CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 33


__ADS_3

Seno beranjak dari duduknya dan berdiri, di susul oleh Mei yang berdiri tepat di sampingnya. "Kau ingin pulang?" Tanya Seno dengan menoleh gadis itu sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya kembali ke depan.


Mei menatap sorot mata teduh itu. ia tau jika ucapan pemuda itu bertolak belakang. "Lebih baik di sini dulu, aku masih ingin di sini," ucapnya dengan mengulas senyum lebar.


Drtt drtt


Seno merasakan ponselnya yang bergetar. dengan cepat dirinya merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. segera ia meletakkan benda pipih itu di daun telinganya ketika ia tahu jika panggilan itu dari Sendi.


Belum sempat dirinya berucap, ia langsung menjauhkan benda pipih itu dari telinganya saat suara teriakan yang kencang terdengar dan begitu menyakiti telinganya.


"Hei kenapa kau berteriak? kau menyakiti telingaku dengan suara jelek mu itu!" Ucap Seno memekik.


"Kalian dimana? kenapa belum pulang? dari tadi siang kalian pergi dan sampai sekarang belum kembali!"


"Hissh, diamlah. aku dan juga Mei masih ada urusan. nanti juga aku akan pulang." Seno segera memutuskan sambungan teleponnya dengan kasar dan kembali memasukkan ponselnya dalam saku.


"Dari pria aneh itu?" Tebak Mei yang langsung mendapat anggukan dari pemuda itu.


Seno menoleh ke arah gadis itu dan kedua alisnya terangkat. dari raut wajah gadis itu, dirinya sama sekali tak menemukan ada rasa bersalah sedikitpun yang terpancar dari wajahnya. "Apa kau tidak berniat untuk meminta maaf padaku?" Tanya Seno dengan wajah datarnya. kedua tangannya ia lipat di depan dadanya seraya menghadapkan tubuhnya tepat di hadapan Mei.


Senyum yang semula membingkai wajah gadis itu seketika menghilang saat dirinya mendengar ucapan Seno barusan. bukannya meminta maaf, justru dirinya malah tersenyum mengejek. lalu ia melipat kedua tangannya dan meletakkan nya di depan dada mengikuti pemuda itu.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku," ucapnya dengan nada serius, yang membuat Seno mengernyit bingung.


"Kenapa aku harus berterima kasih padamu?" Tanyanya.


"Aku tau jika kau menyukai ciuman tadi, bukan?" Mei mengerlingkan sebelah matanya, "Apa kau mau lagi?" Sambungnya dengan sesekali tertawa kecil. dirinya berhasil menggoda pemuda itu.


"Laknat!" Seno mendorong kening Mei untuk yang kedua kalinya hingga tubuh Mei sedikit terhuyung ke belakang, namun dirinya masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Kau mengingatkanku dengan seseorang." Bukannya marah, justru Mei malah melontarkan ucapan itu hingga membuat Seno terdiam.

__ADS_1


Tubuh Mei tiba-tiba terhuyung ke belakang. namun dirinya tidak terjatuh karena masih bisa menopang tubuhnya sendiri dengan bantuan Seno yang menahan bahu Mei. kepalanya seakan berputar-putar.


Ini bukan pertama kali kepalanya serasa pusing, karena sebelum-sebelumnya sudah pernah terjadi ketika Mei mendapat satu potong adegan seputar masa lalu yang tiba-tiba hinggap di pikirannya.


"Kau kenapa, Mei?" Tanyanya dengan kedua tangan yang masih sigap menahan tubuh mungil Mei. dapat terlihat dari raut wajah pemuda itu yang sedang di rundung kekhawatiran saat ia melihat Mei yang tiba-tiba hampir tumbang.


"Jika aku mulai mengingat sesuatu, selalu saja kepalaku tiba-tiba jadi pusing," ucapnya lirih, namun masih dapat terdengar jelas di telinga Seno.


"Aku antar kau pulang," tawarnya, namun Mei menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak perlu. pusingnya sudah berkurang," jawabnya mencoba untuk meyakinkan.


Namun Seno tak percaya begitu saja, dia terus berusaha membujuk gadis itu untuk pulang. namun dirinya akhirnya menyerah juga karena gadis itu sungguh keras kepala.


