
Mei terkejut ketika Sendi mendaratkan tangannya dan mengusap-usap puncak kepalanya. dan lebih mengejutkan lagi, ketika Mei mendongakkan kepalanya agar dapat leluasa menatap wajah tampan Sendi, ia melihat seulas senyum tulus yang terbingkai dari wajah pria di hadapannya itu.
Mei menepis pelan tangan Sendi yang masih mengusap kepalanya. "jangan, rambutku jadi berantakan," ucapnya dengan mencebikkan bibirnya kesal, namun malah membuat Sendi terkekeh.
Mei menyisir rambutnya dengan tangan, masih dengan mencebikkan bibirnya dan ia masih menggerutu kesal. "kau ini menyebalkan," ucapnya.
"kenapa kau tidak sekolah?," tanya Sendi tiba-tiba hingga membuat langkah mei terhenti dan membuat langkah Sendi juga ikut berhenti.
"darimana kau tau kalau aku ini masih sekolah?," tanyanya dengan mengernyit heran. kenapa pria di hadapannya ini tau semua tentangnya? pikirnya.
"aku tau semua tentangmu karena aku kekasihmu," ucap Sendi dengan menatap lekat kedua mata wanita di sampingnya itu.
sebenarnya saat ia mendengar ucapan Sendi tadi sama sekali ia tidak menemukan adanya gurauan. dari sorot mata Sendi dapat terlihat dengan jelas kesungguhan dalam ucapannya itu. namun Mei menepisnya karena pada kenyataannya mereka baru saja dipertemukan, dan ia tidak mungkin meyakini apa ucapan pria di hadapannya itu.
"kau sedang halu?," tanya Mei dengan setengah bercanda, membuat Sendi mengangkat satu alisnya. lalu ia kembali memfokuskan pandangannya ke depan dan kembali melangkahkan kakinya di ikuti oleh Mei yang berjalan di sampingnya.
"bisa jadi," jawabnya menanggapi candaan Mei, membuat Mei semakin meyakini bahwa apa yang pria ucapkan itu tadi memang hanya sebuah gurauan semata.
hening
"kita mau kemana?," tanya Mei kemudian dengan sesekali melirikkan matanya menoleh ke arah Sendi setelah sekian lama mereka terus berjalan tak ada tujuan. namun Sendi hanya mengulas senyum sebagai jawabannya yang membuat Mei penasaran di buatnya.
tak lama kemudian langkah mereka berhenti ketika sudah berada di sebuah taman. sekarang ini mereka ada di pinggir sungai yang waktu itu pernah Sendi dan Seno hampiri. Sendi menoleh ke arah Mei yang tengah menatap takjub sungai yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"bening sekali airnya," ucapnya dengan senyum yang masih mengulas di wajahnya. Sendi menganggukkan kepalanya dan kemudian ia duduk di rerumputan dengan kedua kaki yang ia tekuk dan melingkarkan kedua tangan di kakinya. Mei mengikutinya dan duduk di sebelah Sendi dengan mata yang masih tak lepas menatap sungai di hadapannya.
"apa airnya dalam?," tanya Mei membuka percakapan di antara mereka.
"lumayan," jawabnya yang kembali menatap ke depan.
"berarti kau pernah mandi di sini ya," Mei mencoba menggoda pria di sampingnya ini hingga membuat pria itu tertawa kecil.
"pernah," jawabnya di sela-sela tawanya.
hati Mei sedikit bergetar ketika ia melihat pria itu tersenyum. ia terus memandangi setiap jengkal wajah tampan Sendi hingga kemudian matanya berhenti di pelipis Sendi yang tertutup oleh perban. Sendi yang merasa sedang di perhatikan pun kemudian menoleh ke arah Mei.
"ada apa?," tanyanya yang kemudian matanya mengikuti arah pandang Mei dan seketika ia mulai mengerti, "hanya karena sebuah insiden kecil, nanti juga akan sembuh," ucapnya dengan menepiskan senyumnya yang membuat Mei menganggukkan kepalanya mengerti.
"kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Sendi kemudian yang seketika membuat kening Mei berkerut.
"pertanyaan yang mana?," tanyanya yang kemudian sedikit berpikir.
"kenapa kau tidak sekolah lagi?," ucap Sendi mengulang pertanyaan nya yang tadi.
terlihat Mei sedang berpikir, namun kemudian mulutnya terbuka secelah, "aku lebih suka bekerja," ucapnya dengan menepiskan senyumnya.
Sendi hendak mengutarakan ucapannya lagi, namun ia sedikit ragu karena takut Mei akan tersinggung. namun setelah melewati beberapa pertimbangan dan sudah menyusun kata-kata, akhirnya ia pun kembali berucap, "apa kau bekerja di bar itu?," tanyanya dengan hati-hati, ia takut wanita di hadapannya itu tersinggung.
__ADS_1
namun jawaban Mei kemudian seketika membuat Sendi merasa lega karena Mei sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaannya tadi.
"iya, aku bekerja di bar itu ketika aku di booking seseorang untuk menemaninya. semenjak itu, ketika ada yang memintaku untuk sekedar menemaninya minum, aku iya kan saja. toh uangnya lumayan buat kehidupan sehari-hari," Mei mengalihkan pandangannya ke satu titik dengan tatapan kosong. "tapi Hanya untuk sekedar menemani saja, tidak sampai tidur dengannya," lanjutnya yang awalnya membuat Sendi tegang, sekarang hatinya sudah sedikit lega karena penuturan Mei.
Sendi mengusap-usap puncak kepala Mei sayang hingga membuat Mei menoleh ke arah Sendi yang tengah mengulas senyum.
"apa kau percaya dengan penuturan ku tadi?," tanya Mei yang membuat Sendi seketika terdiam.
tangannya yang semula ia gunakan untuk mengusap kepala Mei pun ia turunkan. terlihat Sendi sedang berpikir akan jawaban apa yang akan ia utarakan. lalu ia menatap lekat kedua mata Mei yang juga tengah menatapnya. "aku akan tetap percaya dengan apa yang kau ucapkan walaupun itu adalah sebuah kebohongan sekalipun," ucapnya serius.
"kalau kau berbicara seperti itu, berarti kau meyakini bahwa apa yang aku katakan tadi adalah sebuah kebohongan?" tanya Mei dengan sedikit memicingkan matanya.
Sendi tampak menghela nafas berat. lalu ia meraih dagu Mei agar semakin mendekatkan wajahnya "aku tidak peduli kau mau berbohong sekalipun padaku atau tidak. yang terpenting adalah tugasku yang harus selalu percaya dengan ucapanmu," terdengar dari ucapan Sendi yang tak ada dusta membuat Mei sedikit bingung. namun ia menganggukkan kepalanya juga dengan mengulas senyum.
"apa yang aku katakan tadi adalah sebuah kebenaran. memang pekerjaan yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan. dan sebenarnya aku sempat ingin berhenti, namun takdir yang menyuruhku untuk tetap bertahan pada pekerjaan itu," ucap Mei dengan menepiskan senyumnya.
"kau bisa bekerja di tempatku. lagipula Tara juga bekerja di sana," tawarnya yang membuat Mei tengah berpikir.
Sendi meraih kedua pundak Mei hingga membuat Mei seketika menoleh ke arah Sendi. "aku tau kau tidak menyukai pekerjaan itu. kau gadis baik, jadi kau tidak pantas bekerja di sana," tuturnya yang membuat Mei segera menganggukan kepalanya dengan semangat.
"kalau kau mengizinkannya, aku mau," ucap Mei dengan mata yang berbinar-binar membuat Sendi terkekeh tanpa suara.
"Hem, mulai besok kau sudah boleh bekerja di tempatku," ucap Sendi yang skeketika membuat Mei semakin bersemangat.
__ADS_1
"siap pak bos," ucapnya terkekeh dengan tangan yang ia acungkan ke udara membentuk kepalan sebagai tanda semangat.