
"pak Johan,"ucap sendi ketika melihat pria tegap di depan pintu tempat kak Tyas di rawat.
"sendi,mei"ucap pak Johan kaget melihat anak didiknya ada di rumah sakit.
"ini kamar rawat kak Tyas kan?,"tanya sendi memastikan.
"i iya,apa kau adiknya tyas?,"pak Johan balik tanya.
"iya aku adiknya,"ucap sendi.
"dimana kak Tyas pak?,"lanjut sendi.
"dia sedang di periksa dokter, maafkan saya,"ucap pak Johan lirih.
"kenapa pak Johan meminta maaf,"tanya sendi tak mengerti.
"maaf aku lah yang telah menabrak kakakmu, "ucap pak Johan sedih.
"kau?, "ucap Sendy tertahan.
"maafkan aku karena sudah menabrak kakakmu, aku tidak sengaja melakukannya karena tadi waktu di jalan aku sedang terburu-buru,"ucap pak Johan sambil menunduk.
"kau tau dia adalah satu-satunya keluargaku yang masih ada,"ucap sendi menahan marah.
"maaf dokter bagaimana keadaan kakak saya, "ucap Mei panik ketika dokter sudah keluar dari kamar pasien.
"keadaannya kritis,dan sekarang dia masih dalam keadaan koma.hanya kemungkinan kecil dia bisa selamat "ucap dokter itu.
"apa yang kau bicarakan dok?,kak Tyas pasti baik-baik saja kan?,"ucap sendi kalut karena ucapan dokter tadi.
"baiklah saya permisi dulu, silahkan jika kalian ingin menjenguk pasien,"ucap dokter itu berlalu pergi.
dengan tergesa-gesa mei, sendi,dan pak Johan masuk ke dalam ruangan Tyas.mereka melihat kak Tyas yang matanya masih terpejam. melihat keadaan kak Tyas yang seperti ini benar-benar membuat sendi kalut.ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
"kak,"ucap sendi lirih bahkan nyaris tak terdengar.
"kak,maaf aku tidak bisa menjagamu,"ucap sendi sambil memegang tangan kak Tyas yang masih lemah.
mei mencoba menenangkan sendi yang terus-menerus menyuruh kak Tyas untuk cepat bangun.sendi begitu terpukul dengan keadaan kak Tyas.pak Johan terus merutuki dirinya sendiri karena telah berbuat kesalahan besar.
__ADS_1
mei menatap mesin di sampingnya yang memperlihatkan garis di mesin itu menjadi lurus,dan sendi mengikuti arah pandang mei melihat mesin itu juga.
"dok,dokter,"ucap sendi berlari ke luar kamar pasien dan memanggil manggil dokter.
saat sendi menemukan dokter yang ia cari,ia pun menyuruh dokter itu ke kamar pasien kak tyas dan menyuruhnya untuk memeriksa kakaknya yang terkapar tak berdaya.
"maaf,hanya sampai sini saja saya bisa membantu.pasien tidak dapat di selamatkan lagi,"ucap dokter itu lalu menyelimuti tubuh kak Tyas sampai menutupi kepalanya hingga tak terlihat.sendi benar-benar tak sanggup jika harus kehilangan kak tyas.,sendi tak sanggup jika hidup sendiri,dia benar-benar tidak sanggup.
"kenapa kau meninggalkanku secepat ini?,"batin sendi dalam hati.
sendi tak percaya dengan semua ini. Dia menggoyang-goyangkan tubuh kak tyas dan meminta kakaknya untuk segera bangun. Tapi kak tyas tetep tak bangun-bangun. sendi menangis dan berkata kalau dia belum berbuat apapun untuk kak tyas, mana bisa dia hidup seorang diri? danu yang tiba-tiba hadir pun ikut menangis melihat sahabatnya itu bersedih.
iya,mei tadi menelpon Danu dan menyuruhnya kemari.
mei pun bisa melihat roh kak tyas yang berjalan keluar mendekati tara malaikat.mei mengejar keduanya dan memanggil kak Tyas.mereka ada di depan rumah sakit. tara dan kak tyas menoleh saat mei memanggilnya.