"Lihatlah bintang itu." Pandangan Seno seketika mengikuti arah tunjuk gadis itu. tanpa sadar kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis saat dirinya menatap bintang yang bertaburan di atas langit.


Namun senyum pria itu tiba-tiba memudar saat dirinya merasakan seseorang perlahan melingkarkan kedua tangannya dan memeluk tubuhnya dari belakang. tanpa ia sadari rasa sesak di hatinya seketika membuncah dengan sendirinya.


""Sangat," jawab Seno tegas. Seno merasakan baju yang melekat di tubuhnya bagian punggung basah. gadis itu menangis?.


"Apakah perasaanku ini akan tetap sama untuknya setelah aku kembali mengingat?" Tanyanya lagi, namun kali ini nadanya terdengar bergetar.


"Cintamu akan tetap sama, Mei. hatimu hanya untuk Sendi. dengan kau yang seperti ini, akan membuat diriku semakin sulit untuk melepas mu."


Mei melepaskan pelukannya, kemudian ia meraih kedua pipi Seno yang ia tangkup di kedua tangannya. dapat dirinya lihat dari dekat jika kedua mata pria itu tampak memerah, namun tidak mengeluarkan air mata. dirinya dapat menyimpulkan jika pemuda itu sedang tidak baik-baik saja.


"Apa tuhan sudah menakdirkan jika rasa suka kita akan berakhir tragis seperti ini? apa mungkin nantinya aku akan terluka karena berpura-pura mencintai pria masa laluku?" Itu adalah pertanyaan yang sebenarnya dirinya tak menginginkan sebuah jawaban.


"Sesakit inikah rasanya jika berpisah pas sayang-sayang nya? kau memperumit keadaan, Sen. padahal kita berdua saling mencintai, namun karena dia kau jadi mundur?" Kini gadis itu tak mampu lagi untuk menahan isakan yang sebelumnya berusaha mati-matian ia tahan.


Seno hanya diam dan membiarkan Mei yang terus memukul dadanya berkali-kali untuk melampiaskan kemarahannya. biarlah, ia tak ingin membuat gadis itu menangis lagi.

__ADS_1


Perlahan pukulan itu semakin melemah di ikuti oleh isakannya yang sudah terdengar jarang. Seno meraih wajah Mei dan menangkup nya, mengusap kedua pipi gadis itu yang basah karena teraliri air mata.


"Maaf sudah membuatmu menangis terlalu lama,"


*****


Malam semakin larut, namun tak membuat gadis berwajah cantik itu menyegerakan untuk segera tidur. tampak sekali wajah cantiknya itu kini tampak pucat. sepulang dari bukit, dirinya langsung mendudukkan dirinya di lantai dengan punggungnya yang ia sandarkan pada tepi kasur.


Ia membenamkan wajah di kedua lutut dengan kedua tangannya yang ia lipat. pikirannya kembali menerawang, saat lengannya di raih oleh seseorang yang ia kenal.


"Sendi,"


Tatapan itu ... Mei mendekat, keduanya saling berhadapan. gadis itu dapat melihat sorot kerinduan dari pria di hadapannya.


"Kau dari mana saja?" Tanya Sendi.


Mei mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, menghindari tatapan teduh pria itu. "Cari angin," jawabnya asal.


Seketika mereka hening dalam diam. perlahan Mei memberanikan diri untuk menatap wajah Sendi. tatapan mereka bertemu dan saling mengunci, membuat tubuh Mei seketika membeku ketika dirinya mendapat tatapan yang tampak mengintimidasi.


"Kenapa kau terus menatapku?" Tanyanya.


"Tuhan baik padaku."


Mei mengernyitkan keningnya bingung dengan ucapan sendi barusan. tatapannya menelisik berusaha untuk membaca raut wajah pria itu, namun dirinya gagal mengetahuinya. "Apa maksudmu?" Tanyanya.


"Kuharap Tuhan mempertemukan kita lagi untuk mempersatukan, bukan untuk memisahkan kembali."


*****


Note author: jika kalian suka dengan novel ini, Jangan lupa tinggalin jejaknya berupa like, coment, dan poinnya lurr...

__ADS_1


__ADS_2