
Lagi-lagi Rio mulai mengusik Sinta, dia menunggu Sinta di parkiran sekolah.
Dengan gayanya yang nyentrik khas pengusaha muda, seketika para siswi pun melihat kagum ke arahnya. Rio menunggu Sinta di luar mobil nya. Setiap siswi yang melintas, memandang nya penuh ke kaguman.
" Ehem..." suara salah satu siswi yang menggodanya.
" Wis, cowok keren itu lagi nungguin siapa ya?" suara kasak kusuk yang terdengar di telinga Rio
Rio merasa bangga karena telah di puji oleh para siswi.
Dari jauh terlihat Rendi dan Selvi yang akan keluar pintu gerbang.
" Hey bocah ingusan.." panggil Rio kepada Rendi.
Rendi mengacuhkan panggilan Rio, karena memang namanya bukan bocah ingusan.
" Ren, cowok itu manggil kamu." bisik Selvi.
Lalu Rendi menghampiri Rio, walaupun dia tidak suka di panggil bocah ingusan.
" Apa yang anda lakukan disini?" tanya Rendi yang sudah berdiri di depan Rio.
" Aku ingin menjemput Sinta." jawab Rio.
" Tuan, apakah anda tidak paham dengan maksud saya sewaktu di kebun durian?" tanya Rendi yang menajamkan pandangan nya ke arah Rio.
" Halah, Dito kan sekarang di luar negeri. Pasti Sinta kesepian." tutur Rio.
__ADS_1
" Maaf Tuan, disini banyak teman dan sahabat nya. Jadi jangan ganggu Teh Sinta." ucap Rendi.
" Kamu gak usah ikut campur urusan orang, urusi aja tuh pacar kamu." kata Rio yang menunjukkan jari telunjuk ke arah Selvi.
Mata Rendi mengikuti gerak tangan Rio.
" Saya sudah di amanatkan untuk menjaga Teh Sinta." ungkap Rendi.
" Dibayar berapa kamu sama Dito?" cibir Rio yang merendahkan Rendi.
Seketika tangan Rendi melayangkan tamparan ke pipi Rio. " Plak,,, "
Selvi terkejut melihat kejadian yang dia lihat.
" Hey, kau.." kata Rio yang ingin membalas tamparan Rendi namun di hadang oleh Sinta
" Sin..." ucap Rio, " Dia yang menamparku lebih dulu." katanya membela diri.
" Maaf, Tuan. Saya tidak di bayar oleh Dito. Saya sudah berjanji kepada Teh Sinta untuk selalu menjaganya." kata Rendi yang berlalu meninggalkan Rio. Selvi pun mengekor di belakang Rendi.
" Ren, kamu gak apa-apa." tanya Selvi yang menyusul Rendi.
Sementara Sinta masih menghadapi Rio yang keras kepala.
" Sebaiknya kamu jangan pernah menggangguku lagi." ujar Sinta.
" Apa kamu uda gak punya muka Tuan CEO tengil, sudah di tolak masih aja nyamperin." ketus Puput dengan pandangan sinis.
__ADS_1
" Sin, kamu harus tahu kalau aku benar-benar menyukai mu." kata Rio yang berlutut dan memegang tangan Sinta, terlihat dia sudah menjatuhkan harga dirinya.
" Sin, ayo pulang." panggil Fadli yang sudah menjemput Sinta.
" Oh jadi kamu punya supir pribadi?" cibir Rio, " Hey kamu, dibayar berapa oleh Dito untuk jadi supir Sinta?" ucap Rio yang melihat ke arah Fadli .
"Plak ..." satu tamparan lagi mendarat di pipi Rio.
" Bisa gak, kamu menghormati orang lain. Dan jangan pernah menyinggung perasaan orang lain!" ucap Sinta yang menatap Rio tajam.
" Sin, bukan begitu maksud ku.." kata Rio yang ingin mengejar Sinta. Namun langkah nya di hentikan oleh Puput dan Malik serta Wahyuningsih.
Sinta pun menghampiri motor Fadli, dan dia pun naik ke motornya.
" Hey, lepaskan aku." teriak Rio yang berusaha melepaskan diri.
Fadli melajukan motornya meninggalkan sekolah Sinta.
" Ish, kalian merusak rencanaku saja." geram Rio yang sudah di lepaskan oleh mereka bertiga.
" Dengan CEO tengil, jangan pernah mengusik hubungan Sinta dan Dito." ancam Puput.
" Apa kamu gak laku ya? Sampai mengejar Sinta kayak gitu!" sindir Wahyuningsih yang meninggalkan Rio dengan mukanya yang kesal.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan Rio.
-
__ADS_1
Silakan like dan berikan komentar mu.