
"lihatlah dia sudah siuman," ucap kak Tyas yang heboh karena sendi sudah bangun dari pingsannya.
"benar-benar anak kurang ajar mereka yang berani menghajar adik ku," umpat kak tyas.
"ada apa ini? kenapa aku ada di kamar?," ucap sendi yang masih mengingat-ingat kejadian terakhir kali sebelum dia pingsan. tapi dia tidak mengingat apapun, hanya benturan benda tumpul yang diarahkan ke pundaknya.
"mei dan Seno yang membawamu ke sini. mereka berdua sudah melihatmu tak sadarkan diri di sekolah," ucap kak Tyas masih dengan raut wajah yang masih khawatir.
"ya sudah syukurlah kamu sudah baik-baik saja, aku ke bawah dulu ya untuk menghandle kafe," ucap kak Tyas yang berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga di kamar.
"apa yang terjadi padaku?," ucap sendi bertanya-tanya.
"ada masalah apa kau dengan Miko?," tanya Seno.
"aku tadi seperti melihat seseorang menghajar miko. apa itu kau? apa aku meminta bantuanmu?" ucap sendi yakin kalau seseorang yang menyelamatkan nya adalah Seno.
"yah, aku yang menyelamatkanmu," ucap Seno tenang.
"tapi kau juga yang hampir membunuhku, seharusnya kau bilang kalau kau tidak memberikan contekan. Kau selalu bertindak sok keren." ucap sendi kesal.
"apakah karena hal itu kau berkelahi dengan Miko?" tanya miko ketika dia mendengar sendi berkata seperti itu.
"Apa kau gila! Aku terlalu sibuk untuk melakukan itu. Aku tidak tertarik dengan urusanmu." ucap sendi asal.
"apakah aku harus menyatukan tangan kalian lagi untuk bersalaman agar kalian tidak bertengkar lagi?," ucap mei yang sedari tadi pusing melihat 2 pria yang ada di hadapannya itu bertengkar.
"ishhh, si mesum ini. jangan mulai lagi!," ucap sendi kesal.
"ada hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan kepada kalian," ucap Seno mendadak serius.
"apa?," tanya sendi dan mei bersamaan.
"sebenarnya ada hubungan apa kalian sampai bisa berada dalam satu atap?," tanya Seno yang membuat sendi dan mei jadi bingung harus menjawab apa.
"kita sepupu, mei hanya sebatang kara. hanya aku dan kak Tyas saudaranya, jadi aku mengizinkan mei untuk tinggal disini," ucap sendi.
"he he he iya benar, kami sepupu," ucap mei nyengir bingung ingin menjawab apa lagi.
kruukkk
Seno dan sendi pun menatap perut mei yang berbunyi.
"aku lapar, bisa kita makan?," ucap mei polos.
lalu mei pun memegang perutnya sambil cengar-cengir.
"kau memang selalu lapar," ucap Sendi jeplak.
"ikutlah kami makan di bawah," ajak mei ke Seno.
lalu Seno pun mengiyakan dan mereka bertiga pun makan di lantai bawah bersama kak Tyas.
kebetulan pembeli di kafe hanya tiga orang saja. jadi mei membantu kak Tyas untuk membuatkan nasi goreng empat porsi dan minuman es jeruk.
__ADS_1
setelah selesai mereka berempat pun makan dengan lahap dan segera menyelesaikan makannya.
"baiklah aku pulang dulu. dan terima kasih atas ajakannya," ucap Seno sopan setelah menyelesaikan makannya. lalu Seno berpamitan kepada kak Tyas dan segera pulang.
"ayo, aku akan mengantarmu sampai depan," ucap mei.
"kau temani saja kecebong ini," ucap Seno tersenyum tipis lalu berjalan keluar dari kafe.
"kurang ajar, kau munyuk" umpat sendi kesal.
Seno tak menjawabnya dan terus melangkah pergi.
"apa kak Tyas sudah baikan?," tanya sendi kepada kak Tyas yang sedang menata piring kotor dan di bantu mei.
"iya, aku sudah merasa lebih baik. jadi kau jangan mencemaskan ku lagi," ucap kak tyas dengan tersenyum.
"dan sekarang yang harus dicemaskan adalah dirimu sendiri. lihatlah wajahmu penuh dengan lebam bekas Bogeman. benar-benar Miko sudah merusak wajah tampanmu itu," ucap mei yang menuju dapur untuk mencuci piring kotor.
