CINTA SMA

CINTA SMA
Pencarian Sinta part 3


__ADS_3

Mereka pun keluar dari mobil, dan mengitari area rumah yang nampak seram seperti yang dikatakan Malik. Rumah besar tanpa lampu penerangan, dan pepohonan dimana-mana membuat kesan itu adalah rumah hantu.


" Lepaskan..." suara teriakan terdengar dari kamar atas.


" Dit, kamu dengar suara wanita?" tanya Malik.


" Iya aku juga seperti mendengar suara wanita." ucap Fadli.


" Bulu kudukku berdiri." kata Malik yang mengusap-usap lengannya.


" Coba kalian berpencar." perintah Dito.


Lalu mereka berpencar, Dito bersama Malik sedang Fadli bersama bodyguard Dito yang bernama Aril.


Mereka menyalakan lampu ponsel nya, mencari letak muka pintu rumah.


" Dit, itu ada mobil. " kata Malik yang menunjukkan ke arah depan.


Walaupun mulut Malik seperti ibu-ibu komplek, namun dengan cepat dialah yang selalu lebih dulu menemui jejak.


" Lepaskan...." teriak suara wanita dari lantai atas.


" Dit, suara Sinta. Apa kau dengar?" kata Malik yang lagi-lagi menemukan jejak.


Dengan sigap mereka langsung menuju pintu, dan mendapati pintu yang terkunci. Pintu yang berukuran besar, dengan dua daun pintu.


Malik dan Dito langsung mencari Fadli dan Aril, karena ponsel mereka tidak berfungsi di dalam hutan.

__ADS_1


Setelah rasa sakit di kepunyaan nya mereda, Rio langsung bangun dan menghampiri Sinta.


" Percuma aja kamu teriak, gak akan ada orang yang mendengar. Karena seluruh rumah ini di kelilingi oleh pohon. Dan gak ada tetangga." kata Rio dengan tersenyum licik.


" Hap..." Rio menangkap Sinta, " Kini aku sudah mendapatkan mu. Mari kita bermain kasar." kata Rio yang langsung menggendong tubuh Sinta dan melemparkannya ke tempat tidur.


Rio langsung menindih nya, dan duduk di paha Sinta.


" Lepaskan aku, tolong....." teriak Sinta.


Kemudian Rio merobek kemeja Sinta, dan kancing bajunya terlepas semua. Rio mengunci kaki Sinta, agar dia tidak melakukan hal yang membuat kepunyaan nya sakit lagi.


Setelah merobek kemeja Sinta, Rio langsung mencium Sinta dengan paksa. Tangan Sinta pun di cengkeraman dengan keras.


" Kau ingin bermain kasar, akan aku lakukan." kata Rio yang terus mencumbu Sinta.


" Brak..." suara pintu kamar terbuka, dan nampak Dito sudah berdiri di depan pintu.


Dito melihat Rio yang sudah bertelanjang dada sedang menindih Sinta di atas tempat tidur.


Dengan geram dan penuh amarah Dito langsung menghampiri Rio.


" Sinta..." teriak Dito.


" Bug, bug .." tangan Dito beraksi melayangkan pukulan ke arah Rio.


Walaupun mereka berbeda jarak umur, namun badan Dito hampir sama dengan postur tubuh Rio.

__ADS_1


Fadli dan Malik pun memegang Rio yang ingin memukul Dito.


" Hey, kau Dit menganggu kesenangan ku aja." teriak Rio.


Lalu Rio dibawa oleh Fadli dan Malik serta Aril ke lantai bawah.


Dito menghampiri Sinta yang sedang menangis histeris. Rambutnya yang terurai dan acak-acakan juga baju yang sudah koyak. Dito memeluk Sinta dengan erat.


" Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu." kata Dito sambil memeluk Sinta.


Sinta pun mengeratkan pelukannya karena merasa takut kehormatan nya akan hilang.


Sinta masih terlihat syok, lalu Dito mencari jilbab Sinta. Dan memakai kannya, serta membuka jaketnya untuk Sinta pakai.


" Pakailah, " kata Dito yang memakaikan jilbab, " Dan tutupi tubuh mu." Dito memakaikan jaket ke tubuh Sinta.


Terlihat Sinta masih menangis ketakutan, dia tidak bisa bangun dari tidurnya. Tubuhnya masih memeluk Dito dengan erat.


" Sin, aku sudah disini. Kau aman bersamaku. Jangan menangis lagi." kata Dito yang mengusap air mata yang membasahi pipi Sinta.


Terlihat sorot mata yang ketakutan, Sinta masih syok dengan kejadian yang dia alami. Dan Dito menemani nya sampai dia tenang.


-


-


Silakan like dan berikan komentar mu.

__ADS_1


__ADS_2