
*ragu, saat kau mempercayai yang lain,*
“Apa gunanya tetap hidup, jika dia saja tidak mempedulikanku. Dia hanya memperhatikanmu. Kalau bukan karenamu, cintaku, pengakuanku, semuanya tak akan menyedihkan seperti ini.”
mei masih terngiang-ngiang ucapan yang Sinta lontarkan kepada nya tadi. mei berkata kalau dia mengkhawatirkan sinta. Dia harap Sinta mau melupakan sendi, karena dia yakin sinta akan menemukan seseorang yang lebih keren dari sendi. Sinta kan jenis manusia cewek yang cantik dan perfeck.
dan Sinta pun menjawab kalau baginya hanya sendi yang keren. mei kemudian berkata lagi dengan berlalunya waktu dia yakin sendi akan menyadari perasaan sinta pada sendi. sinta balik bertanya, lalu apa yang mei lakukan dengan berlalunya waktu?
Aku harus kembali” jawab mei sedih.
“Kembali? Kemana?” tanya sinta penasaran
mei tahu dia tidak mungkin berkata sebenarnya. Dia langsung menjawab kalau dia harus kembali ke dalam kelas. sendi pasti sudah menunggunya saat ini.
saat mei di koridor sekolah, ia merasakan getaran di sakunya. ternyata ponselnya yang bergetar menandakan pesan masuk.
"aku hendak menuju kantin, ikutlah,"
itu pesan dari sendi. lalu mei pun bergegas dan menemui sendi tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"dari mana saja kau?," ucap sendi ketika mei sudah ada di sampingnya.
"aku tadi sedang berjalan-jalan. aku ikut kalian ke kantin ya?," ucap mei ketika melihat Seno, sendi dan Danu hendak melanjutkan langkahnya.
"ikutlah," ucap Seno santai.
"mie goreng dan es teh manis," ucap mei kepada ibu kantin.
"kalian?," tanya mei.
"sama denganmu semuanya," ucap sendi kemudian ketika Seno dan Danu mengangguki.
setelah pesanan datang mereka pun langsung menyantap makanan nya.
"apa ada yang bisa kita lakukan setelah ini?," ucap Danu yang tiba-tiba meminta ide kepada teman-teman nya.
"bagaimana kalau kita main badminton di lapangan? aku pasti akan menjadi pemenangnya," ucap sendi memberi saran.
"munyuk, kau mau ikut? tanya sendi kepada Seno.
"wah, kau harus berada di timku jika kau ikut brother," ucap Danu merangkul pundak Seno.
"aku tidak ikut," ucap Seno singkat.
__ADS_1
"pemikiran yang bagus, kau tidak mau bermain karena kau takut kalah, pandai sekali," ucap sendi tertawa mengejek.
"selesaikan makanmu, kita akan bermain setelah ini," ucap Seno lalu melanjutkan makannya sampai habis.
"ahh kau harus berada di timku," ucap Danu kemudian.
"kau mau ku celupkan kepalamu di wastafel heh? kau berada di timnya siapa?," tanya sendi mulai kesal ke Danu.
"hehehe ampun bos," ucap Danu nyengir.
"kalau Danu ada di timmu, berarti aku akan berada di tim seno," ucap mei tersenyum.
"gak, kau yang jadi wasitnya," ucap sendi.
"okok," jawab mei penuh senyum.
akhirnya pun mereka berempat pergi ke lapangan untuk bermain badminton. suasana di sana tidak banyak orang lalu lalang.
mereka berempat pun memulai pertandingan.dan mereka pun memulai permainan dengan baik. danu menjadi penonton setia dan mei menjadi wasitnya. seno dan sendi memang ahli dalam olahraga. dengan gesit Seno menangkap kok yang mengarah padanya. permainan menghabiskan waktu sekitar 10 menit. saat kok jatuh di dalam garis tempat sendi, Seno teriak girang karena bisa meruntuhkan kepedean sendi yang akan mengalahkan dirinya.
"itu hanya kebetulan aja, jadi jangan menyombongkan kemenangan mu," ucap sendi gengsi tidak mau mengakui kekalahan nya.
