
seno pulang ke rumah. ketika hendak masuk ke dalam kamar, tangan kokoh yang menggenggam lengan nya membuat seno menghentikan langkahnya.
"kenapa kau tidak pamit jika ingin pergi keluar?" tanya pria itu yang ternyata pak Johan.
Seno tak menjawabnya dan menghempaskan tangan pak Johan dari lengannya, lalu masuk ke kamar. tapi dengan gesit pak Johan memegang lengan Seno lagi lebih erat.
"aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu. ibumu pasti akan bingung mencarimu Seno," ucap pak Johan lirih tapi penuh dengan penekanan.
"urusi saja urusanmu, jangan mencampuri urusanku," ucap Seno tegas lalu masuk ke kamar dan membanting pintu kamarnya dengan keras.
"benar-benar keras kepala," batin pak Johan.
pak Johan pun masuk ke kamar seno. ia melihat Seno sedang merenung di meja belajarnya.
"maafkan aku, aku hanya ingin membuatmu nyaman di dekatku. aku menganggapmu putraku," ucap pak Johan lembut.
"ayahku hanya satu, sampai kapanpun akan tetap begitu," ucap Seno yang masih menatap jendela yang ada di depannya itu.
"aku tau aku hanyalah ayah sambungan mu, tapi aku juga ingin kau merasakan kasih sayang ayah dariku. maaf jika aku belum adil padamu," ucap pak Johan lirih.
“Yang tidak adil bagiku adalah, aku tidak bisa hidup dengan ayahku sendiri.” Jawab Seno dingin.
“Tidak peduli seberapa keras usahamu agar aku pergi, aku akan tetap disini. Aku akan hidup bahagia disini bersamamu. Apapun yang terjadi, sekarang ini aku adalah ayahmu. Dan aku akan melindungimu.” ucap pak Johan.
“pak Guru, kau tidak layak menjadi seorang ayah. Apa kau tak tahu itu?.bagaimana dengan putra dan putrimu itu?”ucap Seno mengeluarkan kata-kata pedas itu.
"aku masih belum tau keadaan putra putriku. aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi sampai saat ini aku belum menemukannya. tapi sekarang kau juga adalah putraku," ucap pak Johan mengusap pucuk kepala Seno dengan lembut.
"aku memang belum menjadi ayah yang baik, tapi mulai sekarang aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik. istirahatlah, kau pasti capek," lanjut pak johan.
Seno tak menghiraukan perkataan pak johan.ia hanya diam.
*****
mei dan Seno naik motor menuju ke rumah. ia mengambil motornya ketika mereka sampai di rumah Danu. mereka berdua terlihat kikuk dan merasa canggung.
ah h h, situasi macam apa ini? benar-benar menyebalkan. mereka sama-sama bingung tidak tau apa yang harus diperbuat.
__ADS_1
mei merasa canggung jika ada di dekat sendi, benar-benar canggung. jika ada di dekat sendi mei seperti ingin mencakar-cakar tembok sangking canggungnya. aishhh jika mei benar-benar mempraktekkan aksinya, bisa ngakak sendi jika melihatnya. huhhh ingin sekali mei menghilang dari bumi ini agar tidak perlu lagi melihat wajah sendi itu....huh mei benar-benar frustasi di buatnya.
"kau mau kemana?," ucap sendi ketika melihat mei hendak naik ke atas.
"aku mau tidur, aku capek," ucap mei lalu melangkah kan kakinya ke tangga.
"jelas saja kau capek, karena kau dari tadi terus menghindari ku kan?,"jawab sendi santai.
"apa yang kau katakan? aku tidak menghindarimu, aku memang benar-benar capek," ucap mei membantah apa yang sendi katakan.
lalu mei pun naik ke atas dan masuk ke kamar mandi untuk menjernihkan pikiran nya yang sedang kalut. memang sekarang mei benar-benar kalut. astaga....
setelah mandi mei pun ganti baju dan menatap jam dinding yang terpampang di tembok. malam telah tiba, waktu menunjukkan pukul 18.30 waktu setempat.
huh sebenarnya mei saat ini tidak ngantuk, akhirnya mei melangkahkan kakinya menuju teras depan di lantai atas dan duduk di bangku.
mengapa Tara tak pernah menjenguknya? kenapa waktu itu dia seperti marah? apa salah mei padanya sampai Tara berbicara seperti itu padanya?.
astaga ada apa dengan sahabatnya itu.
banyak hal yang terus terngiang di kepala mei, benar-benar bikin pusing.
mei tak mengangkat ponselnya itu,ia hanya menatap nya.
"kenapa kau tak mengangkatnya?," tanya sendi yang ternyata sudah berdiri di depan pintu.
"tidak apa-apa," jawab mei gugup.
lalu sendi pun duduk di samping mei. lalu mei menyinggung tentang pernyataan sendi tadi siang.
"aku tidak akan menerima penolakan darimu," ucap sendi tenang.
"aku tidak menolakmu, hanya saja aku masih belum yakin saja," ucap mei menunduk malu.
"kau belum yakin padaku apa karena kau tidak menyukaiku?," selidik sendi.
"tidak, aku senang melalui hari-hari ku bersamamu," ucap mei mulai menatap wajah tampan sendi.
__ADS_1
“Oke. Kalau begitu aku akan menunggumu sampai kau yakin. Karena aku ini kan pria yang keren. Tapi jangan melarikan diri lagi yaa..” ucap sendi sambil mencubit pelan hidung pesek mei.
"iya aku janji," ucap mei tersenyum lebar.
"kenapa kalian tidak tidur?," tanya kak Tyas yang tiba-tiba ada di depan pintu.
"hehehe kita sedang ngobrol disini kak," ucap sendi kikuk.
"kalian sudah belajar?," tanya kak tyas.
aku sudah kak, tapi kalau dia....," ucap mei tertahan sambil menoleh ke arah sendi.
"aku kan sudah bilang kalau tanpa belajar pun aku bisa mengerjakan soal," ucap sendi enteng.
"awwww kak lepas aduhhh," rintih sendi ketika kak Tyas menjewer telinga kiri sendi.
kak Tyas pun melepaskan jewerannya itu.
"besok kakak akan berlibur dengan sahabat-sahabat kakak selama seminggu, kalian berdua jaga rumah ya," ucap kak Tyas.
"kenapa mendadak sekali kak?," ucap mei.
"sahabat kakak yang mendadak mengabari kakak dan mengajak kakak berlibur."
"aku pasti akan merindukanmu kak mm," ucap sendi manja sambil memeluk kakak kesayangannya itu.
"jaga rumah ya," ucap kak Tyas.
"kalian masuklah ke kamar," lanjut kak Tyas kemudian.
lalu sendi dan mei pun pergi ke kamarnya masing-masing untuk tidur.
jangan lupa jika kalian suka dengan karyaku,kalian bisa memberi like,coment asal kalian,vote,and koin guys biar author bisa tambah semangat lagi untuk update nya yaaaa...........see you
love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love
love love love love love love love love love love
__ADS_1
love
maulani safitri