
" Kring....."
" Iya, Dit." jawab Malik.
" Kau ingin membahas apa?" tanya Dito.
" Soal Sinta, ternyata dia di jebak oleh Rio." kata Malik dengan intonasi suara yang cepat.
" Hey, tidak usah terburu-buru gitu ngomong nya. Aku gak jelas denger nya." protes Dito.
" Sinta di jebak oleh Rio, dia memakai identitas palsu agar Sinta datang ke apartemennya." kata Malik.
" Dan Mira terus mendesaknya agar mau menerima Rio, selama kamu di Inggris." kata Malik meneruskan.
" Dan Sinta merasa risih dengan perlakuan mereka." tutur Malik.
" Dia sepertinya sangat merindukan mu." lanjut Malik.
Dito hanya terdiam mendengar cerita Malik.
" Dit, apa kamu masih mendengarkan ku?" tanya Malik.
" Iya, " jawab Dito.
" Lalu apa rencana mu?" tanya Dito.
" Akan aku pikirkan." kata Dito, " Terima kasih, aku akan mentransfer untuk kau jajan. Ku harap kau lindungi Sinta. " kata Dito.
" Apa? Dito akan mentransfer uang. Huft, bisa gak bebas lagi deh! " gerutu Malik dalam hatinya, " Tapi, itung-itung ada tabungan untuk mengajak Puput jalan lagi " tawa Malik di hati kecil nya.
" Lik, apa kau sedang memikirkan Puput?" tanya Dito.
" Oh, enggak. Kenapa?" tanya Malik
" Kok kamu diam saja seperti sedang melamun." tutur Dito.
" Oh ,aku sedang membantu mu mencarikan jalan keluarnya." elak Malik.
__ADS_1
" Ya sudah, ku mohon jagain Sinta ya! Assalamualaikum." ucap Dito memberi salam.
" Wa'alaikum salam." jawab Malik yang langsung menutup sambungan telepon seluler nya.
" Huft, kerjaan lagi." ujar Malik
SINTA
" Kring...." bunyi telepon Sinta berdering.
" Dari Dito.." ucap Sinta yang sudah mengusap layar ponselnya.
" Assalamu'alaikum." sapa Sinta.
" Wa'alaikum salam." jawab Dito.
" Apakah kamu kangen sama aku?" tanya Dito.
" Enggak, idih kepedean." ledek Sinta.
" Untuk apa aku kangen, kan uda ada selimut sama bantal yang ada gambar kamunya." tutur Sinta.
" Oh uda sampe?" tanya Dito.
" Baru aja..!! " jawab Sinta.
" Sepertinya aku akan terduakan oleh selimut dan bantal itu ya?" kata Dito memelas.
" Iya." tegas Sinta.
" Ya udah, aku jadi gak perlu repot-repot untuk menelpon mu." ledek Dito, " Aku jadi tidak harus boros mengeluarkan pulsa."
" Ih, kamu sekarang perhitungan ya!!" ledek Sinta.
" Enggak, aku akan selalu menelpon mu pagi, siang dan malam." kata Dito yang tidak ingin membuat Sinta merasakan rindu yang dalam.
" Aku gak sakit kok..!!! Kamu gak harus menelpon sebanyak itu, kayak minum obat aja tiga kali sehari." canda Sinta
__ADS_1
" Iya, aku kan ingin mengobati rasa rindu kamu." rayu Dito.
" Idih, kamu bisa gombal juga rupanya?" canda Sinta.
" Demi kamu, aku harus bisa segalanya." ucap Dito.
" Ih, apaan sih!!!" malu Sinta yang langsung menggigit ujung jari jempolnya.
" Sin, bisakan kamu bertahan selama lima tahun?" tanya Dito serius.
" Apa, lima tahun?" kaget Sinta.
" Iya, aku akan mengambil gelar S2 disini." tutur Dito.
Terdengar Sinta menghela nafas nya, terasa berat. Dan Dito pun mendengar nya, " Liburan awal semester, aku akan pulang. Tunggu aku ya!" kata Dito yang mencoba menghibur kebahagiaan Sinta.
" Janji?" tanya Sinta.
Dito merasakan kalau saat ini Sinta sangat membutuhkan nya. Terlebih saat dia mendengar Rio sering mengganggu nya.
" Sin, aku percaya padamu. Bisakan kamu menunggu ku sampai lima tahun?" tanya Dito meyakini.
" Aku akan menjaga hatiku sampai kau pulang menemui ku " tutur Sinta.
Dito terlihat senyum sumringah saat Sinta membalas omongan nya.
" Kalau kau butuh sesuatu, telpon Fadli atau Malik. Aku sudah memberikan nya bonus, untuk menjagamu." kata Dito.
" Dito, kalau kamu bersikap seperti ini. Aku jadi enggak enak hati sama Wahyuningsih dan Puput." kesal Sinta, yang merasa kebebasannya terkekang.
" Lantas aku harus bagaimana untuk melindungi mu?" tanya Dito.
-
-
Silahkan like dan berikan komentarmu.
__ADS_1