" semua tidak akan ada yang berubah meski apapun yang kau lakukan mei,"ucap Tara
"ku mohon Tara,bisa tidak kalau roh kak Tyas jangan di bawa dulu,"ucap mei memohon.
"kau bisa melihatku mei?,"ucap kak Tyas yang menatap mei tak percaya.
"aku hanya ingin agar kak tyas bisa mengucapkan selamat tinggal untuk sendi yang terakhir kali,"ucap mei lirih.
“Aku tahu takdir tak bisa berubah. Manusia pasti mati. Kematian seseorang adalah kepastian. Itu sebabnya sekarang aku menerima hukuman. Andai kutahu betapa sakitnya, aku akan baik saat mengambil nyawa orang yang meninggal. Setidaknya akan kuberikan waktu pada mereka untuk mengucapkan selamat tinggal. Akan kuberitahu mereka dengan ramah soal orang-orang yang akan ditinggalkan.”ucap mei sendu.
Baru kali ini dia benar-benar menyaksikan rasa kehilangan orang yang begitu kita cintai untuk selamanya. Begitu tersiksanya merasakan kehilangan.
"mei,apa kau tahu, kau selalu terlihat makin cantik saat tersenyum. Jadi tersenyumlah selalu untuk sendi.”ucap kak Tyas.
mei mengangguk dan menggenggam tangan kak Tyas.
"aku titip sendi padamu mei,"ucap kak Tyas lalu berlalu pergi mengikuti Tara yang ada di depannya.
mei pun berjalan masuk ke rumah sakit lagi dan duduk di bangku lobi.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mengatakan pada sendi kalau aku akan pergi? sendi pasti sebatang kara karena kak tyas baru saja meninggal,"gumam mei.
"apa kau mau pergi?,"ucap sendi yang tiba-tiba berada di samping mei.
__ADS_1
mei yang kaget melihat sendi pun langsung berdiri.
"i iya,aku harus pergi,"ucap mei tergagap.
mei kasihan melihat keadaan sendi yang mengenaskan.mata sembab,kantung mata yang menghitam dan masih terlihat sisa kesedihan yang terpancar di mata sendi.
"apa ingatanmu sudah kembali?,"tanya sendi lagi.
"eum,iya.maaf aku baru mengatakannya sekarang.aku harus secepatnya pergi,"ucap mei menunduk.
"pergilah,"ucap sendi lalu berlalu pergi meninggalkan mei sendiri.
sendi mengucapkan itu karena dia ingin menutupi kekecewaannya.
"setelah kehilangan kak Tyas,apa aku juga akan kehilangan mei?"batin sendi di dalam hati.
*****
Di rumah duka semua yang mengenal kak tyas datang untuk ikut berbela sungkawa. mei sudah memakai baju malaikatnya dan menatap semua yang hadir.guru-guru sekaligus teman-teman yang mengenal mei dan sendi pun ikut hadir,tidak luput juga dengan Seno,Danu,Sinta,Sasa,Dika,dan pungky.tapi tak terlihat Miko di sana.
sebrengs*k-brengs*k nya Dika dan pungky,mereka masih memiliki jiwa kemanusiaan.maka dari itu mereka datang ke rumah duka untuk berbela sungkawa.
sendi masih di rumah duka ditemani seno. sendi menatap foto kak tyas.
"maaf kak,aku memang adik yang tidak berguna.aku tidak bisa menjagamu dengan baik,"ucap sendi lirih,ia tidak menangis lagi karena sudah terlalu lama dia terus menangis.matanya benar-benar sembab.
Arwah kak tyas ternyata ada disana ditemani tara malaikat.
"maafkan aku karena aku selalu memarahimu sen," ucap kak Tyas sendu
Mereka seolah saling bercakap-cakap, walau senei gak mungkin mendengar apa yang nenek nya katakan.
“Aku akan rindu gurauanmu. ” Ucap kak tyas penuh haru.
sendi membentur-benturkan kepalanya ke dinding dan seno yang mengetahui itu langsung menaruh tangannya sebagai penghalang kepala sendi agar tak terluka. kak tyas pun sedih melihat adiknya seperti ini.
love
maulani safitri.
__ADS_1