
Seno terlihat mengatur ritme nafasnya hingga terlihat normal kembali, lalu Seno melihat Sendi dengan tatapan tajam.
"kau sinting, kau kan bisa bela diri. tapi kenapa kau malah pasrah ketika mereka berdua menghajarmu habis-habisan hingga wajahmu itu penuh dengan luka lebam, hah?," ucap Seno tak dapat menahan amarahnya.
Sendi tetap diam tak bergeming, ia masih tetap diam menatap wajah Seno tanpa ekspresi.
"kenapa kau melihatku seperti itu?," tanya Seno masih dengan nada tinggi.
"kenapa kau tak membiarkan ku di hajar oleh kedua pria itu? kenapa kau malah memberhentikan aksi mereka tadi?," ucap Sendi masih tanpa ekspresi.
Seno mulai mendekati Sendi dan mulai meraih kerah bajunya kasar.
"apa kau ingin mati di hajar kedua pria tadi? apa benar kau ingin mati, hah?," tanya Seno geram, lalu Seno semakin mempererat cengkramannya di kerah baju Sendi.
"bunuh aku saja Sen, bunuh aku...," ucap Sendi lirih.
"kenapa?," tanya Seno dengan suara yang mulai melunak ketika ia melihat mata Sendi berkaca-kaca.
__ADS_1
"aku ingin hidup dengan Mei di sana Sen, aku sungguh tidak sanggup lagi. aku pernah berjanji padanya untuk selalu ada di sampingnya, dan sekarang ini aku sedang berusaha untuk menemuinya. bantu aku... bantu aku. ini sama saja aku mengingkari janji, aku sakit Sen," ucap Sendi melemah. tubuh Sendi seketika ambruk dan jatuh terduduk di aspal, dan Sendi menyandarkan tubuhnya di dinding.
"bukan dengan cara seperti ini Sen," ucap Seno dengan suara terendahnya.
untuk pertama kalinya Seno melihat kerapuhan yang terlihat di diri Sendi, air mata Seno pun ikut tersapu di sana.
"Mei..." Sendi memejamkan kedua matanya, menyebut nama itu dengan begitu sesak.
"maafkan aku, karena aku semuanya seperti ini. karena kebodohanku, Mei menghilang," Seno menundukkan kepalanya menahan air matanya, ia begitu bersalah atas apa yang ia lakukan pada Mei. karena Rasa penasarannya, Mei menghilang dari bumi ini.
"kenapa kau tidak melanjutkannya, pukul aku Sendi, pukul aku jika itu akan membuatmu sedikit lebih lega. aku memang bersalah dalam hal ini, ini karena kebodohanku," Seno berkata lirih, tatapan mereka saling bertemu.
Sendi melepaskan cengkeramannya di kerah baju Seno dan mulai menatap dalam kedua matanya. cukup lama Sendi menatap mata Seno, hingga Sendi menghentikan tatapannya dan berjalan pergi meninggalkan Seno sendiri.
tapi sebelum Sendi benar-benar pergi, ia memutar badannya menghadap kembali ke arah Seno. "kau saudaraku, aku tidak mau melukaimu. pulanglah ini sudah malam, ayah dan ibu pasti khawatir pada kita,"
setelah Sendi mengatakan itu, ia pun berjalan gontai untuk kembali pulang meninggalkan Seno.
__ADS_1
sedangkan Seno, ia berjalan mendekati sepedanya lalu menaikinya dan mengayuh sepedanya menuju rumah.
Sendi dan Seno tampak sampai di rumah bersamaan. saat mereka berdua akan masuk ke dalam rumah, mereka melihat Bu susi dan pak Johan sedang duduk di salah satu kursi yang ada di kafe tersebut.
Bu Susi menatap kedua wajah tampan anak-anaknya dan saat matanya beralih menatap wajah Sendi, ia begitu terkejut karena luka lebam yang ada di pelipis kiri Sendi.
"apa yang terjadi padamu Sendi?,"
-
-
-
readers jangan lupa dukungannya lewat like, coment, poin and koin.
salangeyoo...
__ADS_1