CINTA SMA

CINTA SMA
Perhatian Rendi


__ADS_3

" Huft, huft, huft..." deru nafasnya tersengal-sengal. Sinta bersembunyi di balik pohon besar.


Mencoba mengistirahatkan kakinya yang sudah memerah. Kaki putih mulus tertusuk bebatuan kerikil, membuat nya memar merah di bagian tapak kakinya.


Saat Sinta merunduk untuk melihat bagian kakinya sambil memijat. Dari arah belakang tiba-tiba mulutnya di sekap. Sinta mencoba berontak, saat dia lihat yang mendekapnya adalah tangan Rendi.


" Teh, kenapa bisa sama CEO tengil itu?" bisik Rendi yang sudah duduk di belakang Sinta.


" Cerita nya panjang," balas Sinta berbisik.


Rio tidak melihat jejak Sinta, dia masih berusaha mencari keberadaan Sinta.


Dari balik pohon besar, Rendi mengintip gerak gerik Rio.


Sinta masih menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menahan rasa sakit di kakinya yang nyeri dan perih.


Mukanya terlihat pucat karena Sinta juga menahan suhu udara yang dingin di area kebun durian.


" Teh, kamu berkeringat dingin dan wajah mu sangat pucat." kata Rendi cemas.


" Iya, aku lapar dan belum makan." jawab Sinta nanar.


" Seperti nya CEO itu sudah menjauh." kata Rendi sambil memperhatikan Rio.


" Teh, kamu salah arah. Kita harus menunggu dia pergi. Karena arah rumah saya harus melewati mobil CEO itu." kata Rendi.


" Oh Tuhan, cobaan apalagi ini." keluh Sinta seraya memejamkan kedua matanya.


" Kakiku sakit sekali Ren!" tutur Sinta.

__ADS_1


" Kok kamu tahu kalau aku ada disini?" tanya Sinta.


" Tadi saya melihat ada mobil mewah masuk ke halaman kebun durian, saya ikuti sampai mobil itu terparkir di atas bukit." tutur Rendi.


" Setahu saya kebun durian ini hanya milik keluarga, dan tidak pernah ada pengunjung. Dan saya penasaran, ketika saya lihat yang turun adalah CEO tengil itu. Saya semakin mendekati ingin bilang jangan masuk ke area kebun durian. "


Sinta hanya terdiam mendengar cerita Rendi.


" Lantas saat saya mendekat, tahu-tahu ada Teh Sinta yang langsung berlari. Jadi saya pun berlari mengikuti teh Sinta.'


" Setahu saya, Teh Sinta kesini kan sama Dito!" Kata Rendi yang semakin bingung.


" Ren, apakah orang itu sudah menjauh?" tanya Sinta sambil meringis kesakitan.


" Sebentar teh, !" kata Rendi yang berdiri dan melihat ke arah belakang. " Seperti nya dia sudah menjauh."


Sinta pun mencoba berdiri, namun kakinya tidak sanggup menahan pijakan karena luka di tapak kakinya.


" Teh, bisa berjalan?" tanya Rendi yang membungkukkan badannya.


" Sepertinya tidak, sakit sekali." kata Sinta meringis.


" Sini Teh, saya gendong." kata Rendi menawarkan bantuan.


" Tapi, Ren!"


" Biar cepat terobati kaki Teh Sinta!" rayu Rendi.


" Baiklah, " kata Sinta mengiyakan.

__ADS_1


Rendi menggendong Sinta di belakang punggungnya.


" Berat ya, Ren?" tanya Sinta.


" Tidak, Teh. Saya kan udah biasa angkat-angkat buah durian." kata Rendi meledeknya.


" Oh, jadi berat ku sama dengan buah durian?"


" Tidak, Teh. Itu hanya perumpamaan." kata Rendi menjelaskan.


" Maafkan aku yang selalu merepotkan mu, Ren!" kata Sinta


" Tidak, Teh. Saya justru malah senang bisa membantu Teh Sinta." tutur Rendi.


Jalan yang di lalui semakin mendaki, sementara mobil Rio masih terparkir di atas bukit.


Rendi menghentikan langkahnya, dan mencoba memikirkan cara agar Rio segera pergi dari kebun durian.


" Teh, tunggu disini." kata Rendi yang menurunkan Sinta.


" Kamu mau apa, Ren?" tanya Sinta.


" Saya akan menghampiri CEO tengil itu dan menyuruh untuk keluar dari kebun ini." kata Rendi.


" Apa dia tidak akan curiga?" tanya Sinta.


" Saya yakin tidak." kata Rendi yang langsung berdiri dan menghampiri Rio.


-

__ADS_1


-


Silakan simak episode selanjutnya. Jangan lupa like ya!


__ADS_2