
*balas dendam yang paling hebat itu adalah ketika dirimu menunjukkan kebahagiaan di depan mereka yang pernah menyakitimu.*
bel pulang pun berbunyi, lalu seperti biasa mei mengajak sendi dan Seno untuk pulang.
"kau tidak mau mengajakku pulang juga?," ucap Danu seketika ketika melihat mei hanya mengajak sendi dan Danu.
"kau ikutlah juga," ucap mei dengan tersenyum.
"aishh, tapi hari ini aku sedang sibuk, jadi aku tidak bisa ikut dengan kalian," ucap Danu sok.
"aishhh, apalah kau ini. menyebalkan," ucap mei kesal karena Danu menyebalkan.
Danu, Seno, dan sendi pun tertawa ketika melihat mei mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"baiklah kalian bertiga bersenang-senanglah," ucap Danu lalu melangkah pergi.
lalu mei, Seno, dan sendi pun berjalan kaki untuk menuju ke rumah masing-masing.
mereka bertiga berjalan beriringan.
di tempat tidak jauh dari keberadaan mei, Seno, dan sendi, Bu susi juga sedang jalan beriringan dengan pak Johan untuk menuju tempat parkir.
saat pak Johan sedang menyalakan mesin motornya, ada seorang preman yang tiba-tiba secara paksa mengambil tas milik Bu susi dan Bu susi terjatuh.
lalu pak Johan membantu Bu susi untuk berdiri.
"tasku di bawa lari pa," ucap Bu susi histeris sampai menyadarkan orang-orang di sekitarnya kalau ada pencuri yang mengambil tasnya.
"tunggu disini,aku akan mengambil tas mu," ucap pak Johan menenangkan lalu pak Johan berlari mengejar preman itu.
tak hanya pak Johan, mei yang menyadari ada pencuri pun ikut berlari mengejar preman itu.
__ADS_1
"hei, itu bahaya mei," teriak sendi memanggil mei yang telah berlari jauh.
lalu sendi pun berlari mengejar mei. saat Seno juga ingin mengejar preman itu, dia di kejutkan dengan suara tangis dan teriakan seseorang yang ada di belakangnya. lalu Seno pun menoleh ke belakang dan mendapati ibunya di sana sedang menangis sesenggukan. seno pun menghampiri ibunya.
"duduklah di sini, aku akan menemani ibu," ucap Seno.
di tempat lain pencuri itu kebingungan karena dia mendapati jalan buntu. saat dia akan kembali ke jalan asal, dia menemukan mei yang seperti sedang menghadangnya. lalu sendi pun berada di sana dan menyuruh mei untuk mundur.
pencuri itu pun terpaksa berkelahi dengan sendi. sebelumnya pencuri itu menaruh tas yang dia curi tadi di atas kursi yang ada di sana. terjadilah perkelahian sengit. sendi pun melayangkan beberapa Bogeman ke wajah pencuri itu. ketika pencuri itu akan memukul sendi balik, dengan cepat sendi menangkis beberapa pukulan itu.saat pencuri itu akan menendang sendi, dengan tangkas sendi menangkisnya dengan tangannya. tapi tak sendi sadari tiba-tiba pencuri itu memukul bibir kanan sendi sampai sendi kehilangan keseimbangan yang akhirnya terjatuh ke lantai. saat pencuri itu akan memukul sendi untuk yang kedua kalinya, mei menahan tangan pencuri itu, tapi pencuri itu mendorong tubuh mei sampai terjatuh menindih tubuh sendi. pak Johan yang melihat kejadian itu pun langsung memukul pencuri itu sampai terjatuh. setelah pencuri itu lengah, pak Johan mengunci kedua tangan pencuri itu dengan tangkas dan menahan pencuri itu agar tidak lepas. beberapa menit kemudian polisi datang dan membawa pencuri itu.
"terima kasih pak," ucap pak Johan kepada polisi yang ada di hadapannya.
"lain kali bapak harus lebih berhati-hati lagi," ucap polisi itu.
"baik pak," ucap pak Johan lalu menjabat tangan polisi itu.
setelah polisi itu pergi, pak Johan pun menatap sendi dan mei.
mereka berdua membalasnya dengan senyuman.
"istriku pasti akan sangat-sangat berterima kasih kepada kalian," lanjut pak Johan kemudian.
lalu mereka bertiga pun kembali ke tempat Bu susi dan Seno berada.
"kalian teman Seno ya?," tanya pak Johan.
"iya pak," ucap mei tersenyum.
"oh bapak itu adalah ayah Seno?," ucap mei.
"iya, aku adalah ayah sambungan seno," ucap pak Johan.
__ADS_1
"ayah sambungan?, apa itu ayah sambungan?," ucap mei tak paham.
"aishh kau ini, itu adalah ayah tiri," ucap sendi lirih.
mei pun mengangguk kan kepalanya tanda mengerti.
"ini tas milikmu sayang," ucap pak Johan kepada Bu susi dengan tersenyum.
"terima kasih pa," ucap Bu susi sambil mengecek-ngecek tasnya.
"ada yang hilang?," tanya pak Johan.
"tidak ada, terima kasih pa," ucap Bu susi senang.
"mereka berdua yang membantuku untuk menangkap pencuri itu," ucap pak Johan lalu menoleh ke arah sendi dan mei.
"terima kasih anak-anak. sebagai tanda terima kasih ku, bagaimana kalau kita makan dulu?," tawar Bu susi.
"asik aku memang dari tadi laa....,"mei tak melanjutkan kata-katanya karena langsung di bungkam dengan tangan sendi.
"lain kali saja Bu, kami permisi dulu," ucap sendi sopan masih tetap membungkam mulut mei itu.
"baiklah hati-hati," ucap Bu susi tersenyum.
ketika mei dan sendi melangkah pergi, Seno pun beranjak dari duduknya.
"kau mau kemana?," tanya Bu susi.
"aku pulang bareng mereka Bu," ucap Seno datar.
"baiklah hati-hati," ucap Bu susi.
__ADS_1
lalu sendi, mei dan Seno pun berjalan beriringan.