CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 7


__ADS_3

"apa yang terjadi padamu Sendi," wajah Bu Susi yang semula datar berubah menjadi khawatir karena melihat luka lebam di pelipis kiri Sendi.


"apa kalian bertengkar?," tanya pak Johan menatap wajah kedua anaknya.


"tidak, aku tidak bertengkar dengannya. tadi saat aku hendak pulang ke rumah, aku berpapasan dengan Sendi yang tengah di keroyok dua pria di gang kecil sana," ucap Seno menjelaskan.


lalu Bu Susi mendekat ke arah Sendi dan mengusap pipi Sendi lembut.


"nak, kenapa kau bisa sampai di keroyok kedua pria itu?"


"hanya ada sedikit masalah dengan mereka Bu, ibu tidak usah khawatir karena aku baik-baik saja," Sendi menampakkan senyumnya di hadapan ayah dan ibunya agar mereka percaya kalau Sendi baik-baik saja. namun bagaimana mungkin Bu Susi dan pak Johan bisa percaya kalau Sendi baik-baik saja, karena mereka bisa lihat begitu jelas wajah sendi lebam.


"cepat katakan pada kami, kenapa kau bisa begini?," pak Johan berusaha untuk mendesak Sendi agar ia bercerita.


"saat aku berjalan, aku berpapasan dengan dua pria itu dan aku tidak sengaja menyenggol salah satu pria itu hingga dia terjatuh. aku sudah meminta maaf pada mereka, tapi karena mereka sepertinya sedang di bawah pengaruh minuman beralkohol, mereka terbawa emosi lalu mereka pun mengeroyokku," ucap Sendi.


"ayo kita duduk dulu" Bu Susi mengajak Sendi untuk duduk di salah satu kursi yang ada di kafe tersebut, sedangkan Seno dan juga pak Johan duduk di kursi yang menghadap Sendi.


Bu Susi berjalan menuju dapur dan tak beberapa lama Bu Susi terlihat kembali dengan membawa nampan berisikan baskom berisi air hangat dan 4 gelas jus mangga. saat Bu Susi sudah berada di dekat meja, ia pun menaruh nampannya di meja dan memberikan gelas berisikan jus mangga di depan Sendi, Seno, dan pak Johan. setelah itu Bu Susi pun duduk di sebelah Sendi.


Bu Susi mengompres luka lebam di wajah Sendi dengan memakai lap yang sudah di celupkan ke air hangat. Bu Susi melakukannya dengan telaten.


"apa ibu sudah mendapatkan karyawan baru?," tanya Seno.


"sudah sayang, tadi ada seorang wanita yang datang kemari. tak sengaja dia melihat banner di depan yang berisikan lowongan pekerjaan. dan kebetulan juga dia sedang membutuhkan pekerjaan ini, lalu ibu pun menerimanya bekerja di sini dan besok adalah hari pertamanya bekerja," tutur Bu Susi.


sudah dua hari ini Bu Susi memajang banner berisikan lowongan pekerjaan di depan kafe, dan syukurlah hari ini ada yang melamar pekerjaan di cafe, sehingga bisa membantu Bu Susi untuk mengelola cafe.

__ADS_1


"setelah ini kalian tidak perlu lagi membantu ibu karena ibu sudah ada yang membantu," ucap Bu Susi dengan tangan yang masih mengompres luka lebam Sendi.


"dia masih seumuran dengan kalian berdua sayang. dan dia juga bilang ke ibu kalau dia baru saja di terima di sekolah yang sama dengan kalian. mungkin dia akan menjadi teman baru kalian di sekolah," ucap Bu susi.


hening


tidak ada yang berkomentar.


setelah Bu Susi selesai mengompres luka sendi, ia pun kemudian menyuruh Sendi dan Seno masuk ke dalam kamar untuk tidur karena ini sudah malam. sebelumnya Sendi dan Seno sudah menghabiskan jus mangga yang telah Bu Susi bawakan tadi.


saat Sendi dan Seno masuk ke kamar, Sendi pun langsung merangkak naik ke tempat tidur dan melempar bantal juga selimut tebal ke arah Seno hingga terkena wajahnya.


