CINTA SMA

CINTA SMA
Mira bersimpuh


__ADS_3

Pagi ini Dito langsung bergegas menuju kantor Rio. Dia akan membuat perhitungan, karena telah berani bertindak kasar pada Sinta. Kali ini Dito tidak main-main dengan ancamannya. Dia sangat marah, karena Sinta masih belum bisa melupakan trauma nya.


Dito akan merasa bersalah pada kedua orang tua Sinta. Jika nanti pulang, sikap Sinta masih belum ceria.


Persis di sebelah kafe miliknya, Dito langsung melangkahkan kakinya menuju kantor Rio.


Dia memilih datang sendiri, karena dua tangan kanannya harus menjaga Sinta.


" Permisi Mbak, ada Rio. Maksud ku CEO kalian?" tanya Dito dengan menggunakan baju santai yang dia beli di pantai bersama Sinta.


" Maaf, kalau boleh tahu anda siapa?" tanya resepsionis yang bertugas sambil melihat Dito dari ujung rambut sampai kaki.


" Dito, nanti juga Tuan mu tahu." ucap Dito dengan angkuhnya. Karena dia sudah lelah berbaik hati saat ini.


" Baik, " kata resepsionis yang langsung menuju ruangan CEO.


Tak menunggu lama, Dito di persilahkan masuk ke dalam ruangan CEO.


" Mau apa kau kesini?" tanya Rio yang memang belum pulang ke apartemen nya. Karena harus sibuk dengan klien yang sudah pergi meninggalkan nya.


" Aku hanya memastikan, kalau kau tidak masuk rumah sakit jiwa." cela Dito.

__ADS_1


" Apa, kau mendoakan ku agar masuk rumah sakit jiwa?" kesal Rio yang langsung memukul meja kerja nya.


" Karena perbuatan yang kau lakukan lebih dari orang yang berada di rumah sakit jiwa. Sungguh memalukan." ejek Dito yang berubah jadi jahat.


" Puas kau membuatku berada di ujung tanduk?" hardik Rio.


" Belum, karena Sinta masih belum bisa memaafkan mu." ucap Rio.


" Apa dia masih terbayang-bayang dengan ciuman ku?" ledek Rio.


" Kurang ajar kau, " kesal Dito yang langsung menghampiri Rio dan ingin menghajarnya.


Dan tangannya tertahan karena ada suara ketukan pintu.


" Boleh aku masuk?" ucap tamu yang akan masuk ke ruangan CEO.


" Masuklah, " sahut Rio.


Tamu pun membuka pintu, dan sangat terkejut saat melihat Dito ingin memukul Rio.


" Dit, apa yang akan kau lakukan?" teriak Mira yang langsung menarik tangan Dito.

__ADS_1


" Rupanya kalian sudah berkumpul disini. " kata Dito yang menatap keduanya dengan sinis.


" Dit, aku minta maaf. Maafkan aku, aku mohon kembalikan perusahaan Rio seperti kemarin." ucap Mira yang bersimpuh di kaki Dito.


" Sungguh memalukan." gerutu Rio dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.


" Apa untungnya untuk ku?" tanya Dito dengan nada angkuh.


" Aku berjanji, Rio tidak akan lagi mengganggu Sinta. Aku mohon.." ucap Mira yang menundukkan kepalanya sambil menangis.


" Maaf Mira, aku tidak bisa. Sinta sudah sangat trauma, dan aku belum bisa membuatnya ceria. Sampai dia normal kembali, baru aku akan kembali kan semuanya." ujar Dito yang langsung pergi meninggalkan mereka. Mira dan Rio menatap kepergian Dito.


" Kenapa kamu harus bersimpuh di kakinya?" ejek Rio.


" Kamu sih, kenapa harus ceroboh." kesal Mira yang langsung memukul Rio, " Aku kehabisan akal untuk merayu Dito."


" Tapi bukan menjatuhkan harga dirimu." ucap Rio.


" Hari gini kamu mikirin harga diri. Ingat ya, perusahaan mu di ambang kehancuran. Kalau saja orang tua mu tahu, kalau hancur hanya karena kau ingin memperkosa pacar Dito. Habislah kau, pasti hubungan antara orang tuamu dan orang tua Dito akan renggang. Dan juga mempengaruhi kinerja papaku di salah satu kantor ayahnya Dito." geram Mira yang kesal melihat tingkah Rio.


-

__ADS_1


-


Silakan like dan berikan komentar mu.


__ADS_2