CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 23


__ADS_3

"terkadang wanita itu hanya sekedar kecewa, bukan benci. bisa jadi dia memutuskan hubungan denganmu karena ia kecewa, dan salah satu cara untuk menghindar adalah dengan putus denganmu. namun biasanya ketika ia kecewa dan memilih untuk putus, sebenarnya dalam hati ia ingin di kejar, bukannya di biarkan. jadi, jika kau ingin melihat dia masih cinta atau tidak, lebih baik kau bicarakan ini dengannya baik-baik," ucap Tara panjang lebar.


ucapan Tara membuat Danu tertegun, lalu ia kembali melirik ke arah Tara. "kenapa dia pergi jika ingin di cari? kenapa dia sengaja lari agar di kejar? kenapa dia tidak mengatakan titik masalahnya saja? kenapa wanita seperti itu?," tanyanya beruntun.


mulut Tara terbuka secelah hendak menjawab, namun kalah cepat dengan Sendi yang tiba-tiba berbicara, "karena wanita sangat sulit mengatakan isi hatinya, mereka lebih suka di tebak, dan mereka lebih suka di mengerti tanpa harus panjang kali lebar untuk menjelaskan titik masalahnya," ucapnya masih dengan mata yang fokus ke jalanan.


"hm, rumit sekali," celutuknya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.


Sendi, Seno, dan Tara yang melihat Danu frustasi pun hanya menahan tawa.


lalu Sendi menepuk pundak sahabatnya itu,


"harusnya kau berjuang, bukannya malah berbelok. jadi, batalkan pertemuan mu itu dengan Karina, lalu bertemulah dengan Via," ucap Seno memberi saran.


"lelaki sejati tidak pernah mengingkari janji," Danu berucap dengan puitis dengan mengangkat tangan kanannya ke udara membentuk kepalan yang membuat Sendi, Seno, dan Tara memutar kedua bola matanya merasa muak.


"lelaki sejati juga tidak main Barbie," ucap Tara berkomentar.


Danu mengernyit bingung dengan ucapan Tara, "Barbie? kau ini ada-ada saja. kau pikir aku ini anak kecil yang mainannya barbie, aku juga laki-laki, mana mungkin main Barbie," ucapnya sewot.

__ADS_1


Tara merasa gemas dengan Danu, saat Tara hendak menjawabnya, tiba-tiba Sendi langsung angkat bicara, "bodoh sekali kau ini, maksudnya Barbie adalah istilah dari wanita. laki-laki sejati itu tidak mempermainkan hati banyak wanita," ucap Sendi menjelaskan yang membuat Danu mengangguk paham.


setelah sampai di sekolah, mereka berempat pun langsung masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku masing-masing. kelas masih tampak sepi karena saat ini masih terlalu pagi. lalu Seno menyuruh Tara untuk duduk di samping bangku sebelah Sinta yang dulu pernah di duduki oleh Mei. kedatangan mereka di sambut beberapa siswa lain yang ada di dalam kelas dengan raut wajah yang begitu penasaran, tapi tatapan mereka lebih tertuju pada Tara karena memang bagi yang lain Tara masih asing di mata mereka. namun tidak bagi Sinta, karena kemarin ia sudah berjumpa dengan Tara yang adalah murid baru di sekolah ini. Sinta tersenyum ramah saat ia melihat Tara yang hendak duduk di bangku sebelahnya. namun seketika senyum Sinta pudar ketika Sendi berucap.


"jangan duduk di situ," ucap Sendi melarang Tara ketika ia melihat Tara hendak duduk di bangku kosong milik Mei tersebut. Tara yang mendapat larangan dari Sendi itu pun langsung menatap Sendi sembari mengerutkan keningnya bingung, namun ia diam saja. bukan hanya Tara saja yang merasa bingung, namun Sinta dan lainnya pun juga ikut bingung karena Sendi.


"kenapa?," ucap Tara kemudian masih dengan tatapan penuh tanya, menatap ke arah pemuda yang ada di hadapannya saat ini.


