CINTA SMA

CINTA SMA
bab 21


__ADS_3

"kenapa pesanannya datang terlambat?," tanya pembeli yang memesan makanan ke kafe sendi itu.


"maaf bu di jalan tadi ada kendala, mangkanya pesanannya datang terlambat," ucap sendi sopan.


"baiklah tidak masalah," ucap ibu itu tersenyum lalu membayar makanan itu dengan memberikan uang kepada sendi.


"terima kasih," ucap sendi dan berlalu pergi dari rumah itu.


"hey ayo cepat," ucap mei yang membuat sendi jalan tergesa-gesa menuju ke arah nya yang sudah seperti cacing kepanasan itu.


gimana gak seperti cacing kepanasan, lah wong mei sudah kelojotan di atas motor sendi yang tempat duduknya panas kena terik matahari, otomatis pantat mei ikut kepanasan. di tambah lagi teriknya matahari juga bikin gosong kulit mulus mei jika kelamaan di jemur.


"kau ngeyel sekali tetap mau di atas motor, gosong tu nanti wajahmu," ucap sendi menggoda. lalu sendi pun menjalankan motornya.


"ku kutuk jadi jangkrik baru tau rasa kau," umpat mei dalam hati.


setelah itu hening tak ada yang bicara, hanya suara deru motor butut sendi yang memekakkan telinga. masih di pertengahan jalan menuju rumah, sendi menghentikan motornya tepat di depan rumah danu. lalu sendi pun mengajak mei untuk masuk ke rumah danu. saat akan masuk pagar, sendi melihat Danu yang sedang memberi makan bukong.


iya, bukong adalah nama panggilan anjing kesayangan danu. sekilas saja bukong menemui orang asing tidak dikenalnya masuk ke rumah Danu, bukong akan dengan ganasnya mengejar bahkan menggigit orang asing itu tanpa ampun. bukong tidak akan peduli dengan orang asing itu meskipun sudah nggelepar tak berdaya di lantai seperti ikan asin yang di jemur di pelataran rumah. hanya satu yang bisa menyelamatkan dari keganasan bukong, yaitu danu. ketika Danu menyuruh bukong untuk berhenti, bukong akan menurutinya. benar-benar hewan yang baik.


mei hanya menuruti sendi yang telah melenggang pergi masuk ke rumah danu. entahlah mengapa sendi mengajaknya ke rumah danu.


"hey kalian tumben kesini? atau jangan-jangan kalian rindu padaku?," ucap Danu menebak-nebak sambil mengerlingkan matanya.


"tiap hari bertemu denganmu bikin eneg, tapi kalo kau tidak ada jadi serasa sepi," ucap mei senyum lebar.


"kenapa dengan wajahmu sen? habis digebukin massa?," ucap Danu yang heboh ketika melihat wajah tampan sahabatnya ancur penuh dengan luka lebam.


"kau kira aku pencuri digebukin massa heh?," ucap sendi dengan nada sewot.


"he he he," Danu cengengesan.


"oh iya mei, kenalin ini....," ucap Danu terhenti ketika tiba-tiba sendi memotong perkataan nya.


"bukong, aku sudah mengerti. jadi jangan kau beri tahu lagi," ucap sendi yang kini berada di samping Danu yang tengah duduk sambil memangku bukong yang sedang melet.


"hey, aku bicara dengan mei, bukan denganmu," ucap Danu masih mengelus-elus bukong yang ada di pangkuannya.


"aku menyukainya, dia mirip padamu," ucap mei sambil menunjuk sendi.

__ADS_1


"kau kira aku anjing hah?," ucap sendi tak terima mei menyamainya dengan bukong, anjing kesayangan Danu.


"iya, kau memang seperti bukong, lucu," ucap Danu nyengir tanpa dosa.


"sinting," umpat sendi yang jelas-jelas tidak akan terdengar Danu dan mei, karena dia berbicara dengan pelan.


"tapi kau akan lebih mirip dengan bukong kalau kau juga menjulurkan lidahmu," Danu menambah bicaranya yang suka nyablak kalo ngomong.


aishhh gatal sekali tangan sendi, ingin sekali sendi menjambak rambut cepak Danu itu, lalu menjedot-jedotkan jidatnya ke tembok biar otaknya cair. gak pake otak tapi pake dengkul mungkin, ngomong kok asal nyablak aja.


tambah panas juga sendi karena dia melihat Danu cengangas-cengenges kaga jelas, bikin eneg liatnya.


"terserah dah," ucap sendi mulai ngambek.


"aishh ngambek, jangan ngambek dong. aku gak punya balon kotak nih," ucap mei menggoda sendi agar gak ngambek lagi sambil nyengir.


