
Sinta menekan tombol lift dengan angka lima, lift pun terbuka. Sinta langsung masuk ke dalam lift, dan beberapa orang yang juga akan pulang ke apartemen nya.
Beberapa dari wajah mereka terlihat sangat lelah. Sinta berdiri di dekat pintu seraya membawa lima box brownies.
Pintu lift pun terbuka, Sinta pun keluar dari lift.
Sinta lupa menanyakan nomor apartemen nya. Dia pun langsung menghubungi orang yang memesan kue.
"Halo, Tuan." kata Sinta
" Iya, "
" Nomor berapa kamarnya?"
" Nomor 18."
" Baik, Tuan saya sudah di lantai lima."
" Baik, saya tunggu."
Sinta langsung menuju kamar nomor 18, dia melihat dari urutan yang terkecil.
" 15, 16, 17, ini nomor 18. " gumam Sinta seraya menunjuk jari telunjuknya.
" Tok, tok, tok.."
Ketukan pintu terdengar tiga kali, Rio langsung menuju pintu untuk membuka kan pintu.
Rio mengintip dari lubang kamarnya, hatinya berdegup kencang.
" Permisi.." terdengar suara Sinta di balik pintu.
Rio membuka handle pintu dengan perlahan, " Ceklek.."
" Tuan sudah ..." kata-kata Sinta tiba-tiba terhenti saat dia melihat Rio berada di hadapannya.
__ADS_1
" Terima kasih, kamu sudah mau datang ke apartemen ku." kata Rio yang langsung menarik tangan Sinta dan membawanya ke dalam apartemen.
" Eh, apa yang anda lakukan?" kata Sinta mencoba berontak, " Lepaskan..."
" Brak..." pintu apartemen tertutup rapat.
Sinta terkunci diantara dua tangan Rio. Mereka pun saling bertatapan.
" Lepaskan.." kata Sinta.
Rio pun melepaskan tangannya, dan menyuruh Sinta duduk di sofa.
" Silakan duduk." kata Rio.
" Aku ingin pulang." jawab Sinta.
" Aku harap kau mau menjadi tamu ku malam ini." kata Rio yang sudah menyiapkan hidangan makan malam.
" Aku tidak lapar." ketus Sinta.
" Aku harap kau mau menerima undangan ku, anggap saja permintaan maafku karena kemarin telah menculikmu." ujar Rio.
" Tapi kau tidak meracuni makanan nya, kan?" curiga Sinta.
" Untuk apa aku meracuni mu." kata Rio, " Aku hanya ingin berteman dengan mu, dan tidak ingin berbuat yang aneh-aneh lagi." ujar Rio.
" Baiklah, setelah ini aku ingin pulang." kata Sinta menyetujui permohonan dari Rio.
" Aku akan mengantarmu pulang." kata Rio.
" Tidak perlu." jawab Sinta.
" Ayolah, Sinta. Aku yang menyuruh mu datang kesini, dan aku harus mengantar mu pulang." Kata Rio.
" Ayo kita makan, dan jangan berdebat terus. Nanti makanan nya dingin. " kata Rio yang menarik lengan Sinta dan menyuruh nya duduk di kursi makan.
__ADS_1
Rio menyalakan lilin dan mematikan lampu.
" Hey, untuk apa kau mematikan lampu." ucap Sinta.
" Biar lebih romantis." ujar Rio dengan senyum simpul.
" Ayo kita mulai makan." kata Rio seraya membalikkan piring yang ada di hadapan Sinta.
" Kau ingin makan yang mana?" tanya Rio.
" Biar aku yang ambil sendiri." kata Sinta dengan nada ketus.
" Kue yang aku bawa akan kau bagikan kemana lagi?' tanya Sinta.
" Akan aku bagikan ke karyawan kantor ku. " kata Rio.
" Aku titip salam untuk mentor ku." Kata Sinta.
" Siapa mentor mu?" tanya Rio seraya memotong daging steak yang tersaji di atas mejanya.
" Pak Ridwan." kata Sinta sambil mengunyah daging yang telah di potongnya.
" Oh, nanti akan ku berikan dia bonus. Karena sudah membimbing mu." kata Rio dengan nada sombongnya.
" Kenapa tidak semua karyawan kau berikan bonus, kenapa hanya dia?" sindir Sinta.
" Uhuk, uhuk..." tiba-tiba Rio tersedak karena mendengar ucapan Sinta
" Kau kenapa?" tanya Sinta.
Lalu Rio meraih gelas yang berada di hadapannya. Lalu cepat-cepat meminumnya agar tenggorokan tidak nyangkut potongan daging yang tadi tertelan.
" Kalau aku berikan bonus semua karyawan, bisa jebol uang perusahaan. Huft, dalam rangka apa aku harus memberikan bonus?." gerutu Rio dalam hatinya seraya melirik ke arah Sinta.
-
__ADS_1
-
Jangan lupa like, vote dan berikan komentar mu.