CINTA SMA

CINTA SMA
Pulang ke Jakarta


__ADS_3

Sebelumnya Dito telah menghubungi Rendi.


" Halo, Ren "


" Iya, Dit."


" Aku meminta tolong kepada mu. Rio masih ada di area perkebunan."


" Lalu?"


" Kamu samperin, terus bilang kalau Sinta sudah bersamaku dan akan pulang."


" Baiklah,"


****


" Tunggu, tunggu. Barusan aku menelpon Dito katanya Sinta masih belum di temukan." Kata Rio sambil berpikir.


Saat menoleh ke arah belakang, tiba-tiba Rendi sudah pergi meninggalkan Rio.


" Hey, bocah ingusan..." panggil Rio yang lupa dengan nama Rendi.


" Tuan, sebaiknya anda pulang." teriak Rendi yang masih berjalan lurus ke arah rumahnya.


" Dito, apa kau mengerjaiku!" kesal Rio dengan wajah yang memberenggut.


Lalu Rio langsung berjalan menuju mobil nya, dengan gerutuan yang memaki Dito.


Sebenarnya semua memang salahnya, kenapa harus menculik Sinta. Sungguh jalan pikirannya yang pendek. Itu karena Rio sedang di mabuk cinta. Ya, cinta sama anak SMA, tak pernah terbersit di pikiran nya.


SINTA dan DITO


" Sin, kau mau makan apa?" tanya Dito.


" Kalau ada tukang bakso berhenti aja!" kata Sinta seraya memegang perutnya.


" Ada apa dengan perutmu?" Tanya Dito cemas.


" Kamu gak denger apa bunyi gemericik." rajuk Sinta.


" Oke, kamu juga bantuin nyari tukang baksonya." Kata Dito yang kedua matanya sedang menjelajahi setiap sudut jalanan.


Lalu Dito mencari tukang bakso yang mangkal di pinggir jalan.


Setelah menemukan tukang bakso, Dito menepikan mobilnya.


" Itu tukang bakso." kata Dito sambil memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


Sinta pun turun dari mobilnya, dan langsung memesan bakso.


" N**eng geulis suku kunaon?" tanya tukang bakso yang melihat kaki Sinta yang berjalan pincang.


" Dit, apa artinya?" kata Sinta sambil melirik Dito.


" Dia nanya kaki kamu kenapa?" jawab Dito.


" Ih hebat ya, kamu fasih bahasa apa aja." Ledek Sinta.


" Kaki saya sakit, Mang! Tadi abis nginjek batu." jawab Sinta sambil tersenyum.


" Naha kumaha?"


" Apalagi Dit?" tanya Sinta.


" Naha tiasa nyarios basa Sundana, henteu?" Sela tukang bakso.


" Ya udah duduk, Neng. Mau berapa mangkok?" tanya tukang bakso.


" Ih si mamang mah, pake bahasa Indonesia aja atuh!" kata Sinta yang hanya bisa mengatakan atuh. Dan itupun sering dia dengar percakapan dengan Rendi.


Kemudian dari jarak beberapa meter melintas mobil Rio. Dan Rio melihat mobil Dito yang terparkir di pinggir jalan.


" Sial, ternyata benar kata bocah ingusan itu. Mereka memang sulit untuk di pisahkan." gumam Rio yang berlalu melewati mobil Dito.


Makanya Sinta memutuskan untuk tetap menjaga hubungan nya bersama Dito. Walaupun mereka sama-sama tahu kalau mereka sama-sama memang saling menyukai dan saling menjaga.


" Kaki kamu uda gak sakit?" tanya Dito.


" Masih nyeri." kata Sinta.


" Sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh CEO tengil itu?" tanya Dito.


" CEO tengil?" ucap Sinta yang bingung mendengar pertanyaan Dito.


" Rio maksudku." kata Dito.


" Oh, dia bilang padaku katanya melihat kita berada di saung semalam. " ujar Sinta.


" Oh jadi dia menguntit kita?" tanya Dito.


" Sepertinya." ucap Sinta.


" Sudah gila kali dia!" kata Dito sambil menggelengkan kepalanya.


" Sudah gak usah di bahas. Cepat habiskan baksonya." kata Sinta yang melihat mangkok bakso Dito masih ada sisa.

__ADS_1


Selesai makan bakso, mereka langsung melanjutkan perjalanan.


Kisahnya yang tadi Sinta pingsan dan berada di rumah Rendi menjadi bahan perbincangan dengan Terry.


Sinta sedang mengirimkan pesan wa ke Terry. Dan menceritakan kejadian yang dia alami sejak pergi dari rumah Terry kemarin.


" Sin, apa kamu kuat berjalan menuju rumah dengan kaki yang sakit?" tanya Dito.


" Entahlah, mungkin akan aku kuat-kuat in." kata Sinta.


" Sebentar aku telpon Fadli." kata Dito yang langsung menekan.


" Halo, Fad." kata Dito yang menelpon menggunakan headset.


" Iya, ada apa?" tanya Fadli.


" Bisakah kau jemput Sinta di depan gang setengah jam lagi?" tanya Dito.


" Lho bukannya kalian sedang jelong-jelong?" tanya Fadli yang tahu mereka jalan-jalan dari status wa Sinta.


" Jangan alay bahasa nya." ketus Dito.


" Gaul dong!" kata Fadli.


" Nanti akan aku ceritakan, sebaiknya kau standby setengah jam lagi." kata Dito dengan nada suaranya yang terburu-buru.


Lalu Dito menutup sambungan teleponnya.


" Kenapa kamu harus ngerepotin Fadli?" kata Sinta.


" Aku hanya ingin membawamu pulang ke rumah." kata Dito.


" Tapi gak harus ngerepotin orang juga dong!" ucap Sinta dengan suara nya yang lembut.


" Apa kau mau aku gendong?" tanya Dito meledek.


" Eh enggak, gak usah." kata Sinta sambil memutar kedua bola matanya.


Sinta merasa tak ada pilihan lain selain menuruti kata-kata Dito.


-


-


Silahkan like ya!,


Tunggu up berikutnya, maaf sedikit lama ya.

__ADS_1


Harap bersabar 😘


__ADS_2