
" Maaf Tuan!" sapa Rendi dari arah belakang punggung Rio.
Kepala Rio pun menoleh ke arah belakang, suara yang tidak asing baginya.
" Kamu?" kata Rio yang kaget melihat Rendi.
" Tuan, sedang apa disini?' tanya Rendi.
" Lho, kamu kok juga bisa ada disini?" balik Rio bertanya.
" Ini kebun majikan saya, Tuan!" tutur Rio.
" Oh,"
" Tuan sedang apa disini?" tanya Rendi.
" Saya..." kata Rio seraya berpikir.
" Maaf Tuan, sebaiknya anda pergi dari kebun ini. Saya takut di marahi oleh majikan saya, kalau ada orang asing masuk ke perkebunan nya." ucap Rendi dengan santainya.
" Oh, aku sedang mencari seseorang." kata Rio sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri.
" Mencari siapa Tuan?" tanya Rendi yang mulai kesal karena Rio tidak mudah untuk di usir dari kebun.
" Mencari pemilik kebun ini, aku ingin mencoba buahnya." kata Rio mencari alasan.
" Maaf Tuan, saat ini durian belum musimnya." kata Rendi.
" Oh, baiklah. Nanti aku akan balik lagi kalau sudah musimnya." kata Rio yang langsung masuk ke dalam mobil.
" Huft!" deru nafas Rendi menahan takut. Dan kecemasan pada kaki Sinta yang harus segera di obati.
Perlahan mobil Rio berjalan mundur untuk parkir. Kepalanya masih mencari keberadaan Sinta.
" Sial, kenapa aku harus bertemu dengan bocah ingusan itu." geram Rio sambil memukul stir mobilnya.
__ADS_1
Kemudian mobilnya menjauh dari tempat Rendi berdiri. Disaat situasi sudah aman, Rendi langsung menghampiri Sinta.
Dilihat nya Sinta sudah tertidur dan terkulai lemas. Mungkin karena menahan rasa sakit pada kedua kakinya, dan juga lapar serta kedinginan.
" Teh, " Rendi mencoba membangunkan Sinta. Dia menepuk pipi Sinta agar terbangun. Tetapi Sinta tak juga sadarkan diri.
Buru-buru Rendi langsung menggendongnya , berjalan melewati kebun durian.
Sesampai di rumahnya, Rendi langsung membawa ke ruang tamu.
" Ren, kau bawa siapa?" tanya bapaknya.
" Teh Sinta, teman non Terry." kata Rendi yang langsung menuju dapur.
" Kok bisa sama kamu?" tanya mang Dadang.
" Ceritanya nanti saja Pak!" ucap Rendi yang sedang membuat teh panas untuk Sinta.
" Bapak panggilkan non Terry." kata Mang Dadang.
" Iya, Pak!" kata Rendi.
" Teh, bangun. Ini minum air tehnya dulu." kata Rendi sambil membangunkan Sinta.
Rendi menyuapi Sinta dengan sesendok air teh hangat.
Dengan pelan mata Sinta pun terbuka, tenggorokan nya yang kering sudah tersiram air hangat.
" Ren, " ucap Sinta.
" Iya, Teh!"
" Aku dimana?" tanya Sinta.
" Di rumah saya Teh." jawab Rendi.
__ADS_1
" Kakiku pada nyeri."
" Sebentar saya ambilkan air hangat untuk mengompres nya." kata Rendi.
RUMAH TERRY
" Non, non Terry." panggil Mang Dadang.
" Iya, ada apa Mang?" tanya Terry yang bingung melihat mang Dadang dengan nafas tersengal-sengal.
" Ada teman non Terry di rumah mamang Non," ucap Mang Dadang terburu-buru.
" Teman?" bingung Terry.
" Namanya Sinta, wajahnya pucat dan tapak kakinya memerah." kata Mang Dadang menjelaskan.
" Lho kok bisa sama Rendi?" tanya Terry keheranan.
" Cerita nya panjang Non, sebaiknya non langsung ke rumah mamang!" kaya Mang Dadang.
" Baik, Mang! " kata Terry yang langsung mengambil sweater di dalam kamarnya.
Tidak lupa dia menghubungi ponsel Dito.
" Berdering...." di layar milik Terry.
" Halo, Ter. Ada apa?" tanya Dito.
" Sinta berada di rumah Rendi, sebaiknya kau kesini." kata Terry langsung menutup sambungan teleponnya.
Sementara Dito hampir menuju kantor polisi terdekat. Dia ingin melaporkan Rio yang telah membawa Sinta. Tetapi sudah keburu di telpon oleh Terry.
Dengan cepat Dito langsung melajukan mobilnya ke arah rumah Terry.
-
__ADS_1
-
Cek terus episode selanjutnya ya, jangan lupa like ya!