"biar aku yang duduk di sana, kau duduklah di sini bersama Seno," ucap Sendi dengan menunjuk bangkunya yang bersebelahan dengan Seno. setelah mengatakan itu, Sendi berjalan mendekat dan melewati Tara, lalu ia duduk di bangku bersebelahan dengan Sinta. sedangkan Tara hanya menuruti permintaan Sendi tadi meski banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.


entahlah apa yang Sendi pikirkan. ia sungguh begitu tidak rela jika ada seseorang yang menduduki bangku Mei. karena menurutnya, daripada Tara yang menduduki bangku itu, lebih baik dirinya saja yang duduk di bangku milik Mei itu.


pemuda yang duduk di bangku seberang sedari tadi memperhatikan tingkah Sendi dan terlihat ia begitu geram, lalu tanpa sadar ia mengepalkan tangannya menahan amarah. namun ketika pemuda itu melihat Sendi sudah duduk di sebelah Sinta, tanpa aba-aba ia langsung berjalan mendekati Sendi dan menarik kerah Sendi kasar hingga Sendi berdiri mengikuti ke arah pemuda itu dan-.


satu kepalan tangan Miko menghantam pipi Sendi hingga Sendi tak dapat menyeimbangkan tubuhnya dan ia jatuh terduduk di lantai. sebelumnya pelipisnya tak sengaja terbentur sudut meja Seno hingga mengeluarkan darah segar, bahkan sampai menetes-netes di lantai, yang membuat seketika siswa yang ada di dalam kelas berkumpul seperti sedang melihat pergulatan tinju di ring. Seno, Tara dan lainnya dengan raut wajah khawatir, langsung meraih tubuh Sendi di lantai, ia berjongkok untuk mensjajarkan tubuhnya dengan Sendi yang jatuh terduduk di lantai.


Seno kembali berdiri dan mulai menatap tajam ke arah Miko yang juga tengah memandangnya. mata elang Seno yang begitu tajam, mampu membuat Miko seketika takut, namun ia masih bisa menyembunyikan rasa takutnya.


tangan Seno dengan sigap langsung menarik kasar kerah baju Miko hingga wajah mereka begitu dekat. "apa yang kau lakukan pada kakakku?," tanyanya dengan geram. Seno tak habis pikir kenapa Miko tiba-tiba bisa memukul Sendi seperti itu.

__ADS_1


Miko memilih untuk bungkam, dari deru nafasnya yang memburu, ia masih mencoba untuk mengontrol emosinya. lalu sendi yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Seno, ia menepis pelan tangan Seno yang masih mencengkram kuat kerah Miko dan membantu melepaskannya. sebenarnya kepala Sendi pusing, bahkan pelipisnya yang masih mengucurkan darah sangat terasa nyeri sekali. namun ia masih dapat menahannya, lalu ia menatap Miko tajam.


"ada apa?," tanya Seno pada Sendi dengan mengangkat satu alis.


Sendi tak menjawab ucapan Seno, lalu ia alihkan tatapannya ke arah Miko dingin. sesekali ia menyeka darah yang terkadang mengalir di pipi Sendi dengan punggung tangannya.


"kau ada masalah denganku?," tanyanya dingin tanpa ekspresi.


Miko mendengus kesal, lalu ia berjalan keluar kelas masih dengan raut wajah yang begitu kacau.sejenak Sendi tertegun, namun akhirnya Sendi tau maksud Miko, lalu ia pun menyusul dan mulai mengekori Miko hingga ia mereka berada di sudut sekolah yang tampak sepi. sesampainya di sana, Miko langsung mendorong tubuh Sendi cukup kuat hingga Sendi terhempas ke dinding. lalu ia melipat kedua tangannya di depan dada, "apa sekarang kau berniat ingin menikung Sinta dariku?," tanyanya geram.


Sendi mengernyit bingung, apa maksudnya? kenapa dia bisa berfikir seperti itu? pikirnya.


"apa yang kau katakan? aku akan menikungmu? yang benar saja," ucap Sendi yang bingung meminta kejelasan.


-


-


-

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejaknya ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


tetaplah ketawa-ketiwi meskipun hidup sulit sekali๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™


__ADS_2