CINTA SMA

CINTA SMA
bab 49


__ADS_3

"apa kau seorang...... malaikat.......,"


"mei.....," teriak sendi lalu berlari ke arah mereka dan menghempaskan tubuh Seno kasar sampai Seno jatuh ke belakang hingga kepalanya terbentur mengenai pot bunga. dan mereka berdua melihat tangan mei yang bersinar terang, sangat terang sampai Seno dan sendi terpental hingga menutup matanya menghindari sinar yang begitu silau.


"maafkan aku," ucap Tara lirih.


********


di rumah sakit sendi dan Seno sedang berbaring di ranjang pasien. sendi bangun terlebih dahulu lalu ia melihat Bu susi dan pak Johan yang nampak khawatir dengan kondisi sendi dan Seno.


"ini ayah nak," ucap pak Johan lirih menahan tangis.


"mei..... mana mei, Seno? dimana dia?," ucap sendi lemah.


pak Johan dan Bu susi tak menjawab pertanyaan sendi, mereka hanya diam.


lalu sendi melihat ke samping dan nampak tubuh Seno yang tengah terbaring dengan kepala yang di perban.


sendi pun beranjak menghampiri Seno yang terkapar di bantu oleh pak Johan.


"Seno......, pak Johan, mana mei?," tanya sendi


lirih.


pak Johan hanya menggelengkan kepalanya bingung. tapi sendi masih bersikeras mencari tau dimana keberadaan mei.


"siapa mei yang kau maksud nak?," tanya pak Johan bingung.


tubuh sendi ambruk, tapi dengan cepat pak Johan menangkap tubuh sendi dan mulai memeluknya. sendi terisak dan memejamkan matanya menahan sedih.


"dia benar-benar meninggalkan ku," ucap sendi lirih.


*****


setelah dua hari Seno berada di rumah sakit, dokter pun akhirnya memperbolehkan Seno untuk pulang ke rumah. saat mereka sudah berada di kafe, Bu susi menyuruh mereka bertiga untuk membersihkan dirinya, sendi dan Seno pun masuk ke kamar. sedangkan pak Johan masih menemani istrinya yang tengah duduk di kursi.


di kamar Seno membaringkan tubuhnya di ranjang dan menatap langit-langit kamar. ia melirik ke arah sendi yang tengah berdiri menatapnya.


"kenapa kau terus memandangi ku?," tanya Seno heran.


"kenapa kau melakukan ini padaku?," tanya sendi lirih.


Seno pun duduk dan menatap sendi bingung.


"maksudmu?," tanya seno.


"apa Hanya aku saja yang mengingat mei?" gumam sendi.


"sen, dimana mei?," tanya Seno tiba-tiba.


"kau mengingat dia?," tanya sendi.


"apa maksudmu?, mei itu pacarmu bukan?,"


"kau yang membuatnya menghilang," ucap sendi lirih.

__ADS_1


"aku? kenapa aku? aku tidak tau apapun, dan kau menuduhku menghilangkan mei?, ada apa denganmu itu? kau kira mei itu barang yang sengaja ku hilangkan?," omel Seno.


"kau tak mengingatnya (mengingat kejadian Seno yang menghilangkan mei)?,"


"bicaramu melantur," ucap Seno lalu ia membaca buku yang berada di meja samping ranjang.


sendi pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. sedangkan Seno tetap fokus membaca buku yang tengah ia pegang itu.


"dimana mei?," gumam Seno pelan.


ia tidak ingin ambil pusing dan tetap membaca bukunya tentang malaikat.


saat ia membaca di bab 12 pada buku itu tentang simbol malaikat yang berada di pergelangan tangannya, Seno mulai mengingat-ingat tentang yang terjadi padanya.


Seno tertegun dan mulai mengingat tentang waktu itu saat ia memastikan sesuatu yang ada di pergelangan tangan mei, simbol yang ada di dalam buku itu persis dengan simbol yang Seno lihat di pergelangan tangan mei.


"mei...," pekiknya hingga ia berdiri. saat itulah sendi keluar dari kamar mandi dan melihat Seno yang aneh.


"ada apa dengan dirimu?," tanya sendi heran.


"sen,..... mei? apa dia itu malaikat?," tanya seno panik.


"kau menyadarinya? dan sekarang kau tau kalau mei itu hilang?,".


"astaga.... sendi...... a-aku tak bermaksud ingin menghilangkan mei, aku...." ucap Seno tertahan.


"itu karena rasa penasaran mu hingga kau menghilangkan mei dari kehidupanku, kehidupan kita," ucap sendi terisak.


"aku sungguh kesal padamu sen, aku kesal padamu. tapi jujur aku tidak bisa menyalahkanmu, aku tidak bisa marah padamu," lanjut sendi tercekat.


keesokan harinya sendi dan Seno pergi ke sekolah bersama-sama. di kelas Seno dan sendi duduk di bangku mereka masing-masing. Sasa yang duduk di depan Seno pun diam-diam memotret Seno dengan kameranya.


