CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 22


__ADS_3

'ketika kerinduan datang, itu selalu membuatku lemah. lemah pikir bahkan lemah jiwa raga. aku selalu menyibukkan diri, dan membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. memang berat sekali untuk melakukannya, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik. itu adalah salah satu cara agar dapat terlepas dari kerinduan yang datang.'


(maulani frastya)


"ayah berangkat dulu saja, aku dan Seno nanti jalan kaki," ucap Sendi yang kemudian mendapat anggukan dari pak Johan. setelah itu pak Johan berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah, lalu ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke sekolah.


Sendi kembali menatap dingin ke arah Seno yang masih sibuk mengunyah makanannya. tanpa rasa berdosa sedikit pun, Seno masih memperlihatkan senyum lebarnya ke arah Sendi, yang membuat seketika Sendi semakin naik darah. "ku sumpal mulut comberan mu nanti dengan kaos kakiku, bicara sembarangan," ucapnya dengan menendang kaki tulang kering Seno hingga ia mengaduh.


"sialan kau sen, aku kan tidak sengaja," ucap Seno dengan wajah memelas. bu Susi yang memandangi perilaku kedua putranya pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"cepat habiskan sarapan kalian, setelah itu berangkat ke sekolah agar tidak terlambat lagi," ucap Bu Susi yang kemudian membuat mereka seketika mengangguk mengiyakan.


saat mereka selesai sarapan, Sendi dan Seno berjalan ke arah pintu dan mulai menyalami tangan Bu Susi bergantian. saat mereka berdua hendak melangkahkan kakinya, mereka di kejutkan oleh kedatangan Tara dan Danu yang tengah melambaikan tangannya bersamaan.


"gabung ya," ucap Danu dengan senyum lebar khasnya. setelah Sendi dan Seno mengiyakan, akhirnya mereka pun berjalan beriringan dengan Danu dan Tara yang berjalan beriringan di depan, sedangkan Seno dan sendi beriringan di belakang mereka. perjalanan mereka pun di isi dengan candaan yang terkadang garing, meskipun begitu tawa mereka bersahutan hingga terasa bising di pinggir jalan.


"bagaimana hubunganmu dengan via? lancar? kenapa tidak ada kabar sama sekali?," Danu yang awalnya berjalan dengan mata yang fokus ke layar ponsel pun langsung menyimpan ponselnya di saku celana dan sedikit memutar kepalanya ke belakang menghadap Sendi yang tengah bertanya. Seno dan Tara pun seketika ikut menoleh ke arah Sendi dan Danu yang tengaj terlibat percakapan.


sekedar info, via adalah adik kelas mereka yang statusnya adalah pacar sah nya Danu 2 hari yang lalu.


Danu hanya mengendikkan bahunya dan kembali menoleh ke arah jalan yang ada di depannya. "jangan bahas dia lagi," ucapnya dengan ketus. Sendi dan Seno pun meyakini pasti hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.


"kenapa? kalian putus?," tanya Seno yang sedari tadi diam.


"iya, tadi pagi dia minta putus," ucapnya berusaha untuk se santai mungkin, masih dengan menatap ke depan.


"kenapa dia bisa minta putus? apa kalian sedang ada masalah?," ucap Tara dengan mengernyitkan keningnya. Tara cukup tau banyak tentang Danu, karena Danu pernah bercerita padanya.

__ADS_1


"pantas lah dia minta putus, kau kan memang buaya. gebetan dan juga mantan kau saja berentetan seperti orang yang sedang antri sembako," canda Sendi yang membuat Danu seketika memutar badannya menghadap ke Sendi dan langsung memukul lengan Sendi main-main.


"sialan kau, sudahlah jangan di bahas. kata dokter hatiku sekarang masih rapuh, tersisa serpihan rindu, dan dilarang jatuh cinta dulu," ucap Danu mulai berpuitis, membuat kedua teman laki-lakinya mencibir.


