
" Kamu kok bisa ada disini?" tanya Sinta yang terkejut melihat kedatangan sahabat nya.
" Ada acara arisan keluarga, dan kebetulan vila yang kami sewa gak jauh dari sini." ujar Terry.
" Ya ampun, aku senang banget." kata Sinta sambil memeluk Terry.
Lalu ke empat sahabat itu berkumpul di pinggir pantai. Mereka melepaskan rindu sampai tengah malam.
Dito pun menghampiri mereka untuk mengajak nya makan, karena hidangan sudah tersedia.
" Sin, makanan sudah siap." panggil Dito, " Ayo semuanya makan." ajak Dito.
Lalu mereka menuju vila, sudah tersedia nasi berserta lauk ikan bakar, cumi bakar dan udang bakar. Tak lupa sosis bakar yang ukurannya jumbo.
" Kalau liat sosis ini aku jadi ingat, dulu Dito pernah memberikan pada Sinta sewaktu acara api unggun di bogor." kata Terry yang saat itu menyerobot sosis pemberian Dito.
" Ih kamu masih ingat aja." kata Sinta.
" Ya iyalah, perjuangan cinta kalian itu berat. Dan aku saksinya, jadi kalau ada yang gangguin hubungan kamu aku gak rela." kata Terry sambil memeluk Sinta.
Kemudian Sinta pun terdiam, dan tiba-tiba saja dia teringat dengan kejadian tadi malam. Kemudian dia menundukkan kepalanya lalu menutup wajahnya. Sinta pun menangis, tak kuat menahan air matanya yang sedari pagi dia tahan.
" Hmmmm..eeemmm...." isak tangis mulai terdengar.
" Kamu kenapa Sin?" tanya Terry, " Ada kata-kata ku yang bikin kamu nangis?" Terry melihat ke arah teman-teman yang lain sambil mengangkat kedua alisnya, bermaksud menanyakan kenapa Sinta menangis.
__ADS_1
Semua mengangkat bahu mereka, menandakan tidak tahu kenapa Sinta menangis. Sebenarnya Fadli, Malik dan Dito tahu penyebab Sinta menangis. Namun mereka tidak ingin membuat Sinta bersedih. Tujuan mereka membawa sahabat Sinta adalah untuk menghibur Sinta yang sedang trauma.
" Sin, jelaskan kepada ku. Kenapa kamu menangis?" tanya Terry yang berbisik di telinga Sinta.
" Aku.. aku.." teriak Sinta sambil memeluk Terry dan tangis yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
" Kamu kenapa? jelaskan sama aku, " kata Terry mencoba menyelidik
" Aku gak bisa ngelupain kejadian kemarin." kata Sinta dengan isak tangis, " Aku takut .."
" Kejadian apa?" tanya Terry yang melihat ke arah Dito.
Dito memilih pergi dan tidak ingin melihat Sinta terus menangis.
" Sebaiknya kita bawa Sinta ke kamar." ajak Puput.
Sinta pun diajak ke kamar oleh Terry, dan diikuti Puput dan Wahyuningsih.
Fadli menghampiri Dito yang sedang melamun di pinggir pantai.
" Seperti nya Sinta masih belum melupakan kejadian kemarin." tutur Fadli.
" Semua salah ku, seandainya aku tidak mengajak nya jalan ke Yogyakarta. Mungkin hal itu tidak akan terjadi." Sesal Dito.
" Sudah lah Dit, semua itu sudah diatur. Kamu gak boleh menentang kehendak Nya. Jalan hidup sudah di gariskan." ucap Fadli.
__ADS_1
" Lalu aku harus bagaimana?" tanya Dito yang merasa frustasi melihat tangisan Sinta.
" Kita percayakan pada teman-teman nya." kata Fadli.
" Aku sudah memberi pelajaran pada Rio. Dan besok aku akan menghentikan segala bentuk kerjasama secara tertulis." kata Dito sambil menyilang kan tangan nya ke dada dan memandang deburan ombak.
" Aku minta tolong pada pacarmu, untuk menjaganya sampai aku kembali." perintah nya.
" Oke, bos." ucap Fadli yang langsung berbalik menuju vila.
Sedangkan Dito masih berdiri menghadap ke pantai.
" Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Malik yang sedang mengunyah udang bakar dan nasi.
" Dito menyuruh ku untuk menghabiskan semua makanan yang ada di meja ini." kata Fadli sambil memperhatikan Malik yang sedang makan.
" Iya memang seharusnya dihabiskan, sayang-sayang mubajir." celoteh Malik.
" Huft dasar, diotaknya cuma ada makanan aja " gerutu Fadli.
-
-
Silahkan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1