"sendi, kita gak pulang?. apa kak Tyas gak nyariin kita?, kita kan belum minta ijin ke kak Tyas sen," ucap mei khawatir kak Tyas akan mencemaskan mereka.


"aku sudah SMS kak Tyas untuk mengajakmu mampir ke rumah Danu tadi," ucap sendi menenangkan.


"oo oh," singkat mei.


"ini dari kak tyas, upahmu bekerja sebulan di kafe," ucap sendi sambil menyodorkan gaji pertama mei.


"asikk bisa traktir makan nih," ucap Danu memegang perutnya sambil nyengir berharap mei mentraktirnya makan.


mei tidak menanggapi Danu, dia terlihat sibuk dengan ponselnya.


"kenapa kau dari tadi sibuk dengan ponselmu?," ucap sendi yang sedari tadi melihat mei menatap dan terus menggeser-geser ponselnya itu.


"aku memberi SMS Seno untuk datang kemari," ucap mei tersenyum.


"hah?,kenapa kau menyuruhnya kemari?," tanya sendi butuh kejelasan.


"biar tambah rame, dan dia juga sedang berada di sekitar sini. jadi dia akan datang lebih cepat" ucap mei.


"hey Seno, sini," sapa mei ketika melihat Seno sudah berdiri di dekat pagar.


"kau naik sepeda? mana motormu?," tanya mei ketika dia hanya melihat Seno tidak memakai motor nya, tapi dia datang kesini memakai sepeda.

__ADS_1


"aku sedang bersepeda untuk mencari udara segar," ucap Seno tersenyum tipis.


"apa kau punya sepeda?," tanya mei kepada Danu yang masih terkesiap dari tadi menonton dialog antara Seno dan mei.


"aku punya dua sepeda, tinggalkan lah motor mu itu di rumahku. aku akan meminjamimu sepeda ku," ucap Danu menyuruh sendi untuk menaruh motor nya itu di samping rumah Danu.


lalu Danu pun masuk ke dalam rumahnya dan menuntun 2 sepeda yang ada di tangan kanan dan kirinya. sendi pun berinisiatif membantu Danu yang tengah kesulitan menuntun 2 sepeda sekaligus.


"hey semua," ucap Sinta dan Sasa yang tiba-tiba udah ngejogrog di depan pagar juga memakai sepeda berboncengan.


"siapa yang mengundangmu?," tanya Danu yang melihat Sasa dan sinta tiba-tiba ada di depan rumahnya.


"tidak ada, saat aku tengah membonceng sinta di taman, aku melihat Seno tengah naik sepeda juga. jadi kita mengikuti Seno sampai sini," ucap Sasa nyengir.


sebenarnya dari tadi Sasa tidak sengaja berjumpa dan mulai mengikuti Seno yang ternyata dia hendak ke rumah Danu.


"ya sudah ayo kita jalan," ucap mei.


tapi saat mei hendak naik boncengan dengan sendi, dengan cepat Sinta memohon agar mei berboncengan dengan yang lainnya karena Sinta ingin bonceng dengan sendi.


mei pun mengalah, dan Seno pun menyuruh mei untuk bonceng dengannya. mei pun mengangguki tanda setuju. sendi mengesah, sebenarnya dia tidak ingin boncengan dengan cewek centil ini (Sinta). tapi karena mei sudah terlanjur naik ke boncengan Seno, ia pasrah.


Sinta mengeratkan kedua tangannya ke perut sendi dengan hati yang berbunga-bunga.


"ahh hh hh hh, ini seperti mimpi," batin Sinta di hati. ia merasa senang sekali bisa memeluk pujaan hatinya ini.


Sasa juga sebenarnya ingin berboncengan dengan Seno, tapi dia kalah cepat dengan mei. sialan, umpatnya di hati.


"biar kau tidak sendiri, bagaimana kalau aku bonceng?," tawar Danu kepada Sasa yang masih bengong karena sedang mengutuk mei yang tidak-tidak karena udah nyelonong deketin Seno pujaannya itu.


"okok," ucap Sasa singkat, lalu Danu menaruh sepedanya itu dan lanjut naik ke sepeda Sasa.


"sudah siap?, ayo jalan," ucap Danu sedikit keras agar teman-teman nya mendengar ucapannya.


jangan lupa jika kalian suka dengan karyaku,kalian bisa memberi like,coment asal kalian,vote,and koin guys biar author bisa tambah semangat lagi untuk update nya yaaaa...........see you


love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love


love love love love love love love love love love

__ADS_1


love


maulani safitri


__ADS_2