
"siapa namamu," ucap Sendi datar dengan menatap wajah wanita itu lekat.
"aku Tara syana," ucap wanita itu yang tak lain adalah Tara dengan suara yang lantang. sebisa mungkin Tara tidak ingin Sendi melihat kegugupannya. padahal sekarang ini yang di rasakan Tara adalah gugup dan salah tingkah, Tara memilin kedua tangannya yang sekarang ini sudah berkeringat untuk meredakan kegugupannya.
"astaga, padahal sebelumnya aku belum pernah segugup ini di dekatnya," gumam Tara dalam hati.
"ibu pernah bilang kalau kau baru saja di terima di sekolah yang sama denganku, apa itu benar?," seru Sendi.
"iya,"
"lalu, kenapa hari ini kau bekerja? seharusnya kau sekolah bukan?," Sendi memicingkan kedua matanya dan terlihat sedikit membungkukkan punggungnya karena postur tubuh Sendi lebih tinggi dari pada Tara, agar ia bisa menatap leluasa wajah Tara.
"jangan terlalu tegang, nanti jantungmu bisa copot," ucap Sendi lirih dengan sedikit melengkungkan senyumnya tipis. Sendi tau kalau saat ini wanita yang ada di hadapannya itu sedang gugup sekali walaupun Tara sudah mencoba untuk merilekskan dirinya.
"ada apa dengan kau ini? kenapa kau terus mengintrogasi dia? kau ini memang benar-benar keterlaluan," Danu yang sedari tadi diam pun segera menyela perkataan Sendi lebih lanjut.
"tidak, aku tidak mengintrogasinya. aku hanya ingin tau siapa dia, itu saja, tidak lebih" setelah mengatakan itu, Sendi mengambil salah satu tempat duduk di sana dan mendudukinya. Danu juga mengambil kursi yang ada di depan Sendi, hingga ia duduk berhadapan dengannya.
sedangkan Tara melanjutkan lagi membersihkan meja kaca dengan menggunakan lap basah.
__ADS_1
"apa kau tidak sarapan dulu Sen?," tanya Danu ketika ia melihat Sendi sibuk mengotak-atik ponselnya.
"tidak, nanti aku sarapan di kantin sekolah saja. lagipula nanti juga jam kosong, karena semua guru sedang sibuk rapat," Sendi berucap tanpa memandang Danu karena ia masih sibuk dengan ponselnya.
"kau saja menyuruh Tara untuk menatapmu saat kau tengah bicara, tapi kau malah asyik dengan ponselmu itu tanpa menatapku saat aku berbicara denganmu," Danu mencibir Sendi yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya tanpa memandang dirinya yang tengah bicara.
Sendi yang merasa di sindir itu pun langsung meletakkan ponselnya di atas meja dan mulai melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menyandarkan punggungnya di kursi dengan menatap kedua mata Danu lekat.
"aku tidak sarapan di sini, nanti aku sarapan di kantin sekolah saja. lagipula nanti juga jam kosong, karena semua guru sedang sibuk rapat," ucap Sendi mengulangi perkataan yang ia ucapkan sebelumnya dengan mata yang masih menatap lekat kedua mata sahabatnya yang saat ini duduk di depannya.
"lalu? apa ada hal tidak penting lagi yang ingin kau tanyakan atau sampaikan padaku?," Sendi masih dengan posisi tadi dengan mata yang tak lepas memandang lekat kedua mata Danu.
Sendi mengerutkan keningnya merasa kesal akan ucapan Danu tadi.
"apa kau mau ku hajar? kau tadi bilang aku harus menatapmu saat kau sedang berbicara. sekarang saat aku sudah menatapmu kau malah merasa risih dan menyuruhku untuk berhenti menatapmu. maumu itu apa, hah?," Sendi pun tak dapat menahan kekesalannya lagi pada teman bodoh yang ada di hadapannya ini.
"kau ini lagi datang bulan ya? kau begitu sensitif sekali," ucap Danu dengan mengerucutkan bibirnya.
"ku jitak kepalamu nanti. kau kira aku ini wanita yang sedang datang bulan," ucap Sendi sewot.
__ADS_1
"hehehehe kau ini jangan marah-marah terus, nanti kau cepat tua," ucap Danu dengan tertawa pelik karena takut sahabat bodohnya ini yang sedang marah-marah.
"kau yang selalu membuatku darah tinggi," Sendi ingin sekali menjitak kepala bodoh temannya ini namun ia urungkan karena melihat Seno yang turun dari tangga.
Seno terlihat turun dan ia melihat Sendi dan Danu yang tampak seperti tidak akur. Seno menggeleng-gelengkan kepalanya malas ikut campur urusan mereka.
"kau ini lama sekali, untung saja aku kakak yang baik, jika tidak sudah ku tinggal kau itu dari tadi," Sendi beranjak dari duduknya dan mulai berjalan mendahului mereka berdua. dan terlihat ia masih mengoceh tidak jelas.
"otaknya sudah geser," ucap Danu berbisik di telinga Seno, namun masih bisa di dengar oleh Sendi.
Sendi yang gemas karena ucapan Danu pun seketika melayangkan beberapa jitakan di kepalanya agar otak Danu encer.
-
-
-
love
__ADS_1
m a u l a n i s a f i t r i