"kebetulan palalu peang. lain kali jangan terlalu berbangga diri" ucap Seno.
sendi tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Seno. lalu ia pun mendekati Seno dan menggelitiki tubuh Seno hingga membuat Seno tertawa karena geli.
"kenapa?," ucap Seno dan sendi serentak.
"karena kalian malah berdebat seperti ini, aku tidak suka," ucap mei memonyongkan bibirnya.
"wasit macam apa kau ini," ucap sendi.
" kartu merah untukmu," ucap mei meniup peluit dan memberi sendi kartu merah.
"kenapa lagi?," tanya sendi tak mengerti.
"karena kau membantah wasitmu ini," ucap mei tersenyum lebar.
"aishh kujitak jidatmu nanti," ucap sendi lalu mengejar mei yang tengah berlari.
"aishhh, kenapa semua bubar, padahal lagi seru-serunya," ucap Danu yang kecewa karena perdebatan antara Seno,sendi,dan mei berakhir.
"apa kau mau aku menjitak jidatmu itu?" ucap Seno yang ada di samping Danu.
__ADS_1
"hehehehe jangan," ucap Danu nyengir lalu menatap tubuh sendi dan mei yang telah hilang.
Danu dan Seno hanya tertawa kecil melihat kelakuan konyol mereka berdua lalu mengikuti langkah mereka.
brukkk
kaki mei kesandung kaki sialan entah milik siapa. mei terjatuh dengan posisi duduk dan menahan sakit di kakinya. mei pun mulai mendongak dan menatap seseorang yang telah sengaja menjegalnya.
"ups maaf," ucap Sinta yang ternyata telah menjegal kaki mei.
mei pun bangkit berdiri.
"tidak apa-apa, ini juga salah ku Karena aku lari ke depan tapi pandanganku malah ke belakang," ucap mei tidak ingin berdebat dengan mereka.
"baguslah kalau sadar," ucap Sasa yang berada di samping Sinta.
sendi yang menatap mei dari kejauhan pun mulai menghampiri nya. sinta dan Sasa tak menyadari keberadaan sendi yang dari jauh.
"jika kau tak bisa menjaga kakimu, aku akan mematahkan nya," ucap sendi menggertak.
"em m m sendi, a-aku tidak sengaja melakukannya," ucap Sinta gugup karena kaget tiba-tiba ada sendi.
"aku bisa membedakan mana yang tidak sengaja atau yang sengaja," ucap sendi masih tetap menatap tajam ke arah Sinta.
"maafkan aku sen," ucap Sinta mulai menunduk.
"ikut aku," ucap sendi lalu menuntun mei agar mengikuti nya dan tak memperdulikan Sinta yang memanggil-manggilnya itu. mei pun mengikuti langkah sendi mencoba mensejajarkan langkah nya walau saat ini mei berjalan dengan sedikit pincang.
"kau mau mengajakku kemana?," ucap mei ketika sendi tetap melewati kelas mereka.
"kita ke UKS," ucap sendi singkat.
mei menghentikan langkahnya dan duduk di bangku yang ada di depan kelas.
"aku tidak apa-apa, hanya nyeri sedikit," ucap mei tersenyum.
"simpan senyum bodohmu itu. aku sudah pernah bilang padamu kan, jangan pasrah jika ada yang mengganggu dan mengerjai mu. kalau benar-benar sakit katakan padaku. jangan diam,"ucap sendi lembut.
"nyeri sedikit, mungkin nanti juga akan sembuh," ucap mei menenangkan.
sendi memang melihat kaki mei tidak ada yang lecet ataupun terluka.
"baiklah ayo kita ke kelas," ucap sendi memapah mei.
__ADS_1
saat mei dan sendi masuk ke dalam kelas, semua mata menatap mei tajam seperti ingin membakar mei hidup-hidup.entah apa yang mereka pikirkan. mei bergidik ngeri melihat nya. apa ada yang salah dengannya?entahlah.
jangan lupa jika kalian suka dengan karyaku,kalian bisa memberi like,coment asal kalian,vote,and koin guys biar author bisa tambah semangat lagi untuk update nya yaaaa...........see you