
APARTEMEN RIO
" Aku harus bisa meyakinkan Sinta, agar dia tidak takut padaku." ucap Rio setelah menutup sambungan telepon seluler nya.
" Entah kenapa wajah nya selalu terbayang di ingatan ku, padahal dia hanya lah gadis SMA." gerutu Rio sambil membuat kopi di apartemennya.
" Ting nong, ting nong..." terdengar bunyi bel apartemen Rio.
" Siapa yang bertamu se sore ini?" gumam Rio.
Rio langsung menuju pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya dia, ternyata yang bertamu adalah, " Dito...!" Ucap Rio yang langsung membulatkan kedua bola matanya.
" Ada urusan apa kau datang kesini?" Kata Rio yang begitu terkejut.
" Aku hanya memperingatkan mu agar jangan menggoda Sinta lagi." Kata Dito mengancam.
" Dia belum menjadi istrimu kan? Pacar mu aja bukan!" Cibir Rio.
" Tapi hatinya hanya untuk ku." Ucap Dito penuh percaya diri.
" Egois sekali." ejek Rio.
" Iya, karena memang dia adalah pilihan hatiku." Kata Dito.
" Kalau Sinta berubah pikiran gimana?" Kata Rio meyakinkan Dito.
" Kau coba saja! " kata Dito, ' Jika Sinta terluka seperti kemarin saat kau bawa pergi, aku akan bermain dengan sahammu." Ancam Dito.
Lalu Dito pun berbalik menuju lift, dan pergi meninggalkan apartemen Rio.
__ADS_1
" Kau menantang ku, Dito!" Gumam Rio.
Kemudian Rio menutup pintu apartemen nya.
Dito melajukan mobilnya menuju rumahnya. Dia ingin mengambil dokumen penting yang harus dia siapkan untuk pergi ke Inggris.
Saat Dito ingin menuju rumah nya, dia teringat dengan Sinta. Tetapi niat untuk menemui Sinta dia urungkan. Dito tak ingin melihat Sinta meneteskan air mata. Hal itu pasti berat untuk Dito.
Lalu dia menjalankan mobilnya menuju rumahnya yang megah di kawasan elit kota.
" Den, kemarin ada yang datang. " Kata Bi Inah.
" Siapa, Bi?" Tanya Dito.
" Gadis cantik yang aden bawa ke sini." lapor Bi Inah.
" Sinta?" tanya Dito meyakinkan.
" Terus?" Tanya Dito penasaran.
" Dia hanya ingin main, katanya mau bertemu sama bibi." kata Bi Inah.
" Tidak ada hal lain yang di tanyakan?" kata Dito yang semakin penasaran.
" Tidak, Den. Hanya saja wajah nya sedikit murung. Tapi bibi coba menghibur nya." kata Bi Inah.
" Oh, ya udah. Terima kasih ya bi, sudah ngasih tahu." kata Dito.
Hatinya semakin berat meninggalkan kota tempat dia bertemu dengan Sinta.
__ADS_1
Dito menyandarkan kepalanya di sofa ruang tamu. Berharap waktu akan cepat berlalu, dan dia bisa kembali bersama Sinta.
Matanya pun terpejam, sejenak beristirahat dari rutinitas hariannya. Dulu Dito sangat antusias sekali ingin menjadi pengusaha muda yang sukses. Dan impian nya pun tercapai, kini dia harus menuntaskan pendidikan nya. Agar kelak punya masa depan yang lebih cerah untuk dirinya dan keluarga kecilnya nanti.
" Den, den Dito..." Panggil Bi Inah seraya mencolek pundak Dito.
" Iya, Bi." kata Dito yang terbangun dari tidurnya.
" Bapak nelpon." kata Bi Inah yang melihat ponsel Dito berdering dengan panggilan dari ayah Dito.
" Oh iya, Bi!" kata Dito yang langsung mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari ayahnya.
" Iya, Yah!" Jawab Dito
" Kau lagi dimana?" Tanya Ayah Dito.
" Lagi di rumah, Yah! jawab Dito.
" Sudah kau temukan berkas dokumen nya?" tanya Ayah Dito.
" Sudah, Yah!" kata Dito.
" Cepatlah kembali, besok akan ayah serahkan ke departemen pendidikan. Untuk pengajuan pendidikan mu ke Inggris." ucap ayah Dito.
" Iya, Yah. Dito akan berangkat sekarang." Kata Dito.
Lalu Dito merapikan berkas dan pamit kepada Bi Inah.
-
__ADS_1
-
Jangan lupa like dan berikan komentar mu guys!