CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 31


__ADS_3

Seno segera mengambil kunci motor yang ada di tangan Sendi.


"Hati-hati di jalan. jika ada lampu merah kau harus berhenti, jangan sampai kau terjang," cetusnya yang membuat Seno menatap kesal. sedangkan Tara dan Mei yang mendengarnya pun hanya tertawa kecil.


"Kau kira aku sebodoh dirimu jika ada lampu merah aku terjang?" ucapnya dengan tersenyum miring. setelah mengatakan itu, Seno berjalan gontai menuju ke halaman rumah dengan Mei yang mengikuti langkahnya dari belakang.


Mei memperhatikan motor Sendi yang menurutnya sangat unik hingga membuat Seno mengalihkan perhatiannya ke arah Mei dengan kening yang berkerut.


"Kenapa?," tanyanya hingga tatapan mereka saling bertemu. Mei mengulas senyum dengan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada. aku hanya suka melihat motor ini, unik,", ucapnya dengan senyum merekah yang terus menghiasi wajahnya.


Seno mengulas senyum sekilas, lalu ia menaiki motor itu yang sebelumnya telah ia nyalakan mesinnya. "Naiklah," ucapnya dengan sedikit menelengkan kepalanya agar dapat leluasa melihat wajah Mei yang terlihat bersemu merah.


Mei segera naik ke motor, sedangkan Seno mengambil alih beberapa bungkus makanan itu agar Mei dapat dengan mudah naik. setelah mereka sudah berada di atas motor, Mei kembali mengambil alih bawaannya itu ke tangannya.


"sudah siap?," tanyanya tanpa menoleh.


"siap," ucap Mei di belakang dengan tersenyum. ah, bahagia sekali dirinya hari ini karena ia dapat dekat dengan pria pujaannya.


motor itu terus melaju menyusuri jalanan yang nampak lenggang. terlihat mereka berdua tengah berbincang-bincang dengan sesekali tertawa dengan renyah.


Setelah mereka sudah mengantar beberapa pesanan, Seno menghentikan motornya di depan supermarket terdekat dan kemudian dirinya turun dengan di susul Mei yang berada di belakang. lalu mereka duduk di bangku panjang yang ada di sana.


"Kau tunggu di sini dulu, aku mau masuk ke dalam untuk membeli minum." Setelah Mei mengiyakannya, Seno pun berjalan masuk ke dalam Supermarket untuk membeli minuman di sana.


Tak butuh waktu lama, tampak Seno kembali ke tempat Mei menunggu dengan menggenggam kedua buah botol minuman dan memberikannya salah satu ke Mei.


"Terima kasih," ucap Mei dengan menepiskan senyumnya sembari tangannya yang menerima minuman itu. lalu ia membuka tutup botolnya dan meneguk minuman itu hingga tersisa sedikit.

__ADS_1


"Sen," panggilnya yang membuat Seno seketika menoleh.


"Hem,"


"Apa kau sudah punya kekasih?" Tanya Mei yang membuat Seno mengerjap beberapa kali.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Karena aku menyukai dirimu." Kali ini Seno benar-benar terkejut dengan apa yang Mei ucapkan barusan. bagaimana bisa gadis di hadapannya ini urat malunya seolah hilang di telan bumi.


Setelah dirinya mampu menguasai diri, kemudian Seno mendekatkan wajahnya ke arah Mei hingga tak menyisakan jarak sedikitpun di antara mereka. sedangkan Mei hanya diam dan menatap ujung hidungnya yang sudah menempel dengan hidung Seno.


"Apa kau sedang berencana untuk menembak ku?" tanyanya dengan tatapan yang penuh selidik.


Wajah Mei berubah menjadi panik. "Kenapa kau mengetahui nya? apa kau bisa membaca pikiranku?" Bukannya menjawab pertanyaan Seno, dirinya malah mengalihkan dengan mengajukan pertanyaan lain.


Mei hanya mencebikkan bibirnya kesal. "Kalau aku jual mahal, nanti kau akan susah untuk mendapatkan ku," ucapnya dengan bibir mungilnya yang terkatup rapat.


