
" Non udah sampe." kata Rio yang sudah ada di depan gang rumah Sinta.
Sinta pun keluar dari mobil Rio, " Terima kasih." ucap Sinta yang langsung berbalik menuju gang rumah nya.
" Justru aku yang harus berterima kasih, karena kau mau makan malam dengan ku." teriak Rio.
Sinta tak menghiraukan teriakan Rio, dia pun langsung masuk ke dalam gang rumahnya.
" Aku masih belum tahu bagaimana perasaan Sinta, sulit sekali untuk mendekati nya." gerutu Rio yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
Rio masih harus berpikir keras, untuk bisa mengambil hati Sinta.
SINTA
Sinta pun sudah sampai di rumahnya, " Assalamu'alaikum." ucapnya memberi salam.
" Wa'alaikum salam." jawab mama Sinta.
" Sinta, kamu sudah pulang?" tanya mama Sinta.
" Iya, Ma! Aku ke kamar dulu ya." kata Sinta yang langsung masuk ke kamar yang sebelumnya dia sudah mencuci muka dan kaki. Lalu mengerjakan solat isya.
" Sin, apakah kau benar-benar mencintai Dito? "
" Untuk apa kau tanyakan hal itu?"
" Aku benar-benar suka padamu, jujur awalnya aku hanya di suruh Mira untuk berpura-pura mendekati mu. Tetapi hatiku malah terjebak dalam permainan Mira. Aku justru benar-benar mencintai mu. "
" Maaf, aku tidak bisa."
" Kalau kau tidak bisa, aku harap kau mau menjadi temanku. Selama Dito ada di Inggris, aku akan menjagamu dan bisa menjadi sahabatmu."
" Tolong jangan patahkan hatiku yang sudah rapuh. Aku harap kau mau menjadi temanku."
" Akan aku pikirkan."
__ADS_1
Sepenggal kalimat saat Rio mengajak Sinta makan malam. Kata-kata itu terus Sinta pikirkan.
" Seandainya aku menerima mu sebagai temanku, maka teman-teman ku akan melarangku."
" Ya, kamu gak usah bilang."
" Tetapi mereka sahabat terbaik ku. Mereka yang melindungi ku saat Mira berbuat jahat padaku."
" Aku yang akan langsung menegur Mira, saat dia akan berbuat jahat padamu lagi."
" Maaf, aku tidak bisa. Jangan paksa aku!"
" Baiklah, kalau kau belum bisa menerima ku. Tapi aku akan tetap berusaha untuk menjagamu dan melindungi mu. "
" Ish, kenapa aku jadi kepikiran sama Rio." ucap Sinta yang menggelengkan kepalanya di atas kasur.
" Disini malam, di tempat Dito siang atau malam?" ucap Sinta yang ingin menghubungi Dito namun ragu karena perbedaan waktu.
****
Suara ayam jantan berkokok, Sinta sudah membuka kedua matanya. Kemudian dia langsung mandi dan melaksanakan solat subuh.
Ayam jantan yang berkokok selalu berbunyi lebih pagi. Karena itu adalah bunyi alarm dari ponsel milik Sinta.
Sekarang di tempat nya sudah jarang orang memelihara ayam. Karena setiap sudut lahan kosong pasti sudah di bangun perumahan.
Duk ..
Tiba-tiba Sinta kejatuhan kado yang berisi sendal jepit dari Rio.
" Aduh, ish. Kayaknya aku uda naro di paling atas." gerutunya.
" Seharusnya aku kembalikan sendalnya." Kata Sinta yang membolak-balik kan sendal yang keluar dari bungkusannya.
" Sin, " panggil mama Sinta.
__ADS_1
" Iya, Ma!" sahut Sinta.
" Sudah ada Fadli di depan." panggil mama.
" Fadli, kok pagi-pagi banget dia kerumah." gumam Sinta.
Lalu Sinta pun keluar dari kamarnya, dan menghampiri Fadli.
" Iya, Fad!" ucap Sinta yang masih mengenakan mukena.
" Maaf, hari ini aku ada kunjungan studi tour. Jadi aku tidak bisa mengantarkan mu sekolah." Pesan Fadli, " Dan kau jangan bilang Dito, nanti dia akan memotong gajiku." kata Fadli memohon.
" Iya, kau bersenang-senang lah. Aku akan minta ayah mengantarku." kata Sinta seraya tersenyum.
" Oke, terima kasih ya Sin!" kata Fadli yang langsung pulang kerumahnya.
Lalu Sinta langsung masuk ke dalam rumah nya. Dan mengganti mukenanya dengan seragam sekolah.
" Fadli mau ngapain?" tanya mama.
" Dia gak bisa nganterin aku." kata Sinta.
" Ya udah sama ayah aja!" sahut mama.
" Ayah gak bisa, Ma! Kan ayah harus nganterin anaknya bu Dini ke kampus." ujar ayah.
" Gak apa-apa, Ma. Aku naik angkot aja. " kata Sinta.
" Ya sudah, kamu buru-buru biar gak terlambat." kata mama yang langsung menyendok nasi goreng untuk Sinta.
-
-
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1