"unchh.... lucunya," gumam Sasa girang setelah ia melihat foto Seno yang tengah duduk melipatkan kedua tangannya di dada dan memejamkan matanya.


sedangkan sendi, ia keluar kelas. dan mulai mencari Dona di kelas 10. saat ia melewati koridor sekolah, sendi berpapasan dengan Dona.


"Dona, ada yang ingin ku bicarakan denganmu," ucap sendi. lalu Dona pun mengajak sendi duduk di bangku yang ada di sana.


"aku tau.... mei menghilang," ucap Dona lirih.


"kau?...., Dona apa kau tidak ada cara untuk mengembalikan mei lagi?," tanya sendi.


"aku tidak tau sen, aku benar-benar tidak tahu," ucap Dona menunduk.


"dia tidak akan kembali?," tanya sendi menatap Dona sendu.


Dona hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti apa yang harus ia lakukan.


"aku tau ini sulit bagimu, karena hanya dirimu dan Seno lah yang bisa mengingat mei," ucap Dona sendu.


"apa yang harus aku lakukan?," batin sendi, ia benar-benar kalut.


saat sendi akan kembali menuju kelas,ia bertemu dengan Sinta.


"Hay sen," ucap Sinta tersenyum.

__ADS_1


tapi sendi tak menanggapinya.


"terima kasih untuk semua. maaf aku selalu mengganggumu karena terus mengejar dirimu. tapi sekarang aku sadar, Miko orang yang sekarang aku sayang. dan mudah-mudahan kau juga akan menemukan orang yang kau sayang," ucap Sinta tersenyum lalu ia memberikan permen coklat kepada sendi.


"nanti hidupmu juga akan manis seperti permen ini," ucap Sinta lalu ia pergi dari hadapan sendi.


sendi menatap punggung Sinta yang mulai menghilang. lalu ia pun pergi ke kelas.


Miko tengah berjalan menuju toilet. saat ia masuk, ia tak sengaja menyenggol bahu murid lain dari kelas sebelah.


"hei jagoan, kau mau mencari masalah denganku?," tanya pria itu yang disampingnya ada dua temannya yang juga tengah menatap Miko tajam.


"kenapa kau hanya diam? hahahaha maaf aku baru menyadari kalau teman-teman mu sudah berpaling darimu kan?," ledek teman pria itu.


"karena itulah kau jangan sombong dan sok berkuasa di sini," ucap pria itu menepuk-nepuk pipi Miko pelan. sedangkan Miko hanya terdiam menerima hinaan mereka.


"apa kau akan mengganggu temanku?," tanya Dika yang tiba-tiba berjalan mendekati miko. dan juga tampak Pungky yang juga berdiri di sisi miko.


"pergilah kalian sebelum ada perkelahian di sini," ucap Pungky.


"kita juga tidak ingin bertengkar dengan kalian, ayo pergi," ucap pria itu mengajak teman-temannya pergi. setelah mereka pergi, Dika dan pungky pun menatap Miko tajam.


"dan kau berhutang Budi pada kami karena kami telah menolongmu, jadi kau harus menuruti kami jika kau ingin lepas," ucap dika kemudian pada Miko.


"apa?," tanya Miko tak mengerti.


"kau harus berteman dengan kami, baru kami akan melepasmu," ucap Pungky menyeringai lalu memeluk miko.


"kau memang kecebong, tapi kami akan terus mengajarkan mu cara mencari teman," ucap Dika tersenyum.


"maafkan aku karenaku ayahmu.....,"


"sudahlah, ayahku sudah membaik, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Pungky tersenyum.


lalu mereka bertiga kembali ke kelas dengan canda tawa. Sinta yang melihat mereka bertiga akur lagi pun ikut tersenyum.


Dika dan Pungky pun mendekati sendi dan seno.


"dia adalah anggota baru kita dan dia yang akan menjadi salah satu dari kita mulai sekarang," ucap Dika tersenyum.


"apa hanya dia?, lalu aku? apa kalian tidak menganggapku ada?," omel Danu kesal.


"kau juga adalah sahabat kami," ucap Seno tersenyum.


"mei lihatlah ini, karenamu juga kami yang semula musuh bisa menjadi teman bahkan sahabat. kau juga akan ada di sini bersama kami walau yang lain sudah tak mengingatmu, tapi kau akan tetap ada di hati kami. ku harap kita akan di pertemukan lagi,"


batin sendi.


.......................E N D........................


jangan lupa mampir ke novelku lainnya yang berjudul "sentuhan" , dan juga "priaku" readers


love


maulani safitri

__ADS_1


__ADS_2