
" Sin, kamu lagi dimana?"
" Aku----"
" Memang ada apa?"
" Aku sudah di depan gang rumah mu."
Lalu Sinta menutup sambungan telepon seluler nya.
" Kamu kenapa gak bilang-bilang kalau mau ke rumahku?" tanya Sinta.
" Aku hanya ingin membuat kejutan." kata Dito.
" Apa mobil itu mengantarkan kau pulang setiap hari?" tanya Dito yang curiga melihat Sinta turun dari mobil sedan putih.
Sinta pun terdiam, dia tak cukup banyak kata untuk menjelaskan kejadian tadi.
" Apa kau curiga kepada ku?" tanya Sinta.
" Sedikit." jawab Dito.
" Baik nanti akan aku jelaskan. Apa kau ingin mampir ke rumahku?" tanya Sinta
" Aku akan menjemputmu besok." kata Dito.
" Mau kemana?" tanya Sinta.
__ADS_1
" Pagi jam tujuh kau harus sudah rapi." kata Dito yang langsung naik ke motor nya.
" Nanti kau akan tahu, aku pergi dulu."
" Iya," kata Sinta sambil tersenyum.
Dito pun pergi meninggalkan Sinta, dan Sinta langsung bergegas masuk ke dalam gang rumahnya.
Sinta menyentuh bibirnya yang tadi di kecup oleh Rio. Ingin rasanya dia marah karena Rio telah berani mengecup bibirnya. Seandainya Dito tahu akan hal itu mungkin dia akan sangat marah dan cemburu.
Sepanjang jalan menuju rumahnya batinnya terus bergejolak memikirkan kejadian di dalam mobil tadi.
Sinta menyesal kenapa dia mau saja menuruti ajakan Rio untuk naik ke mobilnya. Tapi untuk besok dan seterusnya dirinya tidak lagi ke kantor Rio. Jadi hatinya bisa tenang karena tidak adalagi yang mengusik hubungan nya dengan Dito.
Di tempat lain Dito menyusul sedan berwarna putih yang mengantarkan Sinta pulang. Di lihatnya plat nomor yang berjejer di lampu merah. Dia sangat mengetahui kalau sedan putih yanh mengantarkan Sinta adalah kepunyaan sepupu Mira.
Dito melihat sedan putih berplat nomor yang tadi di tumpangi oleh Sinta berada di barisan paling depan. Dito menyusul mendahului mobil-mobil yang berbaris di belakang sedan putih.
Arahnya pun berbelok kanan, saat mobil sedan putih sudah berada di posisi normal arah jalanan lurus. Dito pun mempercepat laju motor nya dan menghadang nya dari arah depan.
Seketika mobil sedan putih berhenti mendadak karena di halang oleh motor Dito.
Rio tertegun melihat ada seorang pengendara motor yang menghalangi jalannya. Dia pun turun dari mobilnya.
" Hey apa kau mau mati?" teriak Rio yang langsung menghampiri pengendara motor.
Dito pun membuka helm fullface yang menutupi kepalanya.
__ADS_1
" Dito!" seru Rio.
" Apa kau sudah gila, atau mau mati." bentak Rio.
" Aku hanya memperingatkanmu, jangan pernah dekati Sinta." kata Dito mengancam.
" Apa Sinta tidak cerita kepada mu kalau aku tadi habis mencium bibirnya!" kata Rio yang memancing emosi Dito.
" Apa?" kata Dito yang langsung turun dari motor nya lalu mencengkeram kerah kemeja putih Rio.
" Apa maksudmu telah menciumi Sinta." kata Dito yang sedang tersulut emosi.
" Senyum di bibirnya menarik perhatian ku untuk menciumnya." kata Rio meledek.
" Tidak mungkin Sinta mau melakukan nya." kata Dito.
" Kau tanya saja kenapa tadi dia memejamkan matanya, apa itu bukan berarti ingin menerima ciuman dariku!"
" Kau dan Mira sama saja, sama-sama licik." bentak Dito.
Lalu Dito mendorong tubuh Rio ke arah mobilnya, dan Dito langsung naik ke motor dan pergi meninggalkan Rio.
Rio pun tersenyum sinis melihat kemarahan Dito. Hatinya gembira karena membuat Dito tersulut emosi.
-
-
__ADS_1
Jangan lupa dukung karya author dengan cara like, vote dan berikan komentarmu.