
"kenapa kau membawa wanita ku pergi? aku membawanya kemari karena aku menginginkan dirinya," ucap pria itu dengan berdiri sempoyongan khas orang mabuk.
Sendi tak menggubris perkataan pria itu, ia kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari bar tersebut, masih dengan menggenggam lengan Mei hingga membuat Mei mengikuti langkah Sendi. semua mata memandang ke arah mereka, namun Sendi sama sekali tak memperdulikannya dan tetap gontai melangkahkan kakinya. sedangkan Mei yang berada di samping Sendi tampak menundukkan kepalanya merasa malu karena di telah menjadi bahan tontonan.
"sialan,"
meskipun mereka berdua sudah berada di luar bar, Sendi masih terus melangkahkan kakinya hingga ia berhenti tepat di bangku panjang yang berada di depan toko yang terlihat sudah tutup. Sendi mendudukkan dirinya di atas bangku panjang itu setelah ia melepaskan genggamannya pada lengan Mei tadi. sedangkan Mei, ia masih setia berdiri dengan badan yang menghadap Sendi dan menatapnya tajam.
Mei mendengus kasar, hingga amarahnya juga ikut terbuang di sana, "aku tidak mengenal dirimu," Sendi yang semula menundukkan kepalanya dengan menatap kosong, seketika mendongakkan kepalanya dan menatap Mei lekat ketika wanita di hadapannya itu tiba-tiba berucap seperti itu. ia begitu terkesiap dengan kata-kata Mei yang terlontar dari mulutnya. jujur hatinya mencelos ketika orang yang ia sayang berucap seperti itu. mungkin menurut orang lain kata-kata itu biasa, namun bagi Sendi kata-kata itu seperti menampar dirinya.
"kita tidak saling mengenal. namun kenapa ketika kamu hadir di sini, kamu mau merusak semuanya?," sambungnya dengan suara pelan, namun begitu menusuk relung hati Sendi.
cukup lama mereka terdiam, hingga akhirnya Sendi beranjak berdiri dan menghadapkan tubuhnya di hadapan Mei. "apa menurutmu aku sudah merusak semuanya?," tanya Sendi akhirnya setelah ia sedari tadi diam.
"ya, kau sudah merusak semuanya. kau bukan siapa-siapa, tapi kau berani mengacaukan hidupku bahkan ikut campur dalam urusanku," ucap Mei dengan kedua tangan yang kemudian ia lipat di depan dada. ia sungguh geram sekali dengan pria di hadapannya ini.
"apa kau tau? karena ulahmu tadi aku jadi kehilangan uang dari bapak itu tadi," ucap Mei dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
Sendi tampak menghela nafasnya kasar, tatapannya yang semula menatap Mei dingin, berubah menjadi sendu, "jangan dekat-dekat dengan orang lain. aku mudah curiga, aku gampang cemburu. jadi ku harap kau tidak akan begitu," ucapnya memberat, kata-kata yang semula hanya tercekat di tenggorokan nya pun sekarang bisa ia ucapkan.
Mei yang mendengarnya mengernyitkan keningnya merasa bingung. ia melepaskan lipatan tangannya masih dengan kening yang mengerut, "aku tidak tau apa yang kau ucapkan barusan," ucapnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, "tapi ku minta jangan ikut campur urusanku. kau, bukan siapa-siapa," ucapnya menegaskan dengan jari telunjuknya. setelah mengatakan itu, Mei melangkah pergi meninggalkan Sendi yang masih setia berdiri dengan memandangi tubuhnya.
bumi serasa ingin runtuh, hari ini dunianya hancur seketika tanpa persiapan apapun. Sendi mendudukkan tubuhnya di kursi panjang itu karena kakinya seakan tak mampu untuk menopang tubuhnya. Sendi tidak tau bagaimana caranya untuk mengembalikan ingatan Mei, Mei telah menganggap dirinya sebagai orang asing.
