CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 19


__ADS_3

Sendi mengerjapkan matanya karena buram, lalu ia menatap lekat wajah wanita yang ada di hadapannya itu.


"aku seperti mengenal dirimu?" ucap Sendi yang seperti bergumam tidak terlalu jelas karena pengaruh alkohol, namun wanita itu masih bisa mengartikan. lalu Sendi berdiri dari duduknya dengan tangan kanannya yang memegang erat ujung kursi sebagai penyangga agar tubuhnya tidak limbung. wanita itu tampak mengernyit heran karena pria itu terus memandanginya seperti itu.


"jangan memandangiku seperti itu, dan aku, juga tidak pernah mengenal dirimu," ucap wanita itu ketus. setelah mengatakan itu, wanita itu melangkah pergi dan keluar dari bar tersebut. namun saat ia sudah ada di tempat parkir ketika hendak membuka pintu mobil, ada seseorang yang tiba-tiba memeluk perut rampingnya dari belakang. wanita itu terlonjak kaget dan menoleh si pelaku. dengan raut wajah kesal, wanita itu sedikit menyerongkan tubuhnya dan mulai menyikut wajah Sendi cukup keras hingga tubuh sendi terjungkal ke belakang dengan tangan memegangi pipinya yang terkena sikutan wanita itu. wanita itu menatap tajam Sendi yang terduduk di lantai. lalu ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sendi, "berani sekali kau memelukku seperti itu!, apa kau mau mencari mati? jika kau mabuk, ya mabuk saja. tapi jangan berani kau melecehkan aku di sini," ucapnya marah.


Sendi bangkit dengan susah payah hingga berdiri berhadapan dengan wanita itu. sorot mata pemuda itu sayu, menyiratkan sebongkah kerinduan yang mendalam dan dapat terlihat jelas. "aku merindukanmu," ucapnya lirih dengan mata yang masih menatap lekat ke arah gadis di hadapannya itu.


namun berbeda dengan wanita itu, ia mengernyitkan keningnya merasa bingung bercampur kesal. lalu ia mendengus kecil "kau merindukanku?" wanita itu menunjuk dirinya sendiri, "aku saja tidak mengenalku, lalu bagaimana bisa kau merindukanku?" ucapnya jengkel.


sejenak wanita itu terlihat sedang berfikir dengan pandangan ke arah lain, namun setelahnya ia menatap pemuda di hadapannya itu lagi, "apa kau adalah salah satu pria hidung belang yang pernah mem booking diriku?," ucapnya dengan tatapan penuh tanya.


Sendi hanya diam dengan matanya yang menatap wanita di hadapannya begitu dalam.


pusing yang menjalar di kepalanya membuat Sendi merasa bumi seperti bergoyang, beriringan dengan Sendi yang berdiri dengan sempoyongan. lalu perutnya seperti di aduk-aduk hingga ia merasa mual sampai memuntahkan seluruh isi perutnya. jarak keduanya yang begitu dekat, hingga membuat sedikit baju dan kaki wanita itu terkena mutahan Sendi.


wanita itu hanya menatap nanar sebagian baju dan kakinya yang terkena mutahan, lalu ia beralih menatap pemuda yang tak di kenalnya itu dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"kau benar-benar menyebalkan sekali, aku tidak mengenalmu, tapi aku membenci dirimu," setelah mengatakan itu, wanita itu masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintunya keras hingga Sendi terlonjak kaget. setelah itu Sendi melihat mobil yang wnaita itu tumpangi melesat pergi hingga tak terlihat dari jangkauan Sendi.