"aku tidak ingin tidur denganmu, tidurlah kau malam ini di bawah," ucap Sendi ketus. lalu Sendi pun berbaring dan melipat kedua tangannya di bawah kepalanya.


Seno tak terima ditimpuk bantal oleh Sendi, lalu Seno pun merangkak naik ke tempat tidur dan menimpuk balik Sendi. Sendi juga merasa tak terima, akhirnya mereka berdua pun saling melempar bantal ke arah satu sama lain sampai mereka pun akhirnya kelelahan.


"hahaha aku menang darimu," ucap Seno dengan tertawa penuh dengan kemenangan.


tapi tawa Seno langsung terhenti tatkala ia melihat tubuh Sendi yang diam tak bergerak. Seno yang melihat itu pun langsung membuka bantal yang menutup wajah Sendi tadi dan melihat mata Sendi yang terpejam. Seno terkejut karena ia takut terjadi apa-apa dengan Sendi. lalu ia pun menempelkan jari telunjuknya di hidung Sendi, namun tak ada nafas yang terbuang di sana.


"kenapa tidak ada nafas yang terbuang dari hidungnya?," Seno benar-benar mulai panik dan ia mengguncang-guncangkan tubuh Sendi sambil memanggil-manggil nama Sendi berusaha untuk membangunkannya.


"astaga apa yang telah ku lakukan padanya? apa dia benar-benar sudah mati?," gumam Seno, ia masih mengguncang tubuh Sendi.


"dia mati? tapi bagaimana bisa? padahal aku tidak terlalu menekan bantalnya" racau Seno.


kedua mata Sendi tiba-tiba terbuka seketika, dan ia langsung menendang tubuh Seno yang kala itu berada di sampingnya hingga tubuh Seno terpental dan terjatuh ke lantai. lalu Sendi mendudukkan dirinya untuk melihat tubuh Seno yang sekarang terkapar di lantai seperti ikan asin.

__ADS_1


"arghhh," Seno berteriak.


Sendi tertawa melihat posisi Seno yang sekarang berada di lantai, dengan tubuh menelungkup, kedua tangan dan kedua kaki yang membentang persis seperti ikan asin yang tengah di jemur di sinar matahari.


"hahahaha rasakan itu," Sendi tertawa melihat Seno yang terjungkal dan terkapar di lantai.


lalu Seno bangun dan mendudukkan tubuhnya di lantai dengan matanya yang menatap sendi tajam.


"kau membohongiku! kau benar-benar kurang ajar Sendi!" Seno pun berdiri dan mulai mendekati Sendi yang masih sibuk menertawainya. kali ini Seno tidak ingin mengajaknya berkelahi lagi karena ia sungguh lelah.


"jangan kau tampakkan gigimu yang penuh jigong itu di hadapanku, ku hajar nanti berserak kau," Seno berbaring di samping Sendi dan mulai menyelimuti tubuhnya dengan selimut hingga dadanya.


"hahaha seharusnya aku yang marah padamu. kau ini pandai, namun kenapa dengan mudah sekali kau bisa ku bohongi, hah?" tawa Sendi masih terlihat walau jarang.


"iya, sekarang kebodohanmu menular padaku. karena itu aku sekarang jadi seperti ini," ucap Seno dengan mata terpejam.


"bisa sekali kau berbicara seperti itu, dasar sinting," gerutu Sendi.


Seno tak menyahutinya. lalu Sendi sedikit memiringkan kepalanya ke arah Seno dan melihat ia sudah memejamkan matanya.


-


-


-


love

__ADS_1


M a u l a n i s a f i t r i


__ADS_2