
Sinta dan Dito sampai di sebuah villa, yang sesuai keinginan Sinta. Mereka kini berada di pantai ujung genteng. Vila berkonsep rumah tradisional, dengan view keindahan dari pantai. Sehingga saat keluar pintu belakang, maka tampaklah pantai yang berwarna biru dengan ombak yang tenang.
" Gimana, kamu suka?" tanya Dito yang sudah memarkir mobilnya.
" Suka." jawab Sinta yang wajah nya terlihat bahagia. Sejenak dia bisa melupakan kejadian yang dia alami tadi malam.
Untungnya Sinta mengenakan kaus dalam, sehingga saat di buka paksa oleh Rio maka dadanya tidak terlihat. Jadi Rio memang sama sekali belum melihat tubuh Sinta. Tapi Sinta saat ini memang trauma.
" Kita menghabiskan liburan disini, karena aku sudah terlanjur janji dan ijin pada mama dan ayah." kata Dito yang menuntun tangan Sinta menuju penginapan.
Lalu Dito menaruh baju yang tadi dia beli untuk Sinta di dalam lemari. Tidak lupa dia membeli handuk, dan perlengkapan sabun dan teman-temannya. Cemilan pun sudah bertumpuk dan aneka minuman kaleng di masukan ke kulkas.
" Dit, memang kita akan berapa hari disini?" tanya Sinta.
" Sampai kamu puas." jawab Dito.
" Tapi kerjaanmu yang di Yogyakarta gimana?" tanya Sinta.
" Oh, itu hanya alasan ku pada mama, agar kau di setujui jalan bersama ku." jawab Dito dengan jujur
" Ih dasar, tukang bohong.." kata Sinta yang mengejar Dito, lalu mereka bermain di pinggir pantai.
__ADS_1
Sinta dan Dito saling kejar-kejaran seperti anak kecil. Mereka melakukan selfi, dan Dito mengirimkan kepada Malik dan Fadli. Agar foto dirinya di tunjukkan ke Rio.
" Eh liat nih Dito, bahagia banget." lirik Malik ke arah Fadli seraya memamerkan foto di handphone nya dan Rio pun melihat nya.
" Iya, jadi iri. Besok kita ajak cewek kita jalan-jalan." kata Fadli membalas sambil tersenyum meledek.
" Eh kamu minta bonus sama Dito, biar bisa ajak cewek kita." ucap Malik menyindir Rio.
" Eh hati-hati, ntar cewek kita di ambil orang juga. Besok kalo jalan-jalan pegangin yang kenceng." sindir Malik lagi
" Hey apa maksud mu?" emosi Rio mendengar sindiran Malik.
Rio hanya cemberut melihat mereka sedang mengolok-olok nya.
" Makanya kalau udah punya orang jangan main ambil paksa, kayak cewe cuma satu doang." kata Malik lagi menyindirnya.
" Hey, mulutmu kayak ibu-ibu. Suka banget bergosip." cibir Rio.
" Masa?" ledek Malik.
" Udah, Lik. Jangan ngeledek mulu, berisik tahu. " ujar Fadli.
__ADS_1
" Eh bos tengil, sebaiknya hari ini kau cek soal perusahaan mu. Aku tidak tahu apa yang Dito sudah lakukan, dan sebaiknya kamu jangan dekati Sinta lagi. Membuat kerjaanku bertambah aja." gerutu Fadli.
" Cih, bukan kah enak kalian akan mendapatkan bayaran dari Dito." ejek Rio
" Nih manusia gak ada sadarnya." kesal Malik yang ingin menonjok Rio namun di tahan oleh Fadli.
" Uda, Lik. Kamu akan ngotorin tangan aja kalo mukul dia. Biar dia tahu rasa soal perusahaan nya " kata Fadli yang menahan tangan Malik.
Malik hanya menatap Rio dengan wajah yang emosi.
Lalu mereka sudah selesai dengan tugasnya, Rio di tinggal di tengah kota setelah mengantarkan Malik dan Fadli. Sedangkan Aril naik ojek online.
" Sial, mereka benar-benar membuatku kesal." umpat Rio yang memukul stir mobilnya.
Rio langsung menuju apartemennya, setelah itu akan ke kantor untuk mengecek semua yang dikatakan Dito tadj malam.
-
-
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1