"iya, hari ini memang kau tidak akan jatuh cinta, namun kalau kau bertemu dengan adik kelas yang cantik nanti, pasti kau akan menjadikan dia selinganmu kan," tebak Sendi yang malah membuat Danu terkekeh. apa yang dia ucapkan memang selalu benar adanya.


"aku hanya sedang mencari yang pas," ucap Danu dengan tersenyum lebar.


"mencintai satu wanita itu lebih baik, agar kita tau sekuat apa kita bertahan dengan kekurangannya," ucap Sendi menanggapi.


"karena masalahnya, bukan mencari orang yang lebih baru, tetapi memperjuangkan yang nyaman," imbuhnya yang seketika membuat Danu tertegun, lalu mengangguk juga.


Seno yang berada di samping Sendi pun sekilas melirik Sendi dengan ekspresi yang tak bisa di baca. lalu ia kembali menatap ke depan dengan meletakkan kedua tangannya di saku celana.


Danu menyerongkan tubuhnya lalu ia berjalan beriringan dengan Sendi dan menoleh ke arahnya. "kau saja masih sendiri tapi kau malah menasehati ku," ucapnya dengan mengalungkan tangannya ke pundak Sendi, "aku heran padamu dan juga Seno, banyak wanita yang mengharapkan kalian karena kalian berdua ini memiliki tampang oke, wajah mulus, dan pastinya idola anak sekolah. tapi kenapa tidak ada satu wanita pun yang bisa mendapatkan hati kalian?," tanyanya menatap wajah Sendi dan Seno bergantian dengan mengernyit heran. sedangkan Tara, ia sudah mensjajarkan langkahnya di sebelah Seno dengan mata yang sesekali melirik ke arah mereka bertiga.


Danu mendengus kesal, "bisa ku pastikan dengan diamnya kalian itu berarti memang benar adanya bahwa kalian kalah denganku," ucapnya dengan tersenyum lebar. Sendi dan Seno yang mendengarnya pun hanya memutar bola matanya tak peduli.


hening


"ayo tebak, pulang sekolah nanti aku mau ketemu siapa?" ucap Danu setelah sedari tadi hening, masih dengan jalan beriringan. ucapannya lebih tertuju pada Sendi di sampingnya.


"tuhan" ucap Sendi asal, membuat seketika Danu memukul lengan Sendi main-main.


"sembarangan," umpatnya dengan memelototkan matanya ke arah Sendi hingga membuat Tara dan Seno tertawa.


"lalu kau mau bertemu siapa?," tanya Sendi dengan di sela-sela tawanya.

__ADS_1


"Karina," ucap Danu dengan nada ketus, ia masih pura-pura tersinggung dengan ucapan Sendi tadi.


Sendi dan lainnya yang melihat itu hanya tersenyum geli karena tingkah Danu.


"siapa lagi itu Karina?," tanya Seno dengan melirik ke arah Danu yang tengah menatap jalan.


"kita masih pendekatan," ucapnya santai dengan sesekali bersiul-siul.


"baru putus sudah dapat gantinya ya," Sendi ikut menanggapi.


"hidup itu penuh ketidakpastian, tapi perpindahan adalah hal yang pasti," ucap Danu dengan mengerlingkan matanya ke arah Tara yang juga tengah menatapnya.


Tara hanya mengernyit bingung, "apa? kau ingin menjadikanku yang ke berapa?," tanyanya dengan nada marah yang di buat-buat ke arah Danu. Danu yang mendengarnya hanya terkekeh.


Seno yang mendengarnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya "lalu si via mau kau kemanakan hm?,".


Danu hanya melengos, "dia yang memutus hubungan, jadi apa harus aku juga yang mengejarnya?," tanyanya pada Seno.


-


-


-


jangan lupa mampir di novelku yang berjudul


"BERBEDA", yang suka novel genre horor plus romantis? jangan lupa like, vote, and comentnya.

__ADS_1


kalo kalian bingung mau coment apa, tulis next aja nona udah seneng kok😘😘....


__ADS_2