*****


Sendi berjalan sempoyongan di pinggir jalan yang tampak sepi karena sudah tengah malam. sebenarnya ia sudah tak sanggup untuk berjalan menuju ke rumahnya karena rasa pusing yang menjalar di kepalanya, tapi ia berusaha untuk tetap berjalan, hingga akhirnya tubuhnya seketika ambruk di kursi panjang yang ada di sekitar toko yang sudah tutup, sebelah tangannya memegang kepalanya yang sangat pusing. bibirnya yang pucat bergerak-gerak seperti berkata sesuatu yang tidak jelas. saat Sendi mendongakkan kepalanya dengan sebelah tangan yang masih memegang kepalanya, ia melihat seorang wanita tampak berlari memanggil-manggil nama nya dan mulai menghampirinya. Sendi memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. ia tau raut wajah wanita itu seperti terlihat khawatir. dan saat wanita itu sudah ada di dekatnya, Sendi langsung berdiri dan memeluk tubuh wanita itu erat. sedangkan wanita yang Sendi peluk itu tampak terkaget-kaget dengan pelukan dadakan itu. Sendi semakin mengeratkan pelukannya ketika wanita itu meronta minta di lepaskan. Sendi membenamkan wajahnya di caruk leher wanita itu, terasa sekali saat nafas Sendi yang terbuang kasar mengenai lehernya hingga wanita itu merasa merinding.


"lepaskan aku Sendi, apa yang kau lakukan?," ucap wanita itu masih meronta-ronta minta di lepaskan. tapi pergerakan wanita itu seketika terhenti saat kata-kata Sendi keluar.


"ku mohon tetaplah seperti ini sebentar saja, aku sungguh merindukanmu. tolong jangan pergi lagi," ucapnya lirih seperti bergumam.


"Sendi," panggilnya lirih, "tolong jangan seperti ini, a-aku sudah punya Miko," sambung wanita itu yang ternyata adalah Sinta.


"cukup, jangan pergi lagi. ku mohon," Sendi masih meracau tak terlalu jelas, namun Sinta masih bisa mengertikan perkataan Sendi.


'kenapa dia berucap seperti itu? kenapa dia mengatakan hal itu ketika aku sudah bisa membuka hatiku untuk yang lain dan berusaha untuk melupakan dirinya. kenapa dia seperti sedang mempermainkan diriku? kenapa dulu dia menyuruhku untuk pergi kalau akhirnya di menginginkan aku untuk kembali?' gumam Sinta dalam hati. Sinta memejamkan matanya berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri. namun percuma, karena ia merasa nyaman ketika Sendi memeluknya seperti ini. dan lagi, Sinta begitu candu ketika ia menghirup aroma parfum Sendi yang berbau mint.


tapi tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menarik baju Sendi dan mulai menarik paksa kerah bajunya, lalu ia menghujani wajah sendi dengan satu pukul kepalan tangan hingga membuat tubuh Sendi jatuh terjungkal ke belakang.

__ADS_1


Sinta membuka matanya ketika pelukan Sendi seketika melepas. ia membelalakkan matanya kaget karena Miko yang memukul Sendi, membuatnya langsung meraih lengan Miko ketika ia akan kembali memukul Sendi yang sudah terkapar di jalan.


"sudah Miko, hentikan," ucapnya dengan intonasi tinggi. membuat seketika Miko menoleh ke arahnya dengan tatapan yang menajam.


"kenapa? dia sahabatku sendiri Sin," ucapnya lirih. Miko tak menangis, namun matanya yang mulai memerah membuktikan kalau dirinya sedang kacau. "apa kau berniat akan meninggalkanku?" sambungnya dengan suara yang bergetar.


Sinta merapatkan bibirnya bingung. ia tak mempunyai niat sedikitpun untuk meninggalkan Miko karena sebagian hatinya sudah terisi olehnya, tapi sebagian hatinya yang lain masih ada Sendi. yang membuatnya semakin merasa bimbang.


Miko menoleh ke arah Sendi yang masih terduduk lemas dengan wajah yang menunduk, seakan ia ingin memukul wajah Sendi lagi. namun ia mengurungkan niatnya ketika Sinta kembali menahan Miko.


dan perhatian keduanya teralihkan ke jalan ketika terdapat mobil yang berhenti tepat di depan mereka bertiga. ketika pintu mobil terbuka, sosok pria paruh baya keluar dari balik mobil dan mulai menghampiri Sinta.


-


-


-

__ADS_1


Sisihkan sedikit poin untuk karyaku ini readers. thanks sudah mau mensuport nona.


__ADS_2