"apa kau baru sadar kalau aku ini tampan?," ucap sendi yang masih menyembunyikan senyumnya ketika mendengar mei memujinya tampan.
"kau memang tampan seperti Seno," ucap mei lalu tersenyum ke arah sendi.
"apa kau tidak bisa menyembunyikan senyum bodoh mu itu?," ucap sendi.
"dan jangan kau samakan aku dengan munyuk itu, kau mengerti?," lanjut sendi kesal karena mei menyamakan nya dengan seno.
"nanti pasti kau akan merindukan senyumanku ini," ucap mei memperlebar senyumnya.
"pe de sekali kau," ucap sendi mengejek.
"okok," jawab sendi.
sendi pun kembali ke kamarnya dan mengistirahatkan badannya yang sudah gempor akibat ulah Miko.
dalam keadaan berbaring, sendi merenung tentang kejadian tadi siang. entahlah semuanya melayang-layang di otak sendi.
"sialan," umpat sendi.
ia pun memejamkan matanya dan tertidur pulas.
di kafe mei pun membantu kak Tyas melayani pembeli. cukup ramai hari ini hingga membuat kak Tyas dan mei kelelahan. banyak pesanan yang harus mei antar ke rumah pemesan.
"kak, motor sendi aku pakai ya," ucap mei.
"apa kau bisa naik motor?," tanya kak Tyas tidak yakin.
"aku akan mencobanya," ucap mei lalu membawa 2 kresek yang berisi makanan yang akan mei kirim ke rumah pembeli.
"kuncinya?," tanya mei kepada kak Tyas.
"di sendi," ucap kak Tyas.
mei pun ke atas menuju kamar sendi. saat dia masuk, dia melihat sendi yang tertidur pulas.
__ADS_1
"kau benar-benar seperti kecebong saat tidur, lucu," ucap mei yang mengikuti ucapan Seno yang memanggil sendi dengan sebutan kata "kecebong" .
lalu mei pun mencari-cari kunci motor sendi di meja dan laci milik sendi.
"dimana dia menyembunyikan kuncinya?," gumam mei kesal karena belum menemukan kunci motor sendi.
"apa yang kau cari?" ucap sendi mengagetkan mei yang tengah sibuk mencari kunci motor sendi.
"kau benar-benar mengagetkan ku. dimana kunci motormu?," tanya mei tidak ingin basa-basi.
"untuk apa?" tanya sendi tak mengerti.
"aku ingin mengantarkan pesanan, kalau jalan kaki capek," ucap mei memberi kertas yang berisi alamat rumah pembeli.
"kau tidak bisa naik motor, yang ada nanti kau jatuhkan motorku ke selokan," ucap sendi mengejek.
"menyebalkan," umpat mei pun mengerucutkan bibirnya kesal.
"aku yang akan mengantarmu. ayo," ajak sendi.
"kau kan masih sakit. tidurlah, aku yang akan mengambil alih tugasmu," ucap mei tak mau merepotkan sendi.
"jangan membantah, ayo," ucap sendi menarik tangan mei hingga mengikutinya.
"kau benar-benar keras kepala." ucap mei yang masih mengikuti langkah sendi.
lalu mereka pun pergi mengantarkan pesanan.
"pegangan, nanti kau jatuh dan menggelepar di jalan. kan gak lucu," ucap sendi mulai menggoda.
"kau kira aku bodoh?, sepeda bututmu itu kan gak bisa ngebut, jadi aku Gak akan jatuh," ucap mei sinis.
"hei, mau meragukan sepeda kesayanganku ini?," ucap sendi gemas.
"kau ingin membunuhku?," ucap mei setengah berteriak karena ternyata motor bututnya itu melaju kencang dan otomatis tangan mei memeluk punggung sendi dengan erat.
"aku kan sudah bilang padamu, jangan meragukan motor kesayanganku ini," ucap sendi tertawa begitu keras.
"kau benar-benar usil," ucap mei kesal.
"tapi kau akan merindukan kejahilanku nanti," ucap sendi menyeringai.
"manusia benar-benar rumit," ucap mei.
"kau selalu bilang manusia, apa kau bukan manusia hm?," ucap sendi.
"hehehehe," mei hanya tertawa kecil, ia tidak mau menjawab pertanyaan sendi tadi.
jangan lupa jika kalian suka dengan karyaku,kalian bisa memberi like,coment asal kalian,vote,and koin guys biar author bisa tambah semangat lagi untuk update nya yaaaa...........see you
love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love love
love love love love love love love love love love
__ADS_1
love
maulani safitri