
keesokan nya, matahari sudah nampak naik di peraduannya. cahayanya menyusup masuk ke dalam jendela di balik tirai yang tersingkap sebagian. kedua mata Sendi mengerjap dengan sedikit membuka matanya, ia merasa malas untuk bangun dari tempat tidur karena ia merasakan sakit di semua bagian tubuhnya.
semalam ia merasa benar-benar tidak bisa tertidur dengan lelap. ia menggeliatkan tubuhnya lalu mencari posisi yang sekiranya membuat dirinya nyaman dan kembali memejamkan matanya.
namun tak beberapa lama ia kembali membuka matanya paksa dan menyipitkan mata melihat ke arah jam weker yang terpampang di atas nakas samping tempat tidurnya.
raut wajahnya tampak terlihat begitu terkejut, yang membuatnya langsung melompat dari tempat tidur untuk menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri di sana. tak beberapa lama nampak pintu kamar mandi yang terbuka dan Sendi terlihat keluar dari sana dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan bertelanjang dada.
ia berjalan menuju ke arah lemari besar yang ada di sana dan mulai mengambil sehelai baju seragam sekolah lalu memakainya. setelah itu ia berdiri di depan cermin sembari menyisir rambutnya, setelah selesai ia langsung menyaut tas sekolahnya yang ada di atas meja belajar dan ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah pintu kamar.
namun saat ia akan memutar kenop pintu itu, dari arah luar sudah ada seseorang yang ingin masuk hingga Sendi mengurungkan niatnya dan menunggu orang dari luar itu untuk membuka pintunya. nampaklah Seno yang tengah memandang Sendi heran dengan satu alis yang terangkat.
"kau mau kemana?," tanyanya yang seketika mendapat jitakan dari Sendi.
"kenapa kau tidak memakai seragam mu? apa hari ini kau tidak sekolah? cepat ganti pakaian mu, aku akan menunggumu di bawah," perintah Sendi dengan raut wajah kesal lalu ia berjalan melewati Seno dengan tergesa-gesa.
namun baru beberapa langkah Sendi berjalan, tiba-tiba Seno mencekal lengan Sendi hingga Sendi menghentikan langkahnya dan sedikit memutarkan lehernya menoleh ke arah Seno dengan kening yang mengerut.
lalu Seno melepaskan cekalannya di lengan Sendi. terlihat dari wajah Seno senyum ledekan yang membuat kening sendi yang semakin mengerut.
"anak teladan. meskipun hari Minggu sekalipun kau masih ingin masuk sekolah? wah, kakakku ini sudah tobat ya," ucapnya dengan tawa yang masih dapat ia tahan. membuat sendi seketika merogoh ponsel yang ada di saku celananya dan melihat tulisan di layar utama.
__ADS_1
"hari Minggu," gumamnya yang kemudian menoleh ke arah Seno yang sudah tertawa kencang. ia sudah tidak bisa lagi menahan tawanya yang membuat Sendi melingkarkan sebelah tangannya ke leher Seno dan menguncinya hingga Seno meringis kesakitan.
"ampun, ampun," ucap Seno memohon ampun agar Sendi melepaskan kunciannya, namun bukannya melepaskan kunciannya, justru Sendi malah mengeratkan kunciannya hingga Seno semakin meringis kesakitan.
namun seketika kunciannya terlepas ketika Sendi melihat pak Johan yang tengah menaiki tangga dan bersitatap dengan mereka.
keningnya berkerut ketika memandangi kedua putranya yang nampak tersenyum canggung.
namun keningnya semakin berkerut ketika ia melihat putra sulungnya sedang memakai baju seragam sekolah. "kau mau sekolah? ini kan hari Minggu," ucapnya dengan menahan tawa.
sedangkan Sendi yang merasa tidak terima dengan ledekan sang ayahnya pun langsung berdecak kesal dan berjalan masuk ke kamarnya untuk berganti baju.
*****
iya, sejak tadi Mei sudah resmi bekerja di kafe Sendi. terlihat sekali raut wajahnya yang penuh semangat.
terlihat Bu Susi tengah menghampiri Seno yang tengah sibuk membersihkan salah satu meja di ujung sana. "Seno, tolong antarkan pesanan ini ke rumah tuan syekh," ucapnya seraya menyerahkan beberapa bungkus yang berisikan makanan yang langsung Seno ambil sembari menganggukkan kepalanya.
"ajaklah Mei untuk membantumu membawakan beberapa bungkus makanan ini," perintahnya
"iya Bu, aku pamit," ucapnya dengan menepiskan senyumnya seraya meletakkan kain lap ke tempat semula. lalu Seno menoleh ke arah Mei yang tidak jauh dari tempat nya berada yang juga tengah menatapnya dengan senyum yang merekah dan menganggukkan kepalanya mengerti karena saat Bu Susi berbicara dengan Seno, ia mendengarnya dan wajahnya seketika begitu senang karena ia akan mengantarkan pesanan dengan pria pujaannya.
__ADS_1
lalu Mei segera mengikuti langkah panjang Seno menuju ke dapur untuk menemui Sendi yang tengah sibuk memasak nasi goreng. terlihat Tara yang berada di samping Sendi, ia masih sibuk memotong bawang merah dengan sesekali punggung tangannya mengusap mata karena terasa pedih hingga mengeluarkan air matanya yang jarang.
Sendi yang melihat mata Tara yang terus mengeluarkan air mata karena terus saja memotong bawang pun segera mematikan kompornya dan kedua tangannya membuka lemari kecil yang ada di sana dan mengambil sebuah kacamata.
lalu Sendi mendekatkan tubuhnya menghadap ke arah Tara untuk memakai-kan kacamata itu ke mata Tara. saat tubuh mereka begitu terasa dekat, jantung Tara seketika seperti berhenti sejenak.
ia mulai tidak bisa mengendalikan jantungnya yang terus berdegup kencang dan ditambah Indra penciuman nya yang terus mencium aroma vanila yang menguar tajam dari tubuh pria di dekatnya itu semakin membuat dirinya gila.
"pakailah agar kau tidak menangis lagi," setelah Sendi mengatakan itu, ia mengambil piring di rak piring dan meletakkan nasi goreng yang masih ada di wajan itu ke piring.
tampak sekali raut wajah Seno yang semula baik-baik saja seketika berubah dingin.
"ada apa?" tanya Sendi tanpa menoleh ke arah Seno dan Mei yang tengah berdiri di ambang pintu. Tara yang baru menyadari akan kehadiran Seno dan Mei pun seketika menoleh ke arah mereka dengan menepiskan senyumnya sekilas berusaha untuk menutupi kegugupannya, setelah itu Tara kembali sibuk memotong bawang sembari mencoba menata hatinya yang sedang kacau karena ulah Sendi tadi.
lalu Seno berjalan mendekati Sendi dan menengadahkan sebelah tangannya ke arah Sendi. sedangkan Mei tetap berdiri di ambang pintu sembari memperhatikan mereka. Sendi yang melihat itu pun menoleh ke arah Seno dengan alis terangkat penuh tanya.
"apa?," tanya nya cetus.
"mana kunci motormu, aku mau pinjam untuk mengantar beberapa pesanan ini bersama Mei," ucapnya dengan tangan yang masih menengadah ke arah Sendi.
sejenak sendi tertegun, matanya melirik ke arah Mei sekilas, lalu ia kembali menatap Seno tanpa ekspresi. kemudian Sendi meletakkan piring berisikan nasi goreng itu ke meja, lalu ia mengambil kunci motor dari dalam sakunya.
__ADS_1
note author.
selamat membaca, btw jangan lupa juga like, coment, and VOTE nya.😘