pencuri itu, apa yang akan kau lakukan?," ucap sendi gemas, benar-benar gemas.
"ya aku akan meminta pencuri itu untuk mengembalikan tas ibu Seno tanpa ada perkelahian," ucap mei tersenyum lebar.
sebego itu kah pencuri itu? dengan begitu gampangnya dia akan mengembalikan barang curiannya yang susah-susah dia ambil dari korbannya?. sendi benar-benar di buat pusing dengan kampret ini, untung dia cantik. tapi sayangnya bloonnya itu Lo kadang bloon Sampek tingkat dewa.
"terserahlah, kalau aku terus mendengarkan celotehan ngawurmu itu pasti aku juga akan bloon seperti dirimu," ucap sendi pasrah.
mei pun hanya nyengir.
"kenapa kau selalu tersenyum di dekat Si munyuk itu?," ucap sendi kemudian.
"aku suka dekat dengan dia, wangi. hehehehe,"ucap mei polos.
"wangi palalu peang? yang ada wangi jengkol itu orang," ucap sendi kesal.
"kenapa kau selalu sinis sekali padanya. dia kan baik," ucap mei yang melihat perubahan ekspresi dari wajah sendi.
"aku tidak suka dengan munyuk itu," ucap sendi ketus.
"dan kenapa kau selalu jatuh di pelukan dia?," tanya sendi.
"benar juga. selalu saja dia yang menangkapku saat aku terjatuh. aku harus berterima kasih kepada nya besok," ucap mei
"berterima kasih? untuk apa? dia hanya kebetulan saja ada di sebelahmu," ucap sendi sewot.
"apa menurutmu aku dan Seno itu sudah di takdir kan?,"ucap mei bertanya.
"ditakdir kan pantatku! itu hanya kebetulan saja, dan kau jangan terjatuh di dekatnya lagi," ucap sendi bengis.
"tidak akan lagi, jangan khawatir," ucap mei santai.
"hey, kau gila? kenapa kau pakai krim kak Tyas?," ucap sendi mendelik dengan krim yang mei pakaikan di lukanya tadi.
"aku melihat kak Tyas selalu memakai krim ini untuk kaki dan tangannya. mangkanya aku membawakan krim ini kepadamu," ucap mei enteng tak berdosa.
"aishhh benar-benar kau ini. ini krim pemutih kulit," ucap sendi memekik.
mei hanya cengengesan seperti tak punya dosa. benar-benar ceroboh.
"maaf, aku kira krim itu akan meringankan lukamu itu," ucap mei masih cengengesan.
__ADS_1
"benar-benar ceroboh," ucap sendi lalu menyenderkan kepalanya di kursi.