CINTA SMA

CINTA SMA
extra part 21


__ADS_3

Sendi menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Seno yang melihatnya pun langsung menoleh ke arah Sendi dan menatap lekat wajah saudaranya itu.


"ada apa?" tanyanya seolah tau bahwa saudaranya seperti sedang memikirkan sesuatu. seketika Sendi menoleh ke arah Seno dan mulutnya terbuka secelah, namun ia urungkan.


Seno yang melihat itu pun langsung mengangkat alis. "katakan apa yang terjadi?," tanyanya pelan namun dengan sedikit memaksa.


"entahlah ini mimpi atau kenyataan, namun semalam aku seperti bertemu mei di bar," ucapnya kemudian kembali menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang menerawang.


Seno mendengus kecil, "mungkin kau hanya mimpi Sen, aku pernah membaca di buku novel tentang malaikat. di dalam buku itu tertulis, jika manusia lain sampai melihat tanda atau simbol yang terletak di pergelangan tangan malaikat yang menjadi manusia itu, ia akan menghilang dari bumi dan kemungkinan akan kembali menjadi malaikat lagi. lalu manusia yang mengenalnya akan lupa padanya dan seperti menganggap ia tak pernah ada sebelumnya di bumi. dan Mei... mungkin sekarang ini dia telah menjadi malaikat lagi," ucapnya lirih. ketika ia kembali mengingat Mei, ia selalu merasa sangat bersalah karena bagaimanapun Seno adalah pelaku dari menghilangnya Mei dari bumi meski itu tak di sengaja.


Sendi membuang nafas kasar, "tapi anehnya, kenapa hanya kita berdua yang mengingat Mei? kenapa hanya kita?" ucapnya dengan suara memberat. "jika aku harus memilih, lebih baik aku juga seperti lainnya, yang lupa akan hadirnya Mei agar aku juga tidak merasa tersiksa di sini. seharusnya dulu aku membekukan hati untuk tidak mencintai dia, agar saat aku benar-benar melepaskan, aku tidak terlalu tersiksa seperti ini," sambungnya dengan suara yang parau. Sendi tampak memejamkan mata berusaha untuk mulai menerima, ia tak ingin merasa seolah ingin lari lagi dari hidup untuk berhenti.


'jika aku tau perpisahan akan menorehkan luka sedalam ini, mungkin kebersamaan kita tak kan ku buat indah. dan pasti hatiku akan ku buat beku untuk tidak mencintaimu.'


hening...


"apa kau tak ingin mencintai wanita lain?," mata Sendi yang semula terpejam langsung ia buka kembali ketika ia mendengar ucapan Seno barusan. lalu ia melirik ke arah Seno yang juga tengah memandanginya.


"kalau aku bisa, aku tidak ingin lagi mencintai siapapun. aku ingin hidup untuk diriku sendiri, ibu, ayah dan dirimu saja, aku tidak ingin siapapun lagi." Seno tau Sendi tidak menangis, tapi matanya yang memerah dan raut wajahnya yang terlihat kacau membuat dirinya yakin bahwa kakak tiri yang berada di hadapannya itu sedang tidak baik-baik saja.


"hidupmu masih panjang Sen, jangan buang waktumu untuk mencintai satu wanita yang tak pasti. banyak wanita cantik di sana yang menaruh rasa padamu, mungkin kau akan memilih dari salah satunya," ucap Seno mencoba meyakinkan.

__ADS_1


Sendi tertawa kecil, Seno yang melihatnya pun mengangkat sebelah alisnya heran melihat Sendi yang tiba-tiba tertawa. padahal menurutnya perkataan yang ia lontarkan tadi tidak ada yang lucu.


"kau berbicara seperti kau sudah memiliki tambatan hati saja. lihatlah dirimu, kau saja masih sendiri, tapi kau sudah memberi wejangan padaku untuk cepat memiliki kekasih," ucap Sendi masih dengan tertawa kecil. Seno yang melihat itu pun langsung melengos kesal, "sialan, apa kau tak tau kalau pelatih itu tugasnya mengajari, tapi tidak bermain?,"


Sendi yang mendengarnya pun langsung menghentikan tawanya yang terdengar jarang.