Kedua mata Seno membulat sempurna, lalu kemudian dirinya tertawa. "Kau ini memang terlalu percaya diri sekali. memangnya siapa yang menyukaimu?" Namun tawanya seketika terhenti tatkala dirinya menyadari bahwa sorot mata gadis itu tiba-tiba berubah menjadi sendu.


Merasa bersalah, Seno meraih kedua bahu Mei dan menatapnya dalam. "Maksudku, apakah kau tak mengingat, siapa orang yang sebenarnya kau sukai?"


Kedua alis tebal Mei saling bertaut, dirinya sungguh bingung dengan pertanyaan pria di hadapannya itu. "Kau adalah orang yang ku sukai. dan kau adalah cinta pertamaku," ucapnya sewot.


Entahlah kenapa hari ini gadis itu begitu menyebalkan bagi Seno. namun dirinya sejenak tertegun, ia seperti mengingat sesuatu. lalu dengan lancang dirinya meraih tangan Mei untuk memastikan sesuatu hingga membuat Mei terkejut.


"Apa yang kau lakukan, Sen?" Tanyanya namun tak mendapat respon apapun dari Seno.

__ADS_1


Seno tak menemukan apa yang dia cari, lalu pandangannya mengarah ke arah Mei dengan tajam. "Jangan beri aku ruang di hatimu, Mei. cintamu buat dia, hanya dia!"


"Kau harus cepat memulihkan kembali ingatanmu, jangan buatnya menunggu terlalu lama, Mei. tetapkan hatimu untuknya, bukan orang lain apalagi diriku!" Seno beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke motornya.


Namun langkahnya seketika terhenti saat seseorang meraih sebelah tangannya, hingga mengharuskan dirinya menoleh ke arah pemilik tangan itu.


"Apa yang telah aku lupakan, Sen? siapa dia? apa aku begitu mencintainya sampai-sampai kau memaksaku untuk terus mengingat dirinya yang telah ku lupakan? Siapa dia?" Kali ini Mei sungguh tak bisa menahan air matanya lagi. isakan tangisnya semakin terdengar hingga mencuri perhatian beberapa orang yang lewat di sana.


Sedangkan Seno, ia mengusap-usap pundak Mei yang terlihat naik turun sekedar untuk meredakan tangis gadis itu. dirinya sungguh tidak tega melihat cinta pertamanya menangis apalagi itu karena ulahnya.


Tanpa pikir panjang, Seno meraih tubuh mungil gadis itu dan mendekapnya erat. ia memberikan usapan lembut pada rambut panjang gadis itu yang tengah terurai.


"Jangan mencintaiku. aku tidak ingin tiga hati akan terluka lagi. cukuplah aku yang mencintaimu, kau tidak perlu membalas cintaku. lagipula aku sudah bisa membuka hati untuk orang lain,"


Seno melepas pelukannya dan menatap kedua mata Mei bergantian. "cintamu hanyalah untuk Sendi. jangan biarkan dirinya menunggumu terlalu lama," ucapnya dengan kedua ibu jarinya yang mengusap pipi Mei yang basah karena air mata.


Kemudian Seno naik ke motornya dan segera menyalakan mesin motor, Mei segera menyusul Seno untuk naik ke motor itu. setelah itu Seno mulai melajukan kembali motornya ke jalan raya untuk kembali pulang ke rumah.


"Sen," panggil Mei yang membuat Seno seketika melihat ke arah spion yang memantulkan wajah cantik Mei.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Apa aku boleh memelukmu? mungkin ini adalah pelukan untuk yang terakhir kalinya sebelum aku kembali mengingat siapa diriku dan semua masa laluku," pintanya yang membuat Seno sejenak berpikir, namun seketika menganggukkan kepalanya.


Mei tersenyum saat dirinya mendapat persetujuan dari pria yang ia sukai itu. kemudian dirinya melingkarkan tangannya dan memeluk tubuh Seno erat.


Seketika Seno membelokkan motornya ke kiri jalan saat dirinya berada di perempatan jalan. sejenak Mei bingung karena Seno yang tiba-tiba belok ke kiri, padahal kafe Sendi harusnya belok ke kanan saat mereka ada di perempatan jalan tadi.

__ADS_1


__ADS_2