namun baru beberapa langkah Mei berjalan, ia menghentikan langkahnya dan sedikit memutarkan lehernya menoleh ke arah Sendi yang tengah duduk dengan punggung yang ia sandarkan di kursi panjang tersebut dengan memejamkan matanya. tampak begitu jelas raut wajah pria itu yang tampak kacau menandakan ia sedang tidak baik-baik saja.
raut wajah Mei yang semula kesal berubah menjadi sendu, entahlah kenapa ia begitu merasa sangat bersalah ketika melihat pria sedang tidak baik-baik saja, yang pastinya karena ucapannya tadi yang mungkin mengena di hati Sendi. tapi apa yang salah dari perkataannya? bukankah pria yang tengah ia pandangi itu adalah orang asing baginya karena pria mesum itu tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan selalu ikut campur dengan urusan hidupnya.
mata Sendi yang semula masih terpejam pun perlahan ia buka ketika dirinya merasakan bangku yang ia tengah duduki sedikit bergoyang seperti ada yang duduk di sebelahnya. ia memandangi wajah Mei yang juga tengah menatapnya. tatapan Sendi yang teduh membuat hati Mei sedikit bergetar.
"apa kau merasa sakit hati karena ucapanku tadi?" tanya Mei dengan hati-hati.
Sendi mengerutkan keningnya, lalu wajahnya kembali berubah datar. "menurutmu?," Sendi malah bertanya balik hingga membuat Mei sedikit kebingungan.
"aku rasa seperti itu ketika aku melihat wajahmu yang begitu kacau. kemungkinan kau tersinggung dengan ucapanku tadi,"
__ADS_1
Sendi sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Mei hingga membuat mata Mei membulat seketika, "aku tersinggung dengan ucapanmu tadi," ucapnya tenang. namun tidak dengan Mei, ia merasa merinding ketika nafas Sendi berhembus hingga menerpa kulit wajahnya. hatinya seketika berdesir ketika jarak mereka yang begitu dekat.
Mei segera menjauhkan wajahnya dan sedikit menggeser duduknya agar jarak di antara mereka tidak terlalu dekat. "kita baru saling mengenal, namun kenapa kau seperti sudah mengenaliku sejak lama?" tanya Mei dengan kening yang berkerut heran. namun Mei terkejut bukan main ketika mendengar jawaban pria di hadapannya itu kemudian.
"karena dulu kita saling mencintai, bahkan sampai sekarang ini aku yakin perasaanmu terhadapku masih sama seperti dulu," ucap Sendi.
seberusaha mungkin Mei bersikap dengan tenang. ia sungguh tidak habis pikir dengan pria mesum di hadapannya itu. "kau dan saudaramu itu sama-sama tampan, tapi sepertinya aku lebih tertarik dengan saudaramu itu," ucap Mei dengan mengulas senyum. pikirannya melayang membayangkan wajah tampan Seno yang tiba-tiba mengisi pikirannya.
Sendi yang mendengarnya pun berdecak kesal. "Seno memang lebih baik daripada aku. tapi kau lebih mencintaiku ketimbang dirinya," setelah mengatakan itu, Sendi pun beranjak dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Mei yang masih duduk di sana.
Mei mendengus kesal, ia tidak terima ketika pria mesum itu mengacuhkannya. lalu ia beranjak berdiri dengan sekali menghentakkan kakinya ke tanah dan berlari mengejar Sendi yang masih tak jauh dari jangkauannya. Mei segera mensjajarkan langkahnya di sebelah Sendi yang matanya tetap fokus menatap ke depan dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
ekor mata Sendi sesekali melirik ke arah Mei yang wajahnya tampak di tekuk. kedua sudut bibirnya terangkat mengulas senyum. ah, ia benar-benar merindukan malaikatnya. dan tanpa sadar, tangan Sendi mengusap-usap puncak kepala Mei sayang.
*****
note author: btw, thanks suportnya readers. salam sayang dari aku ^_^
__ADS_1