
*jangan lupa like, coment, and vote.
Sendi mengurut pangkal hidungnya yang terasa pusing, wanita benar-benar membingungkan. apa maksudnya? kenapa Tara tadi berucap seolah dia mengetahui tentang Dirinya? pikirnya.
"pikiran yang kemana-mana, tapi aku nya yang capek," gumamnya masih dengan tangan yang mengurut pangkal hidungnya.
lalu Sendi merebahkan dirinya di ranjang pasien dan memejamkan matanya, dan tak beberapa lama ia pun tertidur karena rasa pusing yang menjalar di kepalanya, di tambah lagi dengan rasa nyeri yang ada di pelipisnya.
di tempat lain, Miko dan Sinta tengah ada di sudut sekolah yang tampak sepi. Miko melangkahkan kakinya selangkah mendekat ke arah Sinta, dan Sinta refleks mundur selangkah hingga tubuhnya terbentur dinding yang ada di belakangnya. entahlah tatapan Miko nampak berbeda, seperti ada kemarahan dan cinta yang mencampur jadi satu di sana.
"entahlah aku harus menyesal atau bagaimana, aku sungguh tidak tau. tapi yang saat ini aku ketahui adalah, hatimu masih milik orang lain, bukan untukku," ucap Miko dengan suaranya yang terdengar memberat.
"apa kau masih mengharapkan dirinya?," tanyanya yang seketika membuat Sinta terisak menahan tangis.
Sinta mengalihkan pandangannya ke bawah, ia sungguh tidak ingin Miko melihatnya menangis. namun tetap saja air mata itu menetes begitu saja tanpa di minta.
Miko meraih dagu Sinta agar Sinta menghadap ke arahnya, lalu menatap lekat kedua mata Sinta yang sembab. "jawab pertanyaanku," pekiknya.
"kenapa kau ingin sekali mengetahui jawaban dariku?," ucap Sinta membalas tatapan Miko.
Miko sejenak tertegun, namun kembali bersuara, "agar aku tidak terlalu memaksamu untuk tetap ada di sampingku. aku hanya ingin melihatmu bahagia dengan pria pilihanmu Sinta. aku juga tidak ingin menjalin hubungan ketika yang satu sibuk menata, namun yang lain malah sibuk menghancurkan," terlihat sekali sorot mata Miko yang terluka ketika ia mengucapkan itu.
"Sinta, perasaan bukan untuk dijadikan bahan percobaan," sambungnya dengan menatap lekat kedua bola mata Sinta.
__ADS_1
Sinta tak mampu menjawab ucapan Miko. lidahnya kelu, hingga ia tak mampu melontarkan kalimat yang hendak ia katakan pada pria di depannya itu.
hening
keduanya saling diam, seakan mereka saling beradu dengan pikiran mereka masing-masing. lalu Miko berbalik dan pergi tanpa pamit. Sinta yang tersadar hanya diam menatap punggung Miko yang perlahan tak terlihat lagi karena terhalang dinding pembatas. sungguh dirinya tak tau harus bagaimana, hatinya sungguh bimbang karena jujur ia masih menyukai Sendi, namun dirinya juga tidak bisa melepaskan Miko yang dulu telah membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
*****
di dalam kelas, Seno yang tengah menelungkup kan kepalanya di atas meja dengan wajahnya yang menghadap ke arah pintu kelas, tampak dari sana terlihat Miko yang berjalan gontai dan duduk di kursinya. terlihat sekali wajah Miko yang tampak di tekuk, menyiratkan bahwa pria di hadapannya itu sedang tidak baik-baik saja. namun Seno tak memperdulikan itu.
lalu Seno mengangkat kepalanya dan beranjak dari duduknya menghampiri Miko yang tengah memijit pelipisnya. Seno berdiri dengan punggung yang ia sandarkan pada meja Miko, dengan mata yang tak lepas menatap wajah Miko. Miko yang tersadar akan kehadiran Seno pun segera duduk tegak dengan menyandarkan punggungnya pada kursi agar dapat leluasa menatap wajah Seno.
dari tatapan Seno yang tajam dan penuh tanya, membuat Miko mengerti apa maksud kedatangan Seno kemari.
Seno yang seketika mengingat sesuatu, langsung bersuara, " Sendi mabuk semalam. dan sepertinya dia tak mengingat apapun tentang kejadian semalam," ucap Seno yakin.
