
Danu baru menyadari ada wanita asing yang berdiri di tengah-tengah Sendi dan Seno. cukup lama Danu menatap wajah cantik Tara.
"dia siapa sen?," tanya Danu pada Sendi akhirnya setelah sekian lama menamati wajah Tara cukup lama.
"dia Tara," ucap Sendi setelah sekilas menatap wajah Tara.
"hai Tara, aku Danu," tangan Danu terangkat seperti menjabat tangan ke arah Tara.
dan Tara pun membalas jabatan tangan Danu dengan menepiskan senyumnya yang tampak manis. lalu mereka berdua melepas jabatan tangan itu.
"aku sungguh menyesal sekali," Danu yang semula tersenyum, berubah berucap dengan raut wajah yang sedih.
"kenapa," Tara mengernyitkan keningnya bingung, karena Danu yang tiba-tiba berucap seperti itu.
"kenapa baru sekarang aku bertemu bidadari cantik sepertimu," Danu mulai mengeluarkan jurus gombalan panci nya.
sedangkan Tara hanya tersenyum sebagai sebuah tanggapan. di sebelahnya, Seno dan Sendi terlihat memutar bola matanya merasa muak dengan gombal tak bermutu Danu yang selalu keluar saat bertemu dengan wanita cantik.
Seno mendengus kecil, "hati-hati," ia berucap dengan melirik ke arah Tara. "ucapan Danu itu bukan terucap untukmu saja, tapi wanita lain pun selalu mendapatkan ucapan yang sama,"
"sialan kau sen," Danu pun seketika berlari mengejar Seno yang tengah berlari.
beberapa saat kemudian Miko, Dika, Pungky, Sinta, dan juga Dona tampak menghampiri mereka berempat.
sama seperti Danu yang pertama kali melihat Tara, mereka berempat juga tampak memperhatikan Tara yang terasa asing di mata mereka. namun berbeda dengan Dona, ia begitu terkejut ketika melihat Tara ada di sana.
Sendi yang tau pun mulai memperkenalkan diri Tara dengan teman-teman nya.
__ADS_1
sedangkan Seno dan Danu berhenti saling mengejar.
"ok, ayo kita main basket," setelah sekian lama Sendi diam, akhirnya ia pun menyuarakan suaranya untuk mengajak teman-teman yang lain untuk memulai permainan basket.
Dika menyuruh para wanita untuk duduk dan menonton pertandingan saja. lalu para lelaki memasuki area lapangan dan sudah ancang-ancang untuk memulai pertandingan.
saat di rasa semuanya sibuk pada permainannya, dan Sinta terlihat begitu asyik menonton, Dona pun menarik lengan Tara dan membawanya ke tempat yang cukup jauh dari jangkauan anak-anak lain. sedangkan Tara yang di tarik pun hanya diam mengikuti.
Dona dan Tara berdiri berhadapan, dan dengan kasar Tara menghempaskan tangan Dona yang masih memegang lengannya. "kenapa?," tanya Tara dengan ketus dan tatapan yang begitu tajam menatap Dona yang berada di hadapannya.
Dona melangkahkan kakinya satu langkah mendekat ke arah Tara hingga mereka berdiri berhadapan dengan begitu dekat.
"aku baru tau ternyata kau selicik itu pada Mei, Tara," Dona menatap kedua mata Tara bergantian dengan tatapan yang tak kalah tajam. "sikapmu tidak mencerminkan bahwa kau adalah malaikat, namun lebih tepatnya kau ini iblis Tara," lanjutnya dengan menekankan pada akhir kata.
sudut bibir Tara terangkat hingga membentuk seringaian. "kalau aku ini iblis, kau mau apa hm?," ucapnya terdengar seperti menantang.
Tara mendengus kecil, "kau tidak tau apa-apa," Tara mengutarakan hal itu dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"aku membencimu Tara," setelah mengatakan itu, Dona berjalan menjauh dari tempat Tara dan kembali ke tempat teman-temannya yang masih asyik bermain basket.
Tara tau saat Dona mengatakan hal itu, tatapannya berkaca-kaca dan begitu terluka.
Tara memejamkan kedua matanya, "kau tak tau apa-apa," gumamnya lirih di Sertai dengan dengusan kecil. butiran air mata pun tiba-tiba mengalir dari pelupuk mata Tara dengan perlahan. lalu ia membuka matanya dan melihat punggung Dona yang mulai menjauh. ia tidak ingin ada yang tau dengan hatinya yang saat ini begitu perih, lalu Tara berjalan gontai menjauhi lapangan. dan akhirnya langkahnya berhenti tepat di bangku panjang yang ada di taman sekolah itu. Tara mendudukkan dirinya di bangku panjang itu dan mulai menangis sesegukan. sungguh, ia tidak bisa menahan tangisannya lagi. entahlah, hatinya perih, sungguh perih.
Tara menghentikan tangisannya. bukan, bukan karena hatinya sudah lega, tapi ada seseorang yang tiba-tiba duduk dengan santainya di samping Tara dan mulai menatapnya dalam hingga dengan cepat Tara menghapus sisa air matanya dengan punggung tangannya, lalu ia tersenyum ke arah pria itu dengan tersenyum canggung.
pria itu masih setia menatap kedua mata Tara yang sembab secara bergantian.
__ADS_1
"kenapa kau tak melanjutkannya?" ucapan itu berhasil lolos di mulut pria yang bernama Sendi itu.
"ke-kenapa kau bisa ada di sini?," Tara yang akhirnya bisa menguasai dirinya itu berusaha untuk bersikap tenang.
"aku bertanya padamu, tapi kau malah balik bertanya padaku," ucap Sendi datar.
lalu seketika itu pula Tara memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"kenapa kau sendiri di sini? kenapa kau tidak bergabung dengan kami di sana?," ucap Sendi masih menatap lekat ke arah wanita yang ada di hadapannya.
"aku canggung berada di sekitar mereka, dan terlebih lagi aku juga sangat canggung berada di dekatmu," ucap Tara tanpa sadar, lalu ia menundukkan kepalanya. ia kaget sendiri dan menepuk mulutnya cukup keras, "kenapa aku bisa bicara seperti itu padanya," gumamnya. "bukan itu maksudku, ma-maksudku aku canggung karena aku belum mengenal kalian semua," ralatnya kemudian.
Sendi beranjak berdiri lalu menundukkan kepalanya melihat ke arah tara yang masih duduk "tidak perlu canggung, mereka semua nanti akan menjadi temanmu juga. ikut aku sekarang dan jangan menyendiri di sini seperti orang yang tidak punya teman," ucapnya. "pedas sekali ucapannya," umpat Tara.
lalu Sendi melangkahkan kakinya, namun tak berapa lama ia menghentikannya dan berbalik ke belakang. sendi masih melihat Tara yang duduk manis di bangku panjang itu.
Sendi mengangkat satu alisnya "apa kau tak mendengarku?," ucapnya. lalu spontan Tara beranjak dari duduknya dan mulai berjalan mengikuti Sendi yang berada di depannya. namun langkah Sendi tidak menuju ke lapangan, namun ia melangkahkan ke tempat lain.
"kita mau kemana Sen?," tanya Tara pada Sendi yang berjalan di depannya. namun Sendi hanya diam tak menjawab pertanyaan Tara hingga Tara begitu kesal padanya dan mengerucutkan bibirnya.
"apa sekarang telinganya juga mulai tuli?," umpatnya dalam hati. "bagaimana bisa aku menyukai pria bermulut pedas seperti dia ini,"
-
-
-
__ADS_1
author : terima kasih untuk setiap dukungan dari kalian. calangeyoo...