CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 16


__ADS_3

terdengar bel mulai berbunyi, dan terlihat banyak siswa yang berhamburan keluar dari kelas.


"kenapa mereka semua membawa tas? bukannya sekarang ini waktunya istirahat ya?," Sendi bergumam sendiri sambil menopang dagunya menggunakan tangan kanannya.


lalu Seno memanggil salah satu siswa yang lewat dan menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.


"kau mau kemana? dan kenapa siswa lain juga membawa tas? bukannya sekarang ini masih istirahat?," racau Seno beruntutan bertanya pada siswa tersebut.


"Bu Ninda menyuruh kita untuk langsung pulang karena rapat di ruang guru belum selesai," ucap siswa itu menjawab pertanyaan Seno dan Sendi.


"oh, baiklah kau bisa pulang,"


setelah siswa itu berjalan pergi, Sendi dan Seno langsung berjalan dengan gontai menuju ke dalam kelas dan mengambil tas mereka masing-masing. saat Sendi dan Seno hendak keluar dari kelas, mereka berdua berpapasan dengan Miko, Dika, dan Pungky.


"nanti kalian berdua datanglah lagi ke sekolah, kita main di lapangan untuk main basket. kalian mau?," tawar Miko dengan memandang wajah Sendi dan Seno bergantian.


"ayolah sekali-kali kita main," imbuh Dika dengan bersemangat.


"aku tidak mau," setelah mengatakan itu Seno melewati Miko, Dika, dan Pungky.


"kau akan menyesal jika tidak ikut," ucap Pungky hingga berhasil membuat langkah Seno terhenti. lalu Seno memutar badannya menghadap mereka dengan raut wajah yang datar.


hening tak ada yang melontarkan kata-kata.


"kenapa aku harus menyesal?," ucap Seno dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"karena berarti kau sudah mengaku kalah sebelum bertanding karena langsung menolak mentah-mentah tawaran kami untuk bermain basket. dengan caramu yang menolak kami dan tak mengikuti kami untuk main basket, kau adalah seorang pecundang," ucap Miko dengan sudut bibir yang terangkat.


"hanya aku dan Sendi anggotanya? sedangkan kalian bertiga?," seru Seno.


"hei jangan abaikan aku, aku juga mau ikut," rengek Danu yang tiba-tiba muncul entah dari arah mana.

__ADS_1


"oke, kita lanjut nanti. bye," Dika melambaikan kedua tangannya ke udara.


lalu Sendi pun mengajak Seno dan Danu untuk pulang dulu.


sesampainya di kafe, Sendi dan Seno pun masuk ke dalam kamar dan bergantian membersihkan diri di kamar mandi. sedangkan Danu sudah pulang ke rumahnya.


mereka berdua memakai baju olahraga sekolah.


"kau begitu terlihat bersemangat sekali," ucap Seno ketika melihat Sendi yang tengah bercermin di kaca besar di hadapannya.


"Hem," Sendi hanya berdehem. lalu Sendi pun mengajak Seno keluar kamar untuk pergi ke sekolah lagi.


sebelum itu Seno tengah mengotak-atik layar ponselnya dan tampak mengetikkan pesan pada seseorang.


Sendi yang melihatnya pun bertanya padanya.


"mengirim pesan untuk siapa?," tanya Sendi.


sendi dan Seno melihat Tara yang tengah mengobrol dengan Bu Susi, seketika itu pula mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ke arah Bu Susi dan Tara.


"kau mau kemana?," tanya Seno pada Tara ketika ia sudah ada di antara mereka berdua.


ia melihat tas Tara yang menggelantung indah di pundaknya.


"jam kerjaku sudah selesai, dan aku ingin pamit pulang pada Bu Susi dan juga kalian berdua," ucap Tara dengan wajah yang menunduk.


"ikutlah kami, biar kami yang mengantarmu pulang Tara," ucap Seno memberi tawaran.


"tidak terima kasih, aku pulang sendiri saja," ucap Tara menolak secara halus.


"kalian berdua mau kemana? kenapa kalian berdua memakai baju olahraga sekolah?," Bu Susi akhirnya membuka suara setelah dari tadi ia hanya diam mendengarkan dialog antara Seno dan Tara. sedangkan Sendi, ia hanya diam dengan tatapan datar tanpa ekspresi menatap orang-orang di hadapannya ini.

__ADS_1


"kami mau ke sekolah Bu, anak-anak mengajak kami untuk bermain basket di sana," ucap Seno menjelaskan.


"baiklah, Tara, rumahmu kan searah dengan sekolah. lebih baik kau ikutlah mereka biar mereka menemanimu," ucap Bu Susi dengan menepiskan senyumnya. Tara yang tak bisa menolak pun akhirnya terpaksa ikut dengan mereka berdua.


mereka bertiga pun keluar dari rumah dan berjalan beriringan dengan Tara yang di tengah, di apit oleh kedua pria tampan dan menawan.


"inikah yang di rasakan mei waktu dia ada di sini?," gumamnya dalam hati. dan tak terasa tiba-tiba kedua sudut bibirnya terangkat ke atas menunjukkan senyum manisnya.


"kau tinggal sendirian?," tanya Seno pada Tara hingga Tara tersadar dari lamunannya.


"ehm um iya, aku tinggal sendirian," ucap Tara gelagapan.


"dimana kedua orang tuamu?," tanya nya lagi.


"a-aku tidak punya ayah dan ibu," ucapnya yang seketika membuatnya menunduk.


Sendi nampak terus menatap jalanan yang ada di depannya. ia begitu tidak berselera untuk mengikuti arah pembicaraan mereka.


"ikutlah kami ke sekolah," ucap Seno langsung, membuat Tara seketika mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Seno yang tadi ia sempat menunduk.


"apa kau mempunyai niat untuk menjadikanku obat nyamuk?," tanyanya tanpa menoleh ke orang yang di ajaknya berbicara. sendi masih menatap jalanan di depannya dengan kedua tangan yang masuk di saku celana training nya.


"kau mengira seperti itu?," Seno balik bertanya pada Sendi.


"biarlah dia ikut bersama kita. aku juga ingin memperkenalkan dia dengan anak-anak agar besok dia tidak canggung," sambungnya.


sebenarnya Tara hendak menolak untuk ikut mereka ke sekolah, tapi karena Seno terus memaksanya akhirnya ia pun mengikuti langkah Sendi dan Seno ke lapangan sekolah.


di sana hanya terlihat Danu saja sendirian.


"mana yang lain?," tanya Seno setelah ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari teman yang lain. dan Danu hanya mengendikkan bahunya tak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2