"kadang yang terindah tak tercipta untuk di miliki. cukup di pandangi dari jauh, lalu syukuri bahwa ia ada di sana untuk di kagumi dalam diam," setelah mengatakan itu, Seno menepuk-nepuk pelan lengan Sendi, mencoba untuk memberi kekuatan.


Sendi mengangkat kedua sudut bibirnya hingga menampakkan senyum getir.


lalu Sendi beranjak dari kasur menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. terlihat ia berjalan dengan sempoyongan karena pusing yang masih terasa di kepalanya. dalam hati Sendi merutuki dirinya karena sudah meminum minuman keras itu. dia berjanji tidak akan meminum minuman keras itu lagi. setelah Sendi dan Seno sudah mandi dan telah memakai baju seragamnya, mereka berdua pun turun dari tangga dan mulai duduk di kursi meja makan menghadap ke arah Bu Susi dan pak Johan yang telah duduk di hadapan mereka.


lalu Bu Susi berdiri dari duduknya dan mulai mengambil nasi serta lauk pauknya ke piring suaminya, kedua anaknya dan juga piringnya sendiri. setelah selesai, ia pun kembali duduk di kursinya dan menatap ke arah kedua anaknya secara bergantian.


"kami kan anak teladan, jadi kami tidak ingin terlambat sekolah dan harus repot-repot naik pagar lalu menyusup ke kelas," ucap Seno tanpa sadar sambil mengunyah makanannya, yang membuat Sendi langsung memukul kening Seno dengan sendok.


"lambe lumrah," ucap Sendi berbisik dengan tatapan membunuh. refleks Seno memegang keningnya yang kebas, lalu memasang tatapan mode kesenggol bacok ke arah Sendi. memangnya ada yang salah dengan perkataannya tadi? memang apa yang ia katakan barusan memanglah benar adanya. karena Sendi dan Seno yang suka begadang, membuat mereka terkadang bangun kesiangan dan terlambat masuk ke sekolah. karena mereka berdua tidak ingin di hukum oleh guru, ataupun ayahnya sendiri, mereka pun nekat naik ke atas pagar yang ada di belakang sekolah lalu menyusup ke kelas dan menyuruh teman-teman lainnya untuk menutup rapat mulutnya masing-masing. pak Johan pun tak pernah tau tentang putra-putranya yang terkadang tidur di kelas ketika pelajaran berlangsung karena guru-guru yang lainnya tidak ingin berurusan dengan pak Johan yang memang terkenal killer dan tegas melebihi Bu Ninda.


pak Johan yang mendengar penuturan dari Seno tadi pun langsung menjitak kepala mereka secara bergantian membuat mereka mengaduh.


"kalian sering melakukan itu?," tanyanya dengan geram. Sendi dan Seno yang melihat wajah kalem pak Johan yang berubah menjadi sangar itu pun langsung kicep diam seribu bahasa.

__ADS_1


"ayo katakan," sambungnya.


"sering yah," setelah saling diam, akhirnya Sendi pun mulai bersuara.


"apa penyebabnya?," tanyanya yang suaranya terdengar mulai melunak.


"kami berdua Suka begadang, karena itu kadang kami terlambat masuk sekolah," ucap Seno dengan hati-hati.


"mulai sekarang, jangan keluyuran malam lagi, dan jangan tidur malam-malam lagi," titahnya yang membuat Sendi dan Seno seketika mengangguk mengiyakan.


setelah mengatakan itu, pak Johan yang telah menyelesaikan sarapannya pun langsung pamit kepada Bu Susi dan kedua anaknya untuk berangkat ke sekolah.


namun pak Johan kembali menatap kedua putranya yang tengah sarapan, "apa kalian ingin berangkat bersama?," tawarnya pada kedua putranya.


-


-


-


tetaplah ketawa-ketiwi meskipun vote down sekali😭😭.

__ADS_1


jangan lupa tinggalin jejak like, vote, and comentnya....


__ADS_2