Miko memejamkan mata sebentar, lalu kembali menatap Seno. "iya, semalam aku juga tak menyadari kalau Sendi tengah mabuk. ku kira Sendi tengah bertemu dengan Sinta dan karena emosi, semalam aku memukulnya,"
Seno tampak menganggukkan kepalanya," pantas saja kulihat bibirnya sedikit robek. dan sekarang, kau sudah tau kebenarannya kan?," tanyanya pada Miko.
Miko menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, lalu Seno menepuk pundak Miko beberapa kali. emosi Seno yang semula tertuju pada Miko, kini telah menghilang ketika ia sudah tau kebenarannya.
tak terasa bel pulang telah berbunyi. Seno yang mendengarnya pun segera berjalan ke arah tempat duduknya dan segera mengemasi alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas. setelah selesai, ia pun beranjak dari duduknya dengan tangan kanannya yang menyaut tas Sendi yang tergeletak di kursi sebelah Sinta. sebelum Seno hendak meninggalkan kelas, ia terlebih dahulu menghampiri Tara yang tengah duduk di sembari mengobrol dengan teman-teman yang lainnya.
__ADS_1
"iya, aku pulang dulu ya," ucap Tara dengan melambaikan tangannya pada teman-teman bicaranya tadi setelah Seno mengajak Tara untuk pulang. setelah teman-teman nya mengiyakan, Tara pun mengambil tasnya yang terpajang rapi di kursi dan segera mengikuti langkah panjang Seno menuju ke ruang kesehatan untuk menemui Sendi.
sesampainya di sana, Seno dan Tara tidak masuk ke dalam ruangan, mereka memutuskan untuk berdiri di ambang pintu ketika mereka berdua melihat pak Johan yang tengah duduk di tepi ranjang dengan menatap Sendi yang juga tengah duduk dengan bersandar pada ranjang.
"maaf, aku bukanlah ayah yang baik buatmu. karena aku, selama ini kau dan Tyas hidup susah. seharusnya ketika kalian susah, aku ada di tengah-tengah kalian. tapi bodohnya aku malah menghilang, hingga ketika aku telah mengakui sebuah kesalahan, aku sudah kehilangan jejak langkah kalian," ucapan pak Johan itu yang pertama kali terdengar di telinga Seno dan Tara.
"itu sudah berlalu. dan sekarang, kita hanya perlu berjalan dengan menatap ke depan," ucap Sendi dengan menepiskan senyumnya, lalu ia beranjak berdiri menuju ke arah Seno dan Tara berdiri.
"kami pulang dulu yah," pamit Sendi dan Seno bersamaan, yang kemudian mendapat anggukan dari pak Johan. sedangkan Tara, ia menepiskan senyumnya dengan sedikit menundukkan kepalanya pada pak Johan.
*****
terlihat Sendi, Seno dan Tara tengah berjalan beriringan dengan Tara yang berada di tengah-tengah mereka. mereka bertiga tengah terlibat dalam obrolan.
"sekali lagi aku melihatmu melakukan seperti semalam, aku tak mau lagi menolongmu. menyusahkan saja" ucap Seno ketus. ucapannya barusan tertuju pada Sendi yang ada di sebelah Tara.
Sendi melirik sekilas ke arah Seno, lalu tatapannya kembali menghadap ke depan.
"biarkan saja, tidak setiap hari juga kan aku menyusahkan dirimu," ucapnya meledek hingga membuat Seno ingin menjitak kepala Sendi, namun di urungkannya karena Tara menghalangi.
sesampainya di depan rumah Tara, Tara menyuruh Sendi dan Seno untuk masuk ke dalam rumah dulu, dan mereka berdua pun mengiyakannya. sesampainya di ruang tamu, Sendi dan Seno pun duduk di sofa sembari menunggu Tara untuk berganti baju karena kemarin Tara sudah sepakat jika sehabis pulang sekolah, Tara akan melanjutkan pekerjaan paruh waktu di kafe Sendi.
"Sendi," panggil Seno saat ia melihat Sendi tengah sibuk dengan ponselnya. dan dengan segera, Sendi menoleh ke arah Seno. namun, matanya teralihkan ketika Sendi melihat seorang wanita yang tengah berjalan melewati mereka berdua.
__ADS_1
"Mei...," gumam Sendi hingga ucapannya menghentikan langkah wanita itu.