
" Pak Ridwan, kami berterima kasih karena bapak telah membimbing kami." kata Puput yang mewakili teman-temannya.
" Iya, semoga kalian menjadi siswa yang sukses ya!" kata Pak Ridwan.
Mereka pun saling bersalam-salaman, ada yang terharu, dan tersenyum melepaskan kepergian para siswa magang.
" Sin, apa kau ingin ke ruang CEO?" tanya Wahyuningsih.
" Seperti nya tidak perlu." jawab Sinta.
Setelah berswa foto bersama karyawan di kantor, mereka langsung menuju lift untuk bergegas pulang.
Rio belum mengetahui kalau mereka akan pamit pada hari ini. Karena setahu dia, besok adalah hari terakhir Sinta magang di kantor nya.
Lalu Pak Ridwan pun masuk ke ruangan Rio dengan mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
" Tok, tok, tok.. "
" Siapa?"
" Saya, Ridwan. Pak!" kata Ridwan dari arah luar pintu.
" Masuklah."
" Permisi, Pak. Mau minta tanda tangan para siswa magang." kata Ridwan menjelaskan kedatangannya.
" Bukannya masih ada hari esok?" tanya Rio.
" Barusan mereka sudah berpamitan dan bersalaman kepada seluruh karyawan." kata Ridwan.
" Apa?" sontak Rio pun kaget mendengar pemberitahuan dari Ridwan.
__ADS_1
" Hari ini mereka sudah pamit?" tanya Rio.
" Iya, Pak!" kata Ridwan.
Lalu Rio pun menjadi resah dan mersa gelisah karena besok dia tidak akan melihat Sinta lagi di kantornya.
" Biar aku saja yang memberikan berkas untuk di kembalikan pada siswa besok." kata Rio mencari alasan.
" Baik, Pak. Ini berkas laporan yang harus di tanda tangani." kata Ridwan.
Lalu Rio menandatangani berkas yang sudah di berikan oleh Ridwan. Dia hanya mengambil berkas Sinta dan berkas yang lain di taruh di atas meja.
Besok adalah hari sabtu, pastinya semua kegiatan perkantoran dan sekolah pun libur. Jadi Rio berniat untuk langsung ke rumah Sinta. Di berkas tertera nomor telepon yang bisa di hubungi. Rio akan langsung mengantarkan ke rumah Sinta.
Dia tidak perduli jika sudah sampai di rumah Sinta, apakah nanti di terima atau di tolak.
Dia melihat Sinta dari ke jauhan yang sedang menuju halte busway bersama teman-temannya.
" Sin, besok senin siapa yang akan mengambil berkas laporan?" tanya Wahyuningsih.
" Kurasa Rendi saja." usul Sinta.
" Bagaimana Ren?" tanya Sinta.
" Baik, Teh." jawab Rendi.
" Aku sudah malas datang ke kantor itu." tutur Sinta.
" Ya, aku tahu alasan mu." kata Wahyuningsih menambahkan.
" Sin, apakah dia benar-benar mencintai mu?" tanya Puput.
__ADS_1
" Seperti nya." jawab Sinta.
" Tuh kan, mulai lagi deh jawaban nya hanya singkat." kata Puput yang penasaran.
"Aku harus jawab apa?" tanya Sinta balik.
Lalu busway yang akan mereka naiki sudah sampai dan berhenti di halte. Mereka berempat pun naik busway.
" Apakah Dito mengetahui kalau CEO tengil itu menyukaimu?" tanya Puput menyelidik.
" Kalau kalian tidak bilang, dia tidak akan tahu." jawab Sinta.
" Lalu sampai saat ini Dito belum mengetahui nya?" tanya Puput penasaran.
" Belum." kata Sinta," Aku tidak ingin membuatnya cemburu."
" Sebaiknya jangan kau beritahu, itu juga akan mengganggu kegiatan Dito disana nanti." ucap Puput menjelaskan kepada Sinta.
Satu persatu dari mereka sudah turun di halte arah tempat tinggal masing-masing. Hanya tinggal Sinta sendiri yang akan turun di halte terakhir.
Petugas memberi tahu kepada penumpang kalau halte terakhir sudah sampai. Dan semua pun keluar dengan tertib.
Seperti biasanya, Sinta menunggu angkutan umum yang akan menuju ke arah rumahnya di halte.
Sedan putih pun melintas di depan Sinta, terlihat pemiliknya membuka kaca mobil dengan perlahan.
" Tuan." kata Sinta sambil menundukkan kepalanya.
-
-
__ADS_1
Dukung terus karya author dengan cara like vote